Koran Jakarta | May 28 2018
No Comments

Bulan Masih Romantis, Setia dan Edukatif

Bulan Masih Romantis, Setia dan Edukatif

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Bulan masih memberi kesan romantis—bahkan ketika tertutup awan sekalipun. Juga setia, seperti yang bisa diperhitungan saat gerhana—ketika dalam orbitnya melewati bayangan gelap Bumi yang disorot matahari.

Kegerhanaannya bahkan bisa diperhitungkan kejadiannya sampai ke menit, dimulai 19.51 sampai 21.07, dan berakhir 23.08. Sungguh mentakjubkan ilmu pengetahuan yang dikuasai manusia atas benda orbit yang berjarak 350.000 km dari tempat kita berdiri.

Bahkan, konon bisa diperhitungkan kejadian gerhana bulan total ini terjadi 152 tahun lalu, 31 Maret 1866. Jauh melampaui umur hidup manusia. Gerhana bulan yang disaksikan beramai- ramai Rabu (31/1/18) lalu adalah kisah panjang yang mencerahkan.

Saya masih mengalami ketika terjadi gerhana, kita membunyikan lesung—alat penumbuk padi yang sekarang juga asing, sementara ibu- ibu yang hamil menaburi perutnya dengan abu. Anak-anak mendengar kisah bulan yang ditelan raksasa tanpa perut, sehingga nanti akan keluar dari leher yang terpotong. Seram. Menakutkan.

Dongengan yang muncul karena saat itu belum tahu persis apa yang terjadi. Sehingga ada istilah, “kita takut pada bagian gelap dari bulan” untuk mengatakan situasi ketakutan tanpa tahu sebabnya.

Demikian juga dongengan ada nenek-nenek menenun di bulan. Ilmu pengetahuan telah bergerak maju dengan pesat. Posisi bulan, bumi, yang memutari matahari telah menjadi pengetahuan umum, dan gerhana diterima sebagai fenomena dan unik, sebagaimana, misalnya gempa bumi atau gunung meletus.

Saya generasi yang mengenal dongeng menakutkan, juga kiasan-kiasan romantis yang menggambarkan bulan (“di wajahmu, kulihat bulan”), atau puisi yang hanya sebaris karya Sitor Situmorang (Malam Lebaran, Bulan di atas kuburan), serta lirik-lirik lagu atau lukisan atau karya seni lainnya, sekaligus juga mendengar penjelasan ilmiah, edukatif mengenai proses gerhana.

Posisi di mana matahari bersinar, ketika terhalang bulan, atau bulan yang terhalang, disertai rincian perhitungan, termasuk ketika manusia menginjakkan kaki di bulan. Saya juga generasi yang dibahagiakan dengan humor tentang bulan.

(Orang Amerika berharap bisa hidup di Bulan, orang Indonesia hidup bertahan dari bulan ke bulan). Humor gerhana (jangan melihat langsung gerhana bulan, cukup dari bumi saja) dengan segala variasinya yang membuat “ngakak”. Sungguh luar biasa.

Keajaiban yang bisa dinikmati, tanpa terbebani kisah yang “gelap”, dan bisa dibicarakan dengan banyak orang. Lebih dari itu semua, peristiwa ini dinikmati bersama—bukan hanya mereka yang ahli, bukan hanya yang akan mengartikan dari sudut pandang seni, atau agama, saja. Fenomena alam yang berlaku untuk semua—terutama untuk generasi muda yang memang seharusnya lebih terbuka.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment