Koran Jakarta | August 17 2018
No Comments
Antisipasi Krisis I Segera Perbaiki Kinerja Sektor Riil

Benahi Fondasi Ekonomi RI agar Investor Bertahan

Benahi Fondasi Ekonomi RI agar Investor Bertahan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Waspadai eksodus investasi perusahaan multinasioal dari negara berkembang. Kenaikan produktivitas dan daya saing kunci memperkuat fundamental ekonomi.

JAKARTA – Pemerintah diminta fokus membenahi fondasi ekonomi dalam negeri untuk mengantisipasi perubahan global, terutama dampak berakhirnya era uang mudah dan reformasi pajak di Amerika Serikat (AS). Untuk itu, pemerintah perlu memperkuat kinerja sektor riil, terutama untuk memacu produktivitas nasional dan meningkatkan daya saing sehingga Indonesia masih tetap menarik di mata investor.

Ekonom Universitas Indonesia, Telisa A Falianty, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia mesti diperkokoh agar cukup menghadapi perubahan kebijakan ekonomi AS, terutama terkait kebijakan penaikan suku bunga acuan bank sentral AS atau The Fed. “Yang kita khawatirkan perusahaan multinasional memilih ke AS sehingga terjadi semacam eksodus dari negara-negara berkembang.

Makanya, pemerintah mesti segera memperbaiki kinerja sektor riil kita,” kata dia, saat dihubungi, Minggu (11/2). Menurut Telisa, selain masalah berakhirnya era uang mudah, pemerintah seharusnya juga mengantisipasi kebijakan pemangkasan pajak oleh Presiden AS, Donald Trump.

“Sayangnya, Indonesia masih menghadapi seretnya penerimaan pajak, dan sangat sulit bagi Indonesia menurunkan tarif pajak. Sebab, APBN sudah pasti akan jebol kalau menurunkan pajak untuk melawan kebijakan Trump. Saya tidak menyarankan harus ikut-ikutan menurunkan pajak seperti itu, tapi (pajaknya) harus lebih ramah terhadap investor,” papar dia.

Kebijakan reformasi pajak yang diterapkan Trump diperkirakan bakal membawa pulang dana sekitar dua triliun dollar AS ke negara itu sehingga berpotensi memperketat likuiditas global. Hal itu pada akhirnya akan memicu kenaikan suku bunga global sehingga ikut meningkatkan biaya utang luar negeri (ULN) Indonesia.

Telisa berharap ancaman larinya dana global ke AS bisa dikompensasi dengan membujuk investor agar tetap bertahan di Indonesia. Kuncinya, selain tarif pajak yang ramah investor juga harus benar-benar membuat iklim investasi di Indonesia lebih baik. “Perda-perda, biaya logistik itu yang harus segera dipangkas, supaya investor betul-betul bisa balik lagi di Indonesia.

Dan, jangan langsung menurunkan pajak, nanti dampaknya ke utang lagi, numpuk lagi,” tukas dia. Menurut dia, perbaikan fondasi ekonomi melalui penguatan sektor riil berpotensi mengangkat kinerja sektor industri. Apalagi didorong dengan bantuan teknologi, diharapkan bisa tumbuh paling tidak 6 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jadi, industri yang dihilirisasi itu sudah mulai bergerak. Industri- industri padat karya juga bisa survive. Ya, kuncinya adalah meningkatkan produktivitas dan daya saing,” ungkap Telisa.

 

Terjebak Stagnasi

 

Sebelumnya, pengamat ekonomi, Lana Soelistianingsih, mengemukakan berakhirnya era uang mudah (the easy money) berpotensi menimbulkan efek domino bagi Indonesia, berupa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan bunga kredit perbankan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi bakal melambat atau mengalami stagnasi.

Padahal, dalam empat tahun terakhir pertumbuhan ekonomi RI telah terjebak dalam stagnasi di level lima persen. Apabila stagnasi pertumbuhan gagal dibendung, peluang Indonesia terjebak dalam middle income trap makin besar Kenaikan bunga The Fed, kata Telisa, sebenarnya sudah diantisipasi pasar.

Sementara itu, untuk penguatan sektor riil, lebih banyak berkaitan dengan isu relaksasi pajak di AS. “Kalau bank mau menyalurkan kredit, sebenarnya masih memiliki banyak kredit yang belum tersalurkan. Jadi, sebenarnya di sektor riil lebih fight dengan isu-isu yang industri, ketenagakerjaan, dan digital ekonomi,” jelas dia.

Peneliti Perkumpulan Prakarsa, Irvan Tengku Harja, juga mengatakan berakhirnya easy money harus menyadarkan para penentu kebijakan bahwa sudah tidak mudah mendapatkan dana-dana asing. Sedini mungkin diupayakan penguatan sektor riil domestik. “Sebab, tren perdagangan saat ini adalah barang bernilai tambah, bukan lagi komoditas primer.

Kalau mau tetap berlaga di arena perdagangan internasional, seriuskan bangun industri domestik. Kalau nggak, kita akan terus ketinggalan,” kata dia. Irvan menegaskan kalau fondasi ekonomi domestik kuat, dampak berakhirnya easy money bisa diminimalisir. Untuk itu, perkuat industri nasional dan jaga daya beli masyarakat. Sebab, setengah produk domestik bruto (PDB) Indonesia disokong konsumsi rumah tangga. 

 

ahm/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment