Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Riset dan Teknologi | Penggunaan Dana Riset Juga untuk Pengembangan SDM

Dana Abadi Riset Masih Perlu Ditingkatkan

Dana Abadi Riset Masih Perlu Ditingkatkan

Foto : ISTIMEWA
Kristanto Santo­sa
A   A   A   Pengaturan Font
Pendanaan menjadi tantangan untuk kontinuitas pengembangan riset dan inovasi dalam mendukung daya saing bangsa.

 

JAKARTA – Besaran dana abadi riset yang dianggarkan pemerintah sebesar 999 miliar rupiah 2019 masih perlu ting­katkan agar benar-benar mem­berikan dukungan dana yang kuat bagi pengembangan riset dan inovasi. Dengan besarnya dana abadi riset diharapkan pengembangan penelitian dan inovasi riset bisa berkelanjutan.

“Besarnya dana abadi riset itu ada harapan sedikit untuk membuat keberlanjutan,” kata Direktur Bussiness Innovation Center (BIC), Kristanto Santo­sa, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia mengatakan pendana­an menjadi tantangan untuk kontinuitas pengembangan riset dan inovasi dalam men­dukung daya saing bangsa In­donesia. “Alangkah bagusnya kalau pemerintah memicu, terus swastanya tergiur ikut berinvestasi, swasta sifat angg­arannya berkelanjutan sampai dapat untung,” tuturnya.

Kristanto menyebutkan pe­ngembangan inovasi mem­butuhkan keberlanjutan dan kepastian pendanaan. Inovasi bahkan membutuhkan berta­hun-tahun pendanaan untuk dapat memberikan hasil yang menguntungkan, sementara skema pendanaan sering kali sepotong-potong dalam hi­tungan satu atau dua tahun.

“Pendanaan yang sepotong-sepotong itu masalah besar, karena tidak ada jaminan. Mi­salnya, saya punya ide bagus kemudian mau jalan tahun de­pan tidak dapat anggaran lagi, saya harus puasa (melanjutkan penelitian dan pengembang­an) dulu. Proses inovasi tidak bisa berhenti di situ, ini ke­lemahan dalam sisi pendana­an,” papar dia.

Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidik­an Tinggi (Kemristekdikti) dan berbagai pemangku kepen­tingan mendorong penguatan pendanaan inovasi nasional dan pembiayaan penelitian dan pengembangan lewat dana abadi.

Direktur Sistem Inovasi Kemristekdikti, Ophirtus Sumule, mengatakan alokasi dana abadi riset yang dimulai pada 2019 akan memperkuat pendanaan untuk mendorong hasil riset menjadi inovasi yang masuk industri.

Pengalokasian dana abadi untuk inovasi dapat dikelola dengan mengacu, misalnya de­ngan pola kerangka pengguna­an dana untuk pengembangan sumber daya manusia, yakni LPDP dengan menggunakan lembaga independen.

Simposium Cendikia

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Ke­menterian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ke­menristekdikti), Anandho Wi­janarko, saat menutup Sim­posium Cendikia Kelas Dunia (SCKD) di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan SCKD me­rupakan “jembatan” bagi pe­neliti pemula untuk bermitra dengan peneliti luar negeri.

“Kami berharap dengan SCKD terus berlanjut, karena ini merupakan jembatan bagi peneliti pemula untuk bermi­tra dengan peneliti luar negeri,” ujar Anandho.

Menurut dia, jejaring yang dimiliki para diaspora sangat diperlukan untuk membantu peneliti muda dalam mengem­bangkan karirnya. Oleh karena itu, pihaknya akan mengupaya­kan agar pelaksanaan SCKD te­rus berlanjut setiap tahunnya. Tahun ini merupakan tahun keempat pelaksanaan SCKD.

“Kami berharap para pe­neliti muda di Tanah Air bisa menjalin komunikasi yang baik dengan para senior di luar ne­geri,” tandasnya.

Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Alan Koro­pitan mengatakan, pihaknya berupaya untuk membuat ba­sis data siswa-siswa berbakat untuk menjadi peneliti, yang kemudian akan disekolahkan ke luar negeri.

“Dari hasil SCKD 2018 lalu, kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan dalam negeri telah menghasilkan 25 jurnal yang sedang dikaji, 30 jurnal yang sudah didaftarkan, 18 jurnal manuskrip, 35 jurnal yang sudah diterima, 28 prosiding, 90 jurnal yang sudah publikasi,dan 18 konferensi hingga kursus pen­dek di universitas terbaik dunia,” ungkapnya. ruf/Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment