Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments

Belajar Cara Berislam dari Gus Muwafiq

Belajar Cara Berislam dari Gus Muwafiq
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Gus Muwafiq
Penulis : Muhammad Ainur
Penerbit : Laksana
Cetakan : Juli 2019
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-407-583-5

Spirit pengajaran Gus Mu­wafiq adalah Islam rahmatan lil‘alamin. Dia sangat me­nyayangkan bila Islam dibawakan dengan aroma keras, kasar, dan kejam. Sejatinya agama yang dibawa Nabi Muhammad, tidaklah demikian. Dia penuh kasih sayang dan toleran.

Hanya, tentu selalu ada orang-orang yang merongrong perbedaan. Mereka merasa benar sendiri. Gus Muwafiq menyadari, menyambung silaturahmi demi tegaknya persau­daraan baik sesama muslim maupun sebagai sesama manusia, tidaklah mu­dah. Tetapi, dia tak pernah putus asa demi terciptanya sebuah kedamaian dan ketenteraman.

Terbukti, kalau diamati isi-isi cera­mah dan gerakan-gerakan sosial-kea­gamaannya, sangat tampak dia begitu menginginkan terciptanya kerukunan meski berbeda ras, suku, golongan, dan keyakinan. Dalam sejarah, men­jelang kemerdekaan, tahun 1936, di Banjarmasin, para tokoh agama dari kalangan Nahdhatul Ulama sepakat dan menegaskan keputusan bahwa Indonesia merupakan negara darus salam (negara damai), bukan darul islam (negara Islam).

Bila diperluas, artinya Indonesia juga bukan negara Kristen, Buddha, Hindu, Katolik, Konghucu, atau negara apa pun yang mewakili agama-agama tertentu. Sungguh menjadi sangat disayangkan bila kemudian kalau kita bercerai-berai lantaran perbedaan.

Lebih-lebih, perbedaan merupakan sebuah rahmat. Bukankah pelangi dan bunga-bunga di taman menjadi indah lantaran berbeda? Itulah mengapa, demi tegaknya tali persaudaraan, Gus Muwafiq mengingatkan, “Kita ini merupakan satu keturunan dari Adam dan Hawa, sehingga penting untuk menjaga tali silaturahmi dan persau­daraan” (hlm 145).

Rasanya, yang perlu disemarak­kan, ditabur, dan ditempel di mana pun, kata “Berdamailah dengan siapa pun!” Supaya orang-orang, khususnya diri kita sendiri mendapat kesadaran, tidak boleh bermusuhan meski ber­beda keyakinan, ras, suku, dan adat. Sehingga, konsep Bhinneka Tunggal Ika tidak tercederai dengan merasa benar sendiri yang mengakibatkan perselisihan, konflik, dan kekerasan, termasuk radikalisme.

Sebab itulah, penting bagi kita menanamkan sifat damai dalam diri. Sehingga, nanti bisa menjadi manu­sia yang dapat bermanfaat bagi orang lain meski memiliki banyak perbedaan tanpa memihak siapa pun. Di dalam istilah Jawa, ini disebut danadriya. Di Islam disebut rahmatan lil alamin dengan landasan ayat khoirunnas anfa uhum linnas.. sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya (hlm 185).

Tetapi, bagaimana mungkin kita bisa menjadi manusia bermanfaat bila susah menerima perbedaan? Lebih-lebih, ada banyak pesan keben­cian, hoaks, dan intoleransi yang digoreng setiap hari. Seakan-akan ada usaha untuk membenturkan satu agama dengan agama lain, satu suku dengan suku lain. Tentu, tali persau­daraan akan semakin susah diper­tahankan.

Lalu, dengan cara-cara apa saja yang perlu kita lakukan demi me­nguatkan tali persaudaraan? Buku mengajarkan keteladanan Muwafiq. Dia tidaklah seperti ustadz-ustadz zaman sekarang yang begitu instan belajar agama.

Semoga setelah membaca buku ini, pelajaran keindonesiaan akan berjalan lurus dan baik. Cara berislam orang Islam tidak akan kaku. Kita akan sulit merasa benar sendiri. Pembaca akan menyaring sebelum sharing, dan dimustahilkan gampang mengkafir-kafirkan orang lain.

Sebenarnya tak hanya itu. Banyak lagi pelajaran dari Gus Muwafiq agar pembaca paham cara berislam yang baik dan benar. Diresensi Ach Fawaid, Anggota Duta Damai Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment