Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Bola, Bola, Bola

Bola, Bola, Bola

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Bukan salah siapa-siapa, kalau saya diminta berbicara soal sepak bola dalam diskusi yang rada akbar—karena ada pejabat bola. Juga bukan sesuatu yang istimewa. Semua orang dianggap mengerti persoalan yang terjadi di dunia sepak bola, atau paling tidak bisa memberi komentar. Dan memang begitu adanya kalau mengikuti media sosial. Tanpa sengaja sekalipun banyak komentar mengenai sepak bola, pertandingan di Eropa dikomen­tari dari ujung ke ujung. Pemain bisa dikuliti, dipasang atau tidak, pelatih paling kenamaan pun bisa disuruh mundur.

PSSI, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, sudah melewati masa-masa itu. Kini pada masa putus asa. Ketua yang terpilih mengundurkan diri, penggantinya diduga terkena kasus pengaturan skor—kasus kotor yang menyangkut jual beli kepercayaan masyarakat. Tak ada yang lebih jahat dari itu. Dan yang terlibat bukan satu atau dua orang, melainkan, bahkan beramai-ramai untuk tidak mengatakan semua “makan kotoran busuk”.

Menurut saya, saat ini kondisi terbaik. Terbaik untuk berbenah diri secara keseluru­han. Dimulai dari investigasi laporan soal “pengaturan skor pertandingan”, ditindaklanjuti kerja kepolisian, beberapa nama yang berkibar kini jadi tersangka, atau tiarap. Dan tak terlalu mengejutkan kalau nama-nama itu yang ditangkap, karena sudah lama jadi bahan percakapan. Dan inilah bola, bola, dan bola. Semua bisa menjadi gosip. Semua bisa diduga, dan ada kalanya benar adanya.

Termasuk akan adanya Kon­gres Luar Biasa (KLB), sesuatu yang bisa berarti menggeser se­bagian besar mereka yang masih menjabat sekarang ini. Dan dari sinilah, langkah-langkah bersih dilangkahkan, Dan terus dikawal, jangan sampai melenceng sedikit pun. Ibarat gelas yang terletak di meja, karena getaran tertentu bisa makin terpinggir. Harus segera dikembalikan ke tengah meja.

Supaya jangan dibiarkan dan akhinya jatuh. Getaran itu mulai dengan kepengurusan, pembayaran pemain, sampai dengan bagaimana pembeli tiket tak perlu antre panas-panas. Jus­tru yag terakhir ini, hal kecil ini bisa untuk mendeteksi kebere­san—atau ketidakberesan dalam sebuah organisasi.

Kan pembeli tiket pertandingan yang poten­sial, yang mendirikan fans club pendukung ditelantarkan. Dan sesungguhnya cara mengelola sepak bola sudah diajarkan ra­tusan (!) tahun lalu, dan terbuka untuk dipraktikkan, untuk belajar dari negara lain. Arti lain: tak ada rahasia, tak jampi-jampi yang dikuasai suatu negara. Bahkan untuk pemain kaliber dewa sekalipun, asal cocok harga, bisa main di sini. Juga pelatih yang paling kenamaan sekalipun.

Tapi, kenapa di negeri ini sepak bola berada di titik nadir dan memalukan—termasuk tawuran di lapangan, terma­suk korban meninggal, seakan kutukan tak putus-putus? Banyak analisis yang mencoba menjelas­kan secara rinci dan secara ilmiah, dan tekad memperbaiki. Namun mentok.

Sekarang? Sekarang saatnya bangkit, bersih, berprofesional. Karena sekarang ini era kebaikan menemukaan saatnya. Karena sekarang ini bisa dibuktikan bah­kan kereta api bisa bagus, aman, lancar. Bahwa stasiun kereta pun pedagang kaki lima bisa terib. Juga pasar tradisional yang kumuh, bisa tersulap elok: sehat, menarik, dan murah.

Sekarang saatnya sepak bola mengikuti arus yang benar. Dengan orang-orang baru, dengan kesadaran penuh kita semua bisa maju, bisa baik, bisa menyeleng­garakan pertandingan, bisa memberikan kebanggaan.

Ini alasan yang nyaman, dibandingkan kesulitan menemu­kan cara-cara untuk bangkit.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment