Koran Jakarta | August 22 2017
No Comments
Suara Daerah

Berpihak pada Rakyat Kunci Hadapi Persaingan

Berpihak pada Rakyat Kunci Hadapi Persaingan

Foto : Koran Jakarta / eko sugiarto putro
A   A   A   Pengaturan Font

Kulon Progo selalu menjadi berita istimewa dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam lima tahun terakhir seiring dengan rencana dan proses pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta pengganti Bandara Adisutjipto. Entah kebetulan atau tidak, pada kurun waktu itu, Kulon Progo dipimpin oleh bupati yang tak segan mendobrak aturan, seolah disiapkan untuk masa depan yang sama sekali berbeda.

Hasto Wardoyo memimpin Kulon Progo periode 2012–2017 dan menang telak dengan perolehan 85 persen suara dan dilantik pada bulan Mei lalu untuk periode kedua kepemimpinannya. Bupati Hasto Wardoyo yang sebenarnya seorang dokter, sejak awal kepemimpinannya justru senang bicara ideologi.

Dalam berbagai kesempatan, tak segan ia kemukakan sindiran betapa memalukannya menjadi politisi tanpa ideologi yang gemar menumpuk kekayaan untuk diri sendiri. Bahkan, ia juga membenci kontraktor proyek pemerintah yang sehari-hari diselimuti rencana me-mark up anggaran.
Dengan sedikit berkelakar, di depan peserta Kongres Pancasila di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Minggu (23/7), dia berdoa kepada Tuhan agar tak satu pun anak-cucunya yang di kemudian hari menjadi kontraktor.

Untuk mengetahui upaya pembangunan yang dilakukan di wilayah Kulon Progo, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto Putro, berkesempatan mewawancarai Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, seusai berbicara di forum kongres. Berikut petikan selengkapnya.

Kulon Progo sedang rajin membangun, ada bandara anggaran triliunan rupiah, tapi Anda justru meledek profesi kontraktor, apa tidak rugi kalau tidak ikut icip-icip proyek?

Godaan penyelewenangan itu memang berat. Untuk itu, saya berdoa tidak ada anak turun yang jadi kontraktor. Pikiran kontraktor, apalagi kontraktor pemerintah kan sudah jadi rahasia umum, selalu berusaha mengakali jembatan, sekolah, apa saja dibuat jadi keuntungan sebesar-besarnya.

Saya tadi berbicara dalam konteks bahwa pemimpin hari ini lebih dekat ke neraka, ke kejahatan, ketimbang ke surga. Maka, hanya ideologi yang kuatlah yang akan mengarahkan kerja pemimpin.

Ideologi seperti apa?

Keberpihakan kepada rakyat kecil. Itu mestinya yang jadi ideologi kita. Dan bukan hanya retorika, tapi dipraktikkan dalam kebijakan. Seorang politisi untuk memenangkan pemilu harus disukai rakyat dan bagaimana cara agar disukai bukan dengan money politik, tapi dengan ideologi yang jelas sehingga melahirkan program yang jelas berpihak kepada rakyat.

Bisa saja kebijakan kita tidak disukai saat baru kita keluarkan. Namun, kalau itu untuk kebaikan mereka yang lebih besar, tentu pada akhirnya mereka merasakan dan akan mendukung program kita.

Bagaimana ideologi tersebut menyelesaikan problem kemiskinan di Kulon Progo?

Sejak 2014, saya canangkan slogan Bela Beli Kulon Progo. Tidak ada cara lain melawan persaingan, kecuali dengan berpihak yakni mengarahkan seluruh program pemerintah dalam memaksimalkan potensi daerah masing-masing. Contohnya raskin, penerima raskin di Kolon Progo dalam setahun tujuh ribu ton beras, sementara hasil panen petani setahun 125 ribu ton. Anehnya, beras raskin adalah beras apek yang impor dari Vietnam.

Teknisnya bagaimana itu dilaksanakan?

Saya bicara kepada Kepala Bulog DIY, bagaimana kalau Bulog ke sini jangan bawa beras, tapi bawa uang untuk membeli beras petani kita. Berbagai hambatan ada, terutama di peraturan, tapi akhirnya juga bisa. Raskin di Kulon Progo sekarang bernama rasda, yakni beras daerah, beras yang dihasilkan petani Kulon Progo sendiri untuk warga Kulon Progo.

Untuk mendukung petani yang merupakan kantong kemiskinan, PNS Kulon Progo juga wajib membeli beras petani sebulan minimal 10 kg. Kita juga kembangkan varietas baru untuk kembangkan beras premium Kulon Progo dan kita produksi sendiri beras premium tersebut.

Bagaimana menyambungkan realitas kemiskinan petani dengan megaproyek di Kulon Progo?

Bela Beli Kulon Progo, membeli produk Kulon Progo untuk membela Kulon Progo. Artinya, proyek bandara pun diselenggarakan merujuk pada slogan itu, merujuk pada ideologi patriotisme dan nasionalisme.

Kita contoh Korsel. Merdeka 15 Agustus 1945, hanya lebih tua dua hari dari kita. Saat Jepang lebih maju dengan otomotifnya, warga Korsel tetap mau membeli produk dalam negerinya yang kualitasnya masih di bawah. Sekarang, mereka mengejarnya bahkan di industri seluler mereka lebih maju.

Pelaksnaaan di lapangan bagaimana?

Di bandara nanti, ritel yang ada adalah milik warga Kulon Progo yang tentu bekerja sama dengan ritel modern. Sekarang sudah ada 13 Toko Milik Rakyat (Tomira) yang bekerja sama dengan Alfamart. Mulai 2018, tak ada lagi Alfamart di Kulon Progo, adanya Tomira semua.

Alfa jadi supplier, kita yang jualan. Produk masyarakat akhirnya bisa masuk ke toko modern, kemasannya disesuaikan, kualitasnya terus ditingkatkan. Begitu juga nanti di bandara, kopi, teh, batik, jajanan, apa saja produk rakyat Kulon Progo harus masuk ke ritel bandara.

Kita tidak bersaing dalam perdagangan bebas yang sarat teknologi tinggi ini kalau tidak punya ideologi keberpihakan. Maka slogan saya bukan smart city karena padat teknologi pada akhirnya kita hanya bela beli produk luar. Saya fokus dulu dengan apa yang dipunya warga saya. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment