Dedikasi Tiada Henti Seorang Mira | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Dedikasi Tiada Henti Seorang Mira

Dedikasi Tiada Henti Seorang Mira

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Mira bukan wanita biasa, tetapi sungguh perempuan luar biasa. Pengabdian dan pengorbanannya untuk kemanusiaan, khususnya anak-anak dan remaja begitu terasa. Ia meninggalkan jejak yang sulit untuk dihapus, apalagi bagi organisasi CISV (dulu Children International Summer Village). Nama Mira memang tidak bisa lepas dari awal pendirian, 1991 hingga perkembangan CISV saat ini. Buku ini menggambarkan betapa peran dan kiprah perempuan bernama lengkap Lidwin Mira Wisendha ini memang luar biasa. Kisah masa kecil, remaja, dan dewasa, dokter gigi, sampai rumah tangga.

Dia terus mengabdikan diri bagi kemajuan umat manusia melalui berbagai kegiatan dan aktivitas organisasi, terutama di CISV . Dibagi dalam dua bagian besar, buku ini mudah dicerna. Pertama, “Mira yang Tak Pernah Berhenti” membahas tentang siklus perjalana hidup mulai kelahiran, 26 Maret 1954, masa kecil, hingga meninggal 26 Juni 2018 penyakit kanker payudara yang diderita sejak 1994. Bagian ini ditutup tulisan putra tercinta Mira, Hanno, berjudul Ungkapan untuk Ibu (halaman 73).

Pada bagian kedua, pembaca diajak menyelami beragam pengalaman dan interaksi keluarga, sahabat, murid, dan sesama kolega CISV. Dari judul tulisan hingga isi yang diungkapkan para penyumbang tulisan bagaian ini terasa begitu kuat kesan mendalam, Mira adalah pribadi mengesankan. Jejak kehidupan Mira, pengabdian, dan konsistensinya untuk terus memajukan organisasi yang dibidani menjadi teladan generasi penerus. Sekadar memberi contoh judul tulisan yang menggambarkan sosok Mira antara lain Bunga yang Mekar Sepanjang Waktu karya Romo Riyo Mursanto, SJ (halaman 78). Ada juga Belajar dari Mira tulisan Joice Marulam (halaman 113), Mira Sang Motivator yang Persuasif karya Naniek A Rachman (halaman 121), dan Guru Tanpa Menggurui yang ditulis Sri A Dahana (halaman 127). Dokumentasi foto pun sangat lengkap dari awal kisah Mira hingga akhir kehidupan. Penyajian juga pas dengan kisah.

Dalam konteks ini, peran dokumentasi memang sangat mendukung, apalagi tata letak membuat pembaca ingin terus membaca. Membaca buku terasa sekali tengah menyelami kehidupan Mira yang penuh perjuangan dan dedikasi bagi sesama. Di saat penyakitnya makin melemahkan tubuhnya, Mira tak mau menyerah. Sebagai salah satu anggota organisasi dan pengurus CISV Chapter Cenderawasih, kehadirannya dapat dirasakan betul. Buku ini terlalu singkat, terlalu cepat untuk habis dibaca.

Salah satu tulisan sahabat, yakni Joice Marulam, yang akrab disapa Bu Jo mengingatkan pentingnya CISV membiasakan mengabadikan semua aktivitas dalam bentuk buku. Bu Jo terkesan mendalam saat bersama Mira dan sahabat lain menerbitkan buku 20 tahun CISV. Menurut Mira, seperti ditulis Bu Jo, jejak sejarah ini harus ditulis agar orang tahu, CISV hadir di Indonesia (halaman 114-115). Mira sudah tiada. Semua jejak yang ditinggalkan membekas bagi keluarga dan semua sahabat.

Kata Bu Jo, pasti, ada rasa kehilangan, khususnya untuk perhatian-perhatian khusus yang selalu diberikan Mira di hari-hari spesial keluarga kami: hari ulang tahun, Natal, Tahun Baru, perkawinan, kelahiran Alka cucu kami, dan banyak lagi. Mira mengajarkan hubungan persaudaraan harus dirajut dan dirawat dengan cinta. Terima kasih Bu Mira dan pejuangpejuang sosial di CISV. Berkat keikutsertaan anak-anak kami dalam program CISV, ketiga anak kami menjadi pribadi yang mandiri, terbuka, dan selalu siap menghadapi tantangan.

Diresensi Suradi,SS, Wartawan Koran Jakarta

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment