Koran Jakarta | August 22 2018
No Comments
Kuartal II -2018

Defisit Neraca Berjalan Naik Jadi 3%

Defisit Neraca Berjalan Naik Jadi 3%

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 tercatat 8,0 miliar dollar AS atau 3,0 persen PDB, lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dollar AS atau 2,2 persen Produk Domestik Bruto (PDB).


Menanggapi hal itu, ekonom Indef, Abdul Manap Pulungan, mengatakan dalam transaksi neraca berjalan terdapat tiga komponen yang paling penting, yaitu neraca barang, jasa, dan pendapatan.


“Nah, kalau neraca jasa dan pendapatan itu dari dulu kita sudah defisit. Belum pernah sejarahnya kita positif atau surplus,” kata Manap, di Jakarta, Jumat (10/8).


Sementara, neraca barang tertekan karena kenaikan harga minyak. Selain itu, beberapa ekspor komoditas banyak mendapatkan hambatan dari negara lain.


Di samping itu, produk impor barang konsumsi juga meningkat. “Jadi sudah kita ekspornya komoditas, terus menghadapi tantangan dari negara lain. Di satu sisi minyak naik. Jadi bertubi-tubi nih tekanan terhadap kinerja neraca barang,” kata dia.


Manap melanjutkan, kinerja transaksi neraca berjalan, terutama barang yang bisa diandalkan kian terseok-seok manakala Indonesia adalah net importir minyak.

Sementara, harga minyak di dunia tengah naik. Adapun neraca jasa dan pendapatan tak kalah sulitnya untuk mencetak surplus karena ketergantungan terhadap modal asing.


“Jadi, isinya di neraca jasa itu kan kayak konsultan asing, terus penggunaan sumber daya asing.

Sedangkan di neraca pendapatan itu hasil dari investasi PMA, terus portofolio. Jadi pada saat tertentu, dia akan keluar lagi dalam bentuk pendapatan untuk orang asing,” lanjutnya.


Lebih jauh, Manap juga berkomentar soal dampak defisit transaksi berjalan terhadap nilai tukar rupiah.

Menurutnya, kalau neraca transaksi berjalan defisit, artinya aliran dollar lebih banyak keluar daripada yang masuk. Pada saat itu, praktis ketersediaan dollar di domestik akan turun. “Sehingga akan berpotensi menekan rupiah,” kata Manap.


Untuk mengatasi persoalan ini, kata Manap, salah satunya menyetop proyek infrastruktur. Karena memang sebagian besar menggunakan barang impor.

“Di satu sisi, industri sudah butuh bahan baku dan modal ditambah lagi, kebutuhan infrastruktur mengambil dari impor,” katanya.


Perdagangan Non-migas


Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik BI, Yati Kurniati, mengatakan defisit transaksi berjalan tersebut lebih tinggi dibandingkan pada kuartal I 2018.

“Defisit transaksi pada kuartal sebelumnya sebesar 5,7 miliar dollar AS atau 2,2 persen dari PDB,” kata Yati dalam jumpa pers di Gedung BI, Jakarta, Jumat (10/8).


Lebih lanjut, Yati menjelaskan penyebab kenaikan defisit transaksi berjalan tersebut. Hal utama yang memengaruhinya adalah adanya penurunan surplus neraca perdagangan non-migas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.


“Penurunan surplus neraca perdagangan non-migas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor non-migas yang turun,” jelas dia


Di dalam catatan BI, surplus neraca perdagangan non-migas pada kuartal II 2018 hanya sebesar tiga miliar dollar AS. Angka tersebut lebih rendah dari kuartal I 2018 yang mencapai 4,7 miliar dollar AS.

Kondisi tersebut sejalan dengan peningkatan defisit neraca perdagangan migas sebesar 2,7 miliar dollar AS.


“Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat Lebaran dan libur sekolah,” sambung Yati.


Namun demikian, Yati menegaskan bahwa defisit transaksi berjalan itu masih dalam batas aman hingga semester I 2018, lantaran berada di bawah 3 persen dari PDB “ Defisit transaksi berjalan masih 2,6 persen terhadap PBD sampai semester I 2018.

Masih aman, yang jelas peningkatan defisit ini karena diikuti peningkatan kegiatan ekonomi,” pungkas dia. ahm/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment