Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Cinta Bisa Tumbuh di Segala Usia

Cinta Bisa Tumbuh di Segala Usia

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Cinta bisa tumbuh di segala usia. Bahkan ketika belum dinamai cinta. Cinta tumbuh di segala usia, bahkan sudah dimulai sejak masih balita—usia bawah lima tahun.

Kali ini seorang bocah, yang tak usah disebutkan namanya, berusia 4 tahun, masih sekolah di taman kanak-kanak di Changsha, Provinsi Hunan, Tiongkok. Sekolah itu juga dipergunakan sore hari.

Anak lelaki yang tak perlu diungkap jati dirinya, pada jam 17.00 menunggu dijemput orang tuanya. Namun ternyata, bisa menyelinap ke luar kompleks sekolah, melalui kompleks perumahan, menyusul bocah perempuan, teman sekolahnya, yang sudah dijemput orang tua.

Dia sudah bertualang. Begitu kalau dijudulkan dalam karya tulis. Dan memang sebuah petualangan untuk menemui “si jantung hati”. Walau sebenarnya sudah selalu ditemui di kelas, karena mereka satu kelas.

Namun apa daya, teman sekolah yang menarik perhatian ini, tak memberi respons menyenangkan. Dalam bahasa kanak-kanak, yang dimengerti sesama kanak-kanak, menyatakan tak mau didekati.

Si bocah lanang diharap pulang saja. Demikian gadis yang juga tak disebutkan namanya dalam berita meneruskan perjalanan pulang. Dan bocah yang mempunyai keinginan kuat itu, menurut penolakan, memilih pulang.

Tak mudah karena tak mengenali jalur bus, sehingga sempat berputar-putar sebelum akhirnya ditemukan sekitar pukul 20.00 sore. Dia sudah bertualangan. Walau hanya tiga jam. Dia sudah berani mengikuti pujaan hati.

Walau hanya di bus dan ditolak. Dia sudah menjadi berita, dan berita yang membuat senyum. Nyatanya menjadi berita. Ada daya tarik, ada yang baru untuk disampaikan. Usia mana saja yang memungkinkan untuk tertarik lawan jenis.

Terpesona, spontan dan nyaman karenanya. Berada dalam situasi yang mendebarkan, walau akhirnya ditolak. Dan tidak menjadikan pemaksaan karena kuasa, atau kekayaan, atau gabungan keduanya.

Cinta kanak-kanak lebih murni, lebih sebagai cinta, tanpa ukuran tertentu tentang sukses atau gagal. Saya senang berita yang bukan berita utama, bukan berita yang menimbulkan pro dan kontra, bukan berita yang menambah beban pikiran.

Kalaupun ada yang kena sanksi dalam kasus ini, adalah guru yang mengawasi, sehingga si bocah lanang bisa lolos dari kompleks sekolah.

Saya senang berita ini, karena menyajikan pelajaran yang lucu, yang haru, dan yang sesungguhnya banyak terjadi di sekeliling kita, asal kita mau membuka mata lebih lebar. Lebih dari itu bisa meneruskan teori:

bahwa cinta bisa tumbuh di segala usia, demikian juga cinta bisa ditolak di segala saat dan segala tempat. Dan mengembalikan sebagian kenangan yang pernah kita alami, yang samar-samar, tapi tak pernah benar-benar hilang. Cinta bisa ditolak, tapi kenangan mengawetkannya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment