Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments

Cara Sukses Berinovasi di Era Milenial

Cara Sukses Berinovasi di Era Milenial
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Lead the Innovation Game

Penulis : Pambudi Sunarsihantoi

Tebal : xvi + 180 halaman

Penerbit : Kaifa

Cetakan : Oktober 2018

ISBN : 978–602- 487-001-0

Era milenial identik dengan perubahan sangat cepat. Saking cepatnya, acap kali terjadi disrupsi. Banyak perusahaan terjungkal disalip yang baru tiba-tiba melejit. Perusahaan besar tidak segera berubah bisa ambruk. Nokia dan Kodak dua di antara perusahaan besar yang kini tinggal nama. Telkom beruntung segera berubah dalam varian produk layanan. Sebelum telepon rumah yang merupakan produk andalannya digeser telepon genggam, Telkom berinovasi dengan layanan seluler bernama Telkomsel.

Berinovasi tidak mudah. Banyak perusahaan yang terjebak dalam zona nyaman produk lama. Buku ini memberi langkah-langkah konkret berinovasi. Ada deskripsi naratif untuk menjelaskan gagasannya. Lewat tokoh Andi, buku ini mengajak pembaca berpetualang menjadi inovator andal.

Alkisah, setelah sukses menjadi pengusaha restoran di Paris, Andi dituntut meninggalkan semuanya demi sang ibu yang sedang sakit. Dalam penerbangan pulang ke Indonesia, Andi bertemu Pak Joko, pengusaha ayam goreng yang mengalami kemerosotan. Setelah mengetahui rekam jejak bisnis Andi, Pak Joko memintanya untuk menyelamatkan bisnisnya yang sudah memiliki puluhan gerai dan ribuan karyawan di berbagai kota (hlm 20).

Andi segera membentuk tim yang terdiri dari anak muda akrab teknologi, ambisius pada perubahan, suka bereksperimen, dan lebih menyukai tantangan daripada uang. Ada empat prinsip kerja sama: saling belajar, menghargai kerja tim. Semua anggota tim harus berpartisipasi dan mempelajari kemampuan anggota tim lain. Dengan begitu, jika ada yang absen, pekerjaan mudah digantikan (hlm 34).

Untuk mendapat ide-ide inovatif, tim melakukan brainstorming. Selama seminggu ke depan, tim meneliti kemungkinan keberhasilan ide-ide yang muncul. Riset dan survei dirancang menjadi proposal yang akan dipresentasikan di depan dewan komisaris. Dewan biasa hidup di zona nyaman produk lama meragukan akan keberhasilan produk baru yang ditawarkan tim.

Kepada tim, Andi menegaskan bahwa semua penemuan baru yang mengubah dunia awalnya ditolak. Untuk diterima, dia harus diperjuangkan. Perlu perbaikan pendekatan dan penjelasan. “Tidak ada ide inovasi yang langsung dipuja tanpa mendapat kritik,” kata Andi (hlm 64). Mempraktikkan ide inovatif harus didasarkan pada adagium Think big start small, berpikir besar dengan mulai dari kecil. Jika memulai dengan modal besar, ternyata gagal, bisa bangkrut di awal. Sebab itu sebagai uji coba, Andi mendirikan lima gerai jenis kuliner di lima kota besar dengan modal kecil.

Setelah tiga bulan, lima gerai makanan tersebut tidak memberikan hasil signifikan. Andi segera mengumpulkan tim dan mengarahkan agar tetap optimis. “Kalau kalian mau jadi inovator, harus siap dengan mental baja, pantang menyerah! Kalian akan gagal berkali-kali, sebelum akhirnya berhasil,” katanya.

Setiap kerja inovatif pasti melalui tahap frustrasi. Banyak inovasi gagal duluan. Ratusan kali Thomas Alfa Edison bereksperimen sebelum menemukan bola lampu. Steve Jobs tidak langsung berhasil menemukan iPhone. Begitu pula Kolonel Sanders sewaktu meramu resep ayam goreng. Kegagalan menuntut evaluasi product, place, promotion, dan price (hlm 116).

Setelah mengalami tahap perbaikan, satu dari lima produk kuliner yang diluncurkan mendapatkan keuntungan besar sehingga menutupi kerugian empat produk sisanya. Satu produk sukses ini menjadi unggulan yang akan menginovasi produk bisnis Pak Joko.

Andi segera menunjuk salah satu timnya menjadi pemimpin menggantikan dirinya. Dia mengundurkan diri. Pemimpin sukses mampu melahirkan pemimpin-pemimpin sukses lain. Buku ini ditulis dalam bentuk kisah agar pembaca mudah memahami strategi inovasi di era milenial.

Diresensi Habibullah, Alumnus Pascasarjana UIN Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment