Daya Jaring Sistem Baru Penilaian SBMPTN Lebih Tajam | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2020
No Comments
Penerimaan Mahasiswa | Menutup Potensi “Gambling” dalam Menjawab Soal

Daya Jaring Sistem Baru Penilaian SBMPTN Lebih Tajam

Daya Jaring Sistem Baru Penilaian SBMPTN Lebih Tajam

Foto : ISTIMEWA
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mo­hamad Nasir.
A   A   A   Pengaturan Font
Sistem penilaian baru di SBMPTN akan menuntut siswa menjawab dengan benar, bukan sekadar coba-coba. Tidak ada lagi unsur gambling.

 

JAKARTA - Sistem penilaian baru dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Ne­geri (SBMPTN) 2018 akan me­ngurangi peluang siswa untuk “untung-untungan” dalam menjawab soal. Sistem ini akan lebih tajam dalam menjaring siswa potensial.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mo­hamad Nasir, mengatakan su­dah saatnya meninggalkan sis­tem penilaian model lama yang digunakan di tahun-tahun se­belumnya. Sistem lama, menu­rut Nasir, minim asas keadilan, terutama bagi siswa-siswa yang benar-benar pintar.

“Sudahlah, sistem penilaian seperti ini sudah saatnya di­tinggalkan, kalau semua soal diberi bobot yang sama maka tidak ada keadilan dalam nilai,” kata Nasir, di Jakarta, Selasa (10/4).

Sistem penilaian baru akan menuntut siswa menjawab dengan benar, bukan sekadar coba-coba. “Harapannya agar tidak ada lagi unsur gambling,” tegas Nasir.

Menurur Nasir, sistem baru ini hanya mengakui adanya jawaban benar dan salah, se­dangkan penentu bobot ja­waban mana yang lebih tinggi akan dinilai pada proses peni­laian berikutnya di tahap ke­dua.

Nilai-nilai di tahap pertama, kata Nasir, akan diolah lagi dengan menggunakan pem­bobotan soal. Soal-soal yang banyak siswa gagal menjawab akam dikategorikan sebagai soal sulit, dan sebaliknya.

“Kalau ini dilakukan, maka nilai saya 80 dengan teman lain yang juga 80 akan dilihat siswa mana yang mampu menjawab soal sulit lebih banyak,” papar mantan Rektor Terpilih Univer­sitas Diponegoro ini.

Nasir menjamin, sistem ini tidak merugikan siswa. Bah­kan, sistem ini akan mampu menjaring siswa yang berkua­litas pada peringkat yang ber­peluang lolos seleksi. “Tingkat kesulitan soal yang akan kita lakukan. Jadi nanti dianalisis lagi,” ujarnya.

Penuhi Kaidah

Sementara itu, pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Said Hamid Hasan, mengatakan siswa tidak perlu khawatir dengan sistem peni­laian baru ini. Sistem ini justru lebih memenuhi kaidah dan standar penilaian yang be­nar. Said juga menilai sosiali­sasi yang terlalu mendadak ini tidak terlalu berpengaruh pada kesiapan siswa. “Karena peserta tidak menjawab ber­dasarkan sistem scoring,” tegas dia.

Sistem baru bisa diterap­kan, sepanjang tidak menerap­kan minus satu untuk jawaban salah. “Yang harus dicegah ja­ngan ada penalti minus 1 untuk jawaban salah,” ujarnya.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemristekdikti, Intan Ahmad mengatakan, sistem penilaian baru ini sudah melalui kajian mendalam yang dilakukan oleh para ahli. Bahkan sejumlah ne­gara maju telah memakai sis­tem penilaian ini agar seleksi mahasiswa baru bisa dilakukan lebih adil.  

“Jadi, pemberian nilai plus minus ditinggalkan sedangkan tahun ini yang tidak menjawab dan salah akan mendapat nol,” tegas Guru Besar ITB ini.

Sebagai ilustrasi, kata Intan, jika semula di satu perguruan tinggi hanya menerima 200 ma­hasiswa baru nanti calon ma­hasiswa yang potensial masuk akan banyak sekali. “Tetapi de­ngan Item Response Theory ini akan lebih tajam kemampuan­nya untuk melihat mana antara satu peserta dengan yang lain­nya yang lebih tinggi kualitas­nya,” tandas Intan.

Melalui perhitungan matematika, misalnya, yang menentukan soal tersebut sulit atau mudah bukan lagi pem­buat soal. Melainkan seluruh peserta, dilihat dari banyak tidaknya soal yang dijawab de­ngan benar.

Perubahan sistem penilaian ini pun, katanya, sesuai arahan Menristekdikti yang meminta ada perbaikan dari seleksi pe­nerimaan mahasiswa baru se­tiap tahunnya. ‘’Kami memberi semangat kepada para peserta bahwa jangan perlu khawatir sebab sistem ini amat objektif,’’ pungkas Intan. cit/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment