Koran Jakarta | April 22 2018
No Comments
JENAK

Berita yang Diberi, Bukan Dicari

Berita yang Diberi, Bukan Dicari

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Dalam dunia jurnalistik ada istilah untuk jenis berita, yaitu ungkapan God given the news, Tuhan yang memberikan berita. Istilah ini menunjuk adanya sumber berita, atau peristiwa yang “diberikan’ oleh alam, dan dinamai sebagai berita yang diberikan oleh Tuhan. Misalnya, yang sering menjadi contoh adalah peristiwa gunung meletus dan atau kecelakaan pesawat terbang.

Dua jenis berita ini termasuk peristiwa besar, tak terduga—dan tak direncanakan. Para wartawan tak perlu mengorek, mencari sumber-sumber, karena semua sudah terbuka telanjang. Kalaupun ada laporan investigasi, laporan mendalam, menggali sebab, atau terutama korban, dan penanganan kalau peristiwa yang sama berulang.

Ungkapan God given the news, dianggap sebagai “hadiah”, sebagai “given”, karena wartawan tak perlu susah-susah mencari, sudah ada berita yang layak muat. Ada peristiwa yang terjadi dengan sendirinya. Dan wartawan tinggal melakukan laporan mengenai peristiwa tersebut. Contoh yang terjadi minggu ini mungkin bukan jenis contoh berita yang diberi, namun menggambarkan bagaimana para wartawan menemukan bahan untuk dilaporkan.

Kasus Ratna Sarumpaet, tokoh aktivis, juga seniman, yang mobilnya kena derek di daerah Tebet. Ratna tidak terima mobilnya diderek petugas Dinas Perhubungan. Ratna menelepon Anis Baswedan, Gubernur yang atasan dishub. Menurut salah satu versi—karena ada versi yang berbeda—diterima oleh staf atau ajudan Gubernur DKI yang memegang hape nomor tersebut.

Beberapa saat setelah peristiwa itu, mobil Ratna bisa kembali ke rumah. Tak diderek. Bersamaan dengan itu muncul juga bantahan dari Dinhub bahwa mereka tidak diintervensi siapa pun. Tidak dari Gubernur, atau staf, atau ajudan, tidak dari pejabat mana pun. Ada juga tambahan: petugas tidak minta maaf.

Begitu singkat berita menyebar, begitu cepat pula reaksi tersebar. Di dunia maya sudah muncul meme dengan tulisan: kalau tak mau diderek, hubungi Anies. Dengan segala variannya yang menandakan Ratna termasuk orang kuat—sebagaimana dulu menggambarkan betapa kuatnya Haji Lulung, anggota DPRD DKI.

Yang lucu, yang melebih-lebihkan, termasuk ada gambar tampilan acara televisi model Who Want To Be Millionare, lengkap dengan foto pembaca acara. Di situ tertuliskan pilihan dari pertanyaan: Apa yang kamu lakukan jika ditilang? Jawabannya boleh memilih: A.Pasrah. B.Damai. C.Melawan. D. Menelepon Anies.

Seiring dengan itu, berita terus berkembang. Kalau tadinya hanya ramai di dunia maya, kini media utama pun memuat, menayangkan tokoh-tokoh yang tadinya disebut tanpa nama. Lengkap dengan bantahan, atau pembenaran. Contoh lain yang menjadi berita “yang tak dikehendaki” baik tak dikehendaki yang diberitakan atau yang membaca, misalnya tentang korban oplosan yang mencapai belasan orang, di berbagai daerah.

Korban minuman oplosan terkesan konyol dan sia-sia, dan anehnya masih saja terjadi. Korban berjatuhan, dan malah menimbulkan kesan: jangan-jangan peminum oplosan ini sengaja mengakhiri jalan pintas hidupnya, dengan cara murah—minuman oplosan bisa dibeli seharga 20.000 rupiah, bisa dipesan dan diminum ramai-ramai.

Bahwa kemudian merusak atau menghancurkan tubuh, atau menyengsarakan di saat-saat terakhir, tak pernah menjadi pembelajaran bagi yang lain. Karena masih saja terjadi. Baik di kota besar, juga di kota pedesaan kecil. Dengan korban mereka yang masih berusia produktif, masih memiliki masa depan—betapa pun beban berat yang dihadapi saat itu.

Melarikan diri ke minuman yang membunuh seharusnya tidak menjadi pilihan. Tapi nyatanya itu masih terjadi. Atau jenis lain yang bahkan membaca pun tak tega. Seorang ibu yang membunuh anak yang dikandung dan dilahirkan. Kita bisa menelusuri kisah ibu yang ditinggal suami, yang kemudian mempunyai kekasih, yang direpoti anak yang masih kecil, masih balita, dan seabrek kesulitan dan cemoohan hidup.

Namun berita “ibu membunuh bayinya”, tetap berita yang tak dikehendaki. Karena hanya menimbulkan cemas, pesimistis, sekaligus merontokkan percaya diri, atau percaya akan nilai-nilai kemanusiaan. Dan akan terus begitu, sampai ada keseimbangan baru, di mana berita tersebut dianggap tak ada yang perlu diberitakan lagi.

Namun juga pada saat itu, biasanya muncul berita lain yang tak kalah daya tariknya, baik yang murni “given”, atau berita tetang bencana perang, pengungsian, sampai berita yang selalu ditampilkan sebagai breaking news, yaitu berita tertangkapnya tersangka koruptor. Yang terakhir ini jenis berita yang memang dipersiapkan untuk diberitakan, wartawan diundang dalam konperensi pers, bahkan mendapat pers release atau materi berita.

Demikianlah, berita terus mengalir, terus membanjir, terus mengepung kita melalui media yang mana saja. Dan kita sebagai penerima berita, untunglah bisa memilih. Mengikuti dengan saksama berita yang memang kita cari, atau membacai judulnya saja apa tidak kita kehendaki, tapi diberikan di depan kita. Dengan intensitas yang makin meninggi, makin sering di tahun politik, sampai tahun depan. Bahkan membaca pun perlu berhati-hati dan memilih.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment