Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments

Cerita tentang Lika-liku Mengasuh Anak

Cerita tentang Lika-liku Mengasuh Anak

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Happy Little Soul

Penulis : Retno Hening Palupi

Penerbit : Gagas Media

Cetakan : Keenam, 2017

Tebal : xiv+202 halaman

ISBN : 978-979-7808-86-0

Menyelami kasih sayang ibu untuk anak proses tanpa ujung. Banyak usaha untuk memberi yang terbaik buah hati. Itulah kira-kira isi buku Happy Little Soul. Layaknya buku parenting, banyak tip dan trik mengasuh anak dalam bacaan ini. Pembaca diajak “belajar bersama” memahami dunia anak dengan penuh cinta (hal vii).

Ada suka duka selama hamil. Ya, sewajarnya ibu dengan kehamilan pertamanya bercampur antara bahagia, cemas, dan harapan tinggi segera lahir buah hati.

Setelah kelahiran anak pertama bernama Kirana, tantangan belum berhenti. Bahkan, “petualangan” baru tersaji dengan segala kebimbangan dan kebingungan menjadi ibu sesungguhnya. Juga diungkapkan keteguhan memberi ASI eksklusif, dibedong atau tidak, pakai atau tanpa bedak pascamandi, digendong atau ditidurkan. Ia sadar benar sebagai ibu harus menjadi leader (hal 25). Ia harus belajar dan terus mencari informasi serta konsultasi kepada para ahli. Dia ingin menjadi contoh baik bagi anaknya.

Perkembangan anak harus terus didampingi sescara penuh. Seorang ibu tetap tak lepas dari keresahan dan bahkan ketidaksabaran dalam mengasuh anak mulai dari belajar merespons gerakan, memahami tangisan, mengajarkan berkomunikasi, membacakan cerita, hingga menyugesti diri sendiri bahwa anak akan merasa nyaman dengan perlakuan-perlakuan (hal 51).

Cerita tahapan pengasuhan anak dalam buku ini memang bukan sebuah panduan mutlak. Mengasuh anak tidak selalu soal teori. Bukankah setiap anak itu istimewa? Ada baiknya tidak memaksa anak menjadi master dalam semua. Mendampingi dan mengarahkan menjadi keniscayaan bagi setiap orang tua. Namun, praktik yang baik harus dipandu teori yang mendukung. Maka, belajar teori parenting kemudian disesuaikan dengan kondisi anak dan sekitarnya akan membantu memaksimalkan cara pengasuhan.

Melengkapi kisah, diselipkan juga tip pengasuhan dan mengajak pembaca menjadi orang tua kreatif. Misalnya, dengan membuat mainan sendiri dari bahan bekas sekitar rumah. Ini tentunya mengajak anak dalam membuat. Ciptakan suasana santai, terus berkomunikasi sepanjang kegiatan, dan tidak memaksa. Yang tidak kalah penting menemani bermain, sambil memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik. Ini termasuk yang terlihat sepele, namun sangat penting bagi anak kelak. Misalnya mengucapkan terima kasih, minta tolong, dan menyampaikan permintaan maaf (hal 114).

Menjadi ibu harus terus belajar dan terus menggali pengetahuan baru. Menjadi ibu sukses tidak cukup dengan capaian-capaian yang kasat mata ada dalam diri anak. Perlu diingat, menjadi ibu sebuah tanggung jawab. 

Diresensi Santi Pratiwi T Utami, Dosen Universitas Negeri Semarang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment