Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Ngaruwat Bumi

Budaya Bersyukur di Kampung Cikareumbi Lembang

Budaya Bersyukur di Kampung Cikareumbi Lembang

Foto : KORAN JAKARTA/Teguh Rahardjo
» Ngaruwat Bumi, tradisi bersyukur yang masih dilestarikan di Kampung Cikareumbi Lembang ini merupakan wujud kearifan lokal yang patut dilestarikan.
A   A   A   Pengaturan Font

Lembang Bandung merupakan kawasan pertanian sayuran yang memasok kebutuhan sayuran di Bandung, bahkan hingga ke Jakarta. Lahan kebun sayuran yang luas dengan hasil sayurannya yang tak pernah henti menjadi anugerah Tuhan bagi warga Lembang.

Kawasan wisatanya yang cukup banyak di Lembang, men­jadikan kawasan di utara Bandung ini tak pernah sepi dikunjungi wisatawan termasuk dari Jakarta.

Sebuah kawasan di Lembang me­miliki tradisi unik untuk mensyukuri berkah suburnya lahan pertanian de­ngan melakukan ritual budaya khas Pa­rahyangan, Ngaruwat Bumi atau yang berarti menjaga kampung.

Tepatnya di Kampung Adat Cikar­eumbi yang ada di Desa Cikidang Keca­matan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), upacara adat sebagai rasa syukur warga kampung selalu dilaku­kan setiap tahun. Pada Oktober atau November setiap tahunnya. Ritual budaya yang sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu itu juga menjadi tujuan wisatawan untuk dilihat.

Seperti pada akhir pekan lalu, Minggu (8/10), kampung ini kembali riuh dengan antusias warganya dan juga wisatawan lokal yang meramai­kan Ngaruwat Bumi. Sebelumnya pada Rabu (4/10), pemanasan ritual budaya ini sudah dilakukan. Ada keramaian yang menarik untuk ditonton, yakni ri­tual Ngaruwat Bumi, Hajat Buruan dan Perang Tomat.

Warga RW 04 di kampung tersebut, atau yang dikenal dengan Pasir Luhur Legok Nangka, sudah mulai bersiap untuk melakukan kegiatan Ngaruwat Bumi sejak pukul delapan pagi, Rabu.

Warga dan sesepuh kampung su­dah bersiap dengan pakaian adat khas Sunda demikian juga dengan pemuda dan anak gadis kampung ikut bersiap. Mereka semangat untuk menyambut ritual adat yang diselenggarakan sekali setiap tahun, bersyukur atas segala berkah panen dan sumber air yang me­limpah di Kampung Cikareumbi. Tak lupa mereka mensyukuri sumber air di bukit atau Gunung Pasir Luhur dalam Ngaruwat Bumi. Air dalam ritual pun diambil dari gunung tersebut.

Tetabuhan yang mengiringi tarian budaya juga tak lupa dimainkan. Warga Cikareumbi kemudian membawa nasi tumpeng yang dimasak di rumahnya masing-masing, dikumpulkan dan didoakan agar mendapat berkah. Lalu, warga menggelar arak-arakan dengan membawa hasil panen berupa umbi-umbian, sayuran dan buah-buahan yang dihias mengelilingi Desa Cikidang.

Seperti halnya pesta budaya rakyat, ratusan warga mengikuti arak-arakan keliling kampung dengan mengenakan kebaya bagi kaum perempuan dan le­laki dengan baju pangsi yang dilengkapi dengan sayuran dan buah-buahan se­bagai aksesoris di badan mereka.

Asesoris dari hasil panen sayuran se­perti tomat, kol, brokoli, buncis, umbi-umbian, terong, lalapan dan lainnya. Sayuran disusun pada wadah dan ditandu dengan hiasan yang menarik. Lalu tandu berisi sayuran itu diarak keliling kampung dengan diiringi musik tradisional. Selain itu ada pula sisingaan yang ikut meramaikan acara tersebut.

Tradisi yang juga dilakukan dalam upacara adat tersebut adalah dengan memotong kambing, lalu darah dan berbagai sesajen disatukan untuk di­kubur. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan memanjatkan doa agar diberi keselamatan dan hasil panen yang melimpah bagi masyarakat Cikareumbi.

Kegiatan dilanjutkan dengan helaran dengan mengarak nasi tumpeng, sayur­an dan kesenian yang dilangsungkan menyusuri jalan di desa itu. Setelah arak-arakan keliling kampung, tiba di lokasi puncak acara, para peserta dan warga setempat mengikuti rangkaian acara selanjutnya yakni ruwatan bumi dan hajat buruan. tgh/R-1

Acara Perang Tomat

Dalam acara ini juga digelar perang tomat sebagai hiburan dalam ngaruwat lembur. Karena sebagian besar hasil pertanian di daerah tersebut ada­lah tomat. Acara perang tomat ini akan diikuti seluruh warga Cikareumbi.

Minggu pagi, warga sudah ramai untuk memulai perang tomat. Sebelumnya, terlebih dahulu dilakukan arak-arakan yang meng­usung berbagai hasil panen sayuran seper­ti tomat, kol, brokoli, buncis, umbi-umbian, terong, lalapan dan lainnya. Proses seni tradi­si setempat yang khidmat itu kemudian lang­sung mencari riuh setelah perang tomat di­mulai.

Panitia menyediakan tomat dalam bronjong yakni keranjang dari anyaman bambu. Cukup banyak jumlahnya. Keranjang dibagi dua sama banyak untuk dua kelompok yang akan saling perang tomat.

Sebagai pembukaan 10 orang warga laki-laki berpakaian hitam-hitam bersiap layaknya prajurit perang menarikan tarian pembukaan perang tomat. Mereka memakai pangsi lengkap dengan ikat kepala yang di­lengkapi perlengkapan perang seperti tameng seseg awi, topeng yang menyerupai helm dan carangka kecil untuk tempat menyim­pan tomat sebagai senjata yang diikatkan pada pinggang prajurit.

Segala perlengkapan tersebut terbuat dari bambu yang dianyam dan merupakan hasil kreativitas warga setempat.

Perempuan cantik dengan baju tradisio­nal ikut mengantar para prajurit perang itu dengan membawa keranjang kecil berisi­kan tomat untuk dilempar. Mengikuti alunan irama kendang tradisonal, perang lem­par tomat busuk pun dimulai.

Perang tomat ini dilakukan dua kelompok yang saling berhadapan dalam jarak tertentu.

Kedua tim saling lempar, secara ber­giliran mengikuti irama kendang. Setelah upacara perang dilakukan, para praju­rit perang itu kemudian mulai membabi buta melemparkan tomat berwarna merah itu. Hujan tomat pun terjadi. Arahnya tidak lagi tertuju pada kelompok yang berperang, tapi sudah mengarah ke penonton yang ada di sisi kanan dan kiri jalan, sampai ke arah pang­gung bagi tamu khusus. Hasilnya semua yang hadir ikut perang tomat.

Rasanya lumayan sakit, apalagi jika tomat yang terkena badan tidak pecah. Usai perang tomat, ribuan butir tomat pun nampak berse­rakan, airnya yang memerah dan aroma asam menutupi jalan desa.

Tidak tidak ada rasa marah saat baju kotor dan memerah oleh lemparan tomat. Selama sekitar setengah jam warga nampak gembira mengikuti proses perang tomat ini.

Tradisi budaya yang sudah dimulai pada 2010 ini menjadi even yang dinanti warga Lembang. Bahkan warga luar Bandung juga nampak menyaksikan tradisi unik perang tomat itu. Tidak peduli harga tomat sedang mahal, warga berpartisipasi untuk menye­diakan tomat sebagai amunisi untuk saling lempar tomat.

Kegiatan ini merupakan upaya dalam pem­berdayaan dan pengayaan sumber daya ma­nusia, alam dan seni budaya, yang dikemas dalam even ritual dan festival. Diharapkan kegiatan ini bisa mengenalkan potensi daerah dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Dengan menggelar kegiatan ini, masyarakat akan terus menjaga alamnya terutama menjaga sumber mata air yang selama ini memberikan manfa­at bagi kehidupan masyarakat. tgh/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment