Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Laporan WEF 2019

Daya Saing Indonesia Anjlok 5 Peringkat

Daya Saing Indonesia Anjlok 5 Peringkat

Foto : Sumber: The Global Competitiveness Report 2019
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Forum Eko­nomi Dunia (World Economic Forum/WEF) dalam laporan tahunan terbaru tentang In­deks Daya Saing Global atau Global Competitiveness Index (GCI) Report 2019 menurun­kan posisi Indonesia sebanyak lima peringkat dari posisi ke-45 menjadi ke-50.

“Penurunan secara keselu­ruhan skor GCI masih kecil dan kinerja pada dasarnya ti­dak berubah,” tulis laporan tersebut yang dipublikasikan pada Rabu (9/10).

Dalam laporan itu, Singa­pura menduduki posisi per­tama di dunia, sebagai negara yang memiliki daya saing ter­baik dengan skor 84,8. Di Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi keempat setelah Singa­pura, Malaysia di peringkat 27 dan Thailand 40, sedangkan Fi­lipina di peringkat 64 dan Viet­nam berada di peringkat 67.

Meski berada di bawah In­donesia, WEF menyebut Viet­nam merupakan negara yang memiliki indeks paling me­ningkat dengan skor naik 3,5 menjadi 61,5 dengan posisi melompati 10 level, dari posisi sebelumnya di peringkat 77.

Sementara itu, Amerika Serikat turun dari posisi teratas, kalah dari Singapura yang me­lonjak ke posisi pertama. Se­telah keduanya, Hong Kong, Belanda, dan Swiss berada di deretan lima besar. Survei GCI mencatat adanya ketidakpas­tian yang tumbuh di antara para pemimpin bisnis dan me­nyebutkan keterbukaan perdagangan telah menurun.

WEF memfokuskan lapor­annya pada pertumbuhan pro­duktivitas yang rendah yang terus berlanjut dalam satu dekade setelah krisis keuangan dan menyebut ini sebagai per­tanyaan senilai 10 triliun dol­lar AS, setara jumlah yang disuntikkan oleh empat bank sentral utama dunia hingga tahun 2017. Sejalan dengan yang lain, pandangannya WEF adalah meskipun stimulus moneter membantu menarik ekonomi global dari resesi, itu bukan solusi untuk semua masalah.

Stabilitas Ekonomi

Disebutkan, kekuatan uta­ma Indonesia adalah pasarnya dengan nilai 82,4 dan stabili­tas ekonomi dengan nilai 90. Selain itu, mencermati kiner­ja dalam indikator lain pada indeks, WEF menilai masih ada ruang bagi Indonesia un­tuk peningkatan poin 30–40, meskipun tidak ada hambatan utama.

WEF menyebutkan bahwa Indonesia mengedepankan semangat budaya bisnis dengan skor 69,6 dan sistem keuangan yang stabil mencapai nilai 64, keduanya meningkat selama tahun 2018.

Sementara itu, adopsi tek­nologi tinggi mencapai skor 55,4, mengingat pembangunan dan kualitas aksesnya masih relatif rendah. Sedangkan ter­kait kapasitas inovasi Indone­sia, WEF menilai sudah ber­tumbuh meski masih terbatas dengan skor 37,7.

Menanggapi penurunan indeks daya saing Indonesia ter­sebut, Menteri Koordinator Per­ekonomian, Darmin Nasution, mengaku belum membacanya. “Saya mesti baca dulu laporan­nya,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Core, Mohammad Faisal, mengatakan hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa Indonesia kalah ce­pat dibandingkan negara lain dalam meningkatkan daya saing, tetapi juga menggam­barkan Indonesia hanya ung­gul dalam aspek ukuran pasar domestik.

“Kelemahan daya saing kita yang paling besar kalau dilihat indikator-indikatornya salah satunya memang dalam hal inovasi, adopsi teknologi in­formasi, dan ketenagakerjaan,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, pene­liti Indef, Bhima Yudhistira, menilai penurunan daya saing Indonesia pada level global di­sebabkan hambatan regulasi, kurang siapnya sumber daya manusia (SDM), kurangnya ak­ses internet di luar Jawa, serta ketersediaan air bersih yang belum merata. Ant/YK/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment