Benahi Pemahaman Anak soal Perkawinan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Peningkatan SDM

Benahi Pemahaman Anak soal Perkawinan

Benahi Pemahaman Anak soal Perkawinan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Era globalisasi berpengaruh pada makin maraknya perkawinan anak. Untuk itu, generasi muda harus diberikan pemahaman soal bagaimana membentuk keluarga yang baik agar dapat memengaruhi cara pandang anak terkait perkawinan.

“Kita harus bangun sebuah konsepsi agar anak sebelum melakukan perkawinan betulbetul harus dilandasi dengan nilai,” kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N Rosalin dalam diskusi bertema Kawin Usia Anak Bukan Pilihan melalui video conference, di Jakarta, Kamis (21/5).

Lenny menilai banyak anak memandang perkawinan hanya sebatas romantisme tanpa melihat banyaknya persiapan. Konsepsi keluarga harus disampaikan orang dewasa di sekitar anak, terutama orang tua kepada anak agar tidak keliru. Perkawinan anak merupakan pelanggaran hak anak dan juga pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Menurut Lenny, pemerintah telah berusaha melindungi hak tersebut dengan memperbaharui regulasi terkait perkawinan dengan menetapkan usia minimal perkawinan bagi anak perempuan menjadi 19 tahun.

Lebih Kreatif

Namun, Lenny menyebut ada tantangan baru yaitu pelibatan agen perubahan di era global saat ini. Agen-agen perubahan di era global dan digital saat ini harus lebih produktif dan kreatif dalam keikutsertaannya mencegah perkawinan anak.

“Jangan sampai perkawinan anak dianggap bukan masalah oleh para agen tersebut bahkan sampai memengaruhi anak, mengingat anak itu adalah peniru ulung,” jelas Lenny.

Dia menekankan perkawinan anak adalah tanggung jawab semua pihak. Dibutuhkan sinergi bersama seluruh elemen masyarakat, lembaga, dunia usaha, dan media untuk mewujudkannya. Sementara itu, psikolog Allisa Wahid menilai masih ada cara pandang lama masyarakat tentang perkawinan yang akhirnya bisa melanggengkan perkawinan anak. Paradigma terhadap perempuan yang kerap dianggap tidak perlu sekolah tinggi dan hanya cukup menjadi istri perlu diubah.

ruf/N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment