Koran Jakarta | July 22 2019
No Comments

BTP

BTP

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

BTP, bisa jadi ikon, awal tahun ini. Atau sebelum­nya. Bisa jadi sesudah ini pula. BTP adalah singkatan dari Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI yang masuk penjara dua tahun lalu. Kamis kemarin bebas, setelah menerima remisi—pengurangan hukuman karena berkelakuan baik selama dalam penjara. BTP juga diasosiasikan sebagai “bebas tanpa persyaratan”, mengingat yang bersangkutan tidak mem­pergunakan hak cuti yang biasa diberikan sebelum bebas murni—dalam arti keluar lebih cepat.

Banyak perbincangan menge­nai BTP—termasuk keinginan yang bersangkutan ingin ini menjadi nama panggilan, menggeser “branded” Ahok yang sudah akrab lengket mengakar. Menurut saya, sebutan Ahok masih akan terus menyertai karena terlanjur me­nyatu dengannya.

BTP yang ini, sejak dua tahun lalu pun terus diikuti kisah-kisahnya. Termasuk perceraian yang dramatis karena tak terduga, pernikahan kembali di ujung kebebasan, dan terutama yang dikaitkan dengan jabatan yang akan diduduki nantinya. Seolah semua jabatan itu ditawarkan dan BTP tinggal memilih: menjadi Ketua PSSI, atau KPK, atau di PBB, atau presenter, pembawa acara di tv, atau sebut saja posisi yang sekarang lagi rawan. Seolah BTP adalah “pasal karet” yang digunak­an kapan saja, di mana saja, untuk perkara mana pun.

Kenyataannya tidaklah be­gitu. Untunglah begitu, karena memang tidak ada yang mampu menyelesaikan berbagai masalah. Yang ada adalah seorang bisa menyelesaikan persoalan dengan cepat dan tegas. Tapi paling tidak BTP menjadi harapan, menjadi gambaran, ikon, untuk menjalankan sesuatu dengan tegas, berani, dan membumi. Tapi jangan lupa BTP kini tak menja­bat apa-apa, belum, dan biarlah waktu memperlakukan dengan bijak sehingga apa yang dipilih nanti, melalui pertimbangan terbaiknya.

Barang kali agak berlebihan, namun rasa-rasanya justru ini saat bagi BTP yang paling menentukan untuk mengambil pilihan. Ketika euforia tentang keberhasilan Asian Games lalu pun dikaitkan lang­sung dengannya, ketika surat-surat dari penjara bisa menjadi yang diburu, ketika masih teriak hingga serak, ketika menuding runcing apa yang tak disetujui dengan “pemahaman nenek lu”.

BTP harus belajar banyak dari tahun-tahun yang disebut­nya “untuk dikuasai”, karena bukan hal kecil yang men­jatuhkannya, melainkan yang seperti itu melelahkan dan bisa menumpuk dan dalam dunia politik, memetakan kebencian, menambah kesalah pahaman, dan bisa berlanjut ke permusuhan. Ini semua harus dihindari , dan memosisikan diri sebagai BTP yang ingin dimunculkan dalam dirinya.

BTP mempunyai kemungkinan untuk itu, sebagaimana mantan narapidana lain mempunyai kesempatan dan juga keterbatasan.

BTP masih menjadi figur. Tetap atau bertambah.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment