Koran Jakarta | June 23 2018
No Comments

Dapat Duit dari Iklan “Offline”

Dapat Duit dari Iklan “Offline”

Foto : Istimewa
Pengembang aplikasi optimistis dengan pasar iklan offline. Platform ini memanfaatkan teknologi image recognition dan data analysis untuk optimasi campaign, serta mengukur brand awareness dan exposure dari sebuah kampanye atau promosi
A   A   A   Pengaturan Font

Iklan offline masih cukup efektif untuk menarik perhatian konsumen. Dengan akurasi yang dapat diukur dengan teknologi pelacakan, iklan semacam ini menawarkan peluang pendapatan bagi influencer.

Pada sebuah kondisi, iklan akan efektif ketika melibatkan brand ambassador yang bertindak sebagai influencer. Orang ini dapat melakukan advokasi terhadap merek yang disukai, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap merek yang ditawarkan.

Start up ADSvokat yang dikembangkan oleh mantan CEO OLX Daniel Tumiwa ingin menjadikan anak muda menjadi “brand ambassador,” dengan menghubungkan merek sebagai pengiklan yang disebut dengan ADSvertiser dengan kaum muda pecinta merek atau ADSvokator.

ADSvokat merupakan inovasi medium iklan Out-of-Home (OOH) yang terintegrasi secara digital dan non-digital. Platform ini mengajak kaum muda berpartisipasi aktif dalam mempromosikan merek favoritnya, di lingkungan sekitar. “Era media sosial membuat siapa saja bisa menjadi ambassador dari sebuah brand,” ujar Chief ADSvokator dari ADSvokat Daniel Tumiwa di Jakarta, Selasa (7/3).

Merek yang menjadi ADSvokator dari brand pilihannya, ditantang untuk menempelkan stiker dari merek pada mobil, motor, helm, kaos, bodi belakang ponsel, atau laptop miliknya. Mereka harus melakukan selfie dan mengunggahnya di akun media sosial pribadi, layaknya seorang influencer atau selebgram.

Mengapa dengan cara offline? Menurut Daniel, Adsvokat memanfaatkan peluang iklan online to offline (O2O) yang mulai ditinggalkan perusahaan periklanan. Mereka kebanyakan saat ini fokus ke segmen digital, sehingga pemainnya iklan offlinemenjadi jarang. “Padahal medium advertisingtradisional dari dulu hingga ke depannya masih efektif,” ujar dia.

Iklan offline ditinggalkan karena belum ada pengukuran yang akurat. “Kami menggunakan teknologi Android yang dilengkapi dengantracking system yang memungkinkan ADSvokat untuk melakukan pengecekan lokasi dan durasi penggunaannya," ujar Chief Technology Officersekaligus pendiri ADSvokat, Heru Herlambang.

Heru menambahkan, ke depan, aplikasi akan dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi image recognition dan data analysis untuk optimasi campaign, serta mengukur brand awareness dan exposure dari sebuah kampanye. Hal ini akan semakin mempermudah merek untuk melihat lebih jauh produk mereka di mata ADSvokator.

Sampai saat ini, ADSvokat telah berkaloborasi dengan empat merek besar, yaitu, Tokopedia, Clear, Telkomsel Loop, dan lainnya. MenurutChief Operations Officer sekaligus Co-Founder dari ADSvokat Achmad Moesadad Shatarie,  sudah ada 8.000 stiker yang sudah diterima oleh mahasiswa, sebanyak 4.000 diantaranya sudah bergabung dalam ADSvokat dan 2.000 mahasiswa sudah menjadi daily active users.

Daniel mengatakan, target pengguna ADSvokat adalah 5,8 juta mahasiswa, dan diharapkan sekitar 60.000 mahasiswa dan mahasiswi untuk menjadi pengguna aktif dari aplikasi tersebut tahun ini. Mereka diharapkan tidak hanya menggunakan media sosial sekedar untuk berinteraksi, namun juga dapat menghasilkan uang saku.

Achmad juga menyebutkan selama dua minggu terakhir, sudah ada sebanyak 8000 stiker yang sudah diterima oleh mahasiswa, 4000 diantaranya sudah bergabung dalam ADSvokat dan 2000 mahasiswa sudah menjadi daily active users dari ADSvokat.

Menurut Daniel, start-up semacam ADSvokat adalah sebuah hipotesis yang harus dibuktikan keberhasilannya, melalui pendanaan. Daniel melihat, banyak orang yang membangun start-up dengan rencana jangka pendek saja, padahal perlu skenario jangka panjang agar dapat terus bertahan dan berkembang. 

hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment