Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Kasus Suap

Bupati Ngada Diduga Terima Rp4,1 Miliar

Bupati Ngada Diduga Terima Rp4,1 Miliar

Foto : ANTARA/Aprillio Akbar
USAI DIPERIKSA - Bupati Ngada, Marianus Sae seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (12/2).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Setelah melakukan pemeriksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Sae (MSA), diduga menerima suap 4,1 miliar rupiah dari berbagai proyek di Kabupaten Ngada. KPK juga menetapkan kandidat calon kepala daerah NTT itu sebagai tahanan untuk 20 hari ke dapan.

Wakil Ketua KPK, Basaria Pandjaitan, mengatakan penangkapan terhadap Marianus bermula dari informasi masyarakat. Setelah itu, KPK menelusuri kebenaran informasi tersebut pada Minggu (11/2). Tim bergerak secara paralel ke tiga lokasi di Surabaya, Kupang, dan Bajawa, Kabupaten Ngada.

Bersama Marianus ditangkap juga empat orang lainnya. Namun, KPK baru menahan Marianus dan Wilhemus Iwan Ulumbu, Direktur Utama PT Sinar 99 Permai (PT S99P) yang diduga menyuap Marianus. “Tim mengamankan MSA dan ATS (Ambrosia Tirta Santi) selaku ketua Tim Penguji Psikotes Calon Gubernur NTT.

Dari tangan MSA tim menyita sebuah kartu ATM dan beberapa setruk transaksi keuangan,” kata Basaria di Gedung KPK, Jakarta, Senin (12/2). Selanjutnya, tambahnya, tim kedua menangkap Dionesisu Kila selaku Ajudan Bupati Ngada di posko pemenangan di Kupang. Sementara di lokasi ketiga, di Bajawa, tim menangkap Wihelmus Iwan Ulumbu selaku direktur utama PT Sinar 99 Permai (PT S99P).

Tim juga menangkap Petrus Pedulewari, pegawai Bank BNI Cabang Bajawa di kediamannya di Bajawa. Basaria mengungkapkan, suap untuk Marianus ada yang diberikan secara tunai maupun lewat transfer bank. Total nilai suap yang diterima 4,1 miliar rupiah dari sejumlah proyek yang bernilai 54 miliar rupiah.

“Total uang baik yang ditransfer maupun diserahkan tunai oleh WIU (Wihelmus Iwan Ulumbu) kepada MSA (Marianus Sae) sekitar 4,1 miliar rupiah,” katanya. Adapun rinciannya suap yang diterima adalah 1,5 miliar rupiah pada November 2017 secara tunai di Jakarta. Kemudian, dua miliar rupiah diberikan lewat transfer bank pada Desember 2017. Selanjutnya pada 16 Januari 2018 sebsar 400 juta rupiah dari Wilhelmus di rumah bupati. 

 

mza/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment