Koran Jakarta | October 22 2017
No Comments
Gunung Agung

BNPB Tutup Akses Menuju Zona Merah

BNPB Tutup Akses Menuju Zona Merah

Foto : ISTIMEWA
Kepala BNPB, Willem Rampangilei
A   A   A   Pengaturan Font

Karan gasem — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menutup sejumlah akses menuju daerah zona merah berbahaya Gunung Agung. Kepala BNPB, Willem Rampangilei, mengatakan upaya itu dilakukan untuk memberikan keselamatan dan keamanan kepada masyarakat menyikapi status awas Gunung Agung.

“Ini dilakukan demi keamanan masyarakat di sekitarnya,” tegas Kepala BNPB, Willem Rampangilei, di Karangasem, Bali, Kamis (12/10). BNPB bekerja sama dengan relawan dan beberapa orang korban erupsi Gunung Merapi memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bahaya apabila memasuki zona merah mengingat bencana yang tidak bisa diprediksi.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menambahkan diperkirakan ada sekitar 1.200 orang yang kembali ke daerah merah Gunung Agung. Untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya membentuk tim khusus keselamatan masyarakat yang masing-masing dipimpin Polres Karangasem dan Dinas Informatika dan Komunikasi.

Dia menjelaskan situasi yang tidak pasti tersebut membuat sejumlah warga nekat memasuki zona merah, yang menjadi tantangan tersendiri bagi petugas untuk mencegah mereka masuk ke kawasan rawan bencana itu. Sementara itu, Komandan Satgas Penanganan Siaga Darurat Gunung Agung, Letnan Kolonel Inf Fierman Syafirial Agustus, mengatakan pihaknya akan menutup 21 ruas jalan atau akses masuk ke zona merah.

Penutupan akses itu dilakukan dengan cara menutup jalan dengan potongan bambu dan tong yang dipasang di tengah jalan. “Ini untuk menyadarkan mereka bahwa tempat tersebut masuk zona bahaya,” ucap Dandim 1623 Karangasem itu. Hingga saat ini, Gunung Agung masih berstatus awas sejak pertama kali ditetapkan pada 22 September 2017.

PVMBG menerapkan zona perkiraan bahaya di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area dalam radius sembilan kilometer dari kawah puncak gunung dan ditambah perluasan sektoral sejauh 12 kilometer. Ribuan warga dari 28 desa di daerah rawan bencana pada radius tersebut harus mengungsi.

 

Pantau Kawah

 

Untuk memantau kawah Gunung Agung, BNPB mengerahkan pesawat mini tanpa awak (drone). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bekerja sama dengan BNPB ingin memetakan kondisi kawah Gunung Agung melalui udara termasuk warna asap yang keluar dari kawah gunung api itu.

Namun, drone itu gagal mencapai puncak Gunung Agung karena jatuh dan menghantam jembatan BNPB, PVMBG dan tim pengendali jarak jauh mencoba menerbangkan pesawat mini tanpa awak jenis Koax 3.0 itu, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Tim menerbangkan drone sekitar pukul 15.00 Wita pada upaya kedua, namun pesawat mini itu jatuh kembali menukik sesaat setelah lepas landas dan menabrak jembatan.

Sutopo ketika dikonfirmasi mengatakan drone itu jatuh karena saat lepas landas terkena batu krikil dan tidak mendapat kecepatan udara yang sempurna. “Landasan banyak kerikil kurang ideal untuk lepas landas. Kecepatan saat lepas landas di bawah 60 kilometer per jam,” ucapnya. Rencananya, misi pemantauan kawah Gunung Agung akan tetap dilakukan dengan menggunakan drone yang lain bernama Tawon V tail 1.8. 

 

Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment