Koran Jakarta | June 21 2018
No Comments

Beban Kelam 1998 yang Tak Pernah Bisa Dilepas

Beban Kelam 1998 yang Tak Pernah Bisa Dilepas
A   A   A   Pengaturan Font

Judul       : Laut Bercerita

Penulis    : Laela S. Chudori

Penerbit  : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan  : Pertama, Oktober 2017

Tebal      : x + 379 halaman; 13.5 cm x 20 cm

ISBN      : 978-602-424-694-5

Karya fiksi ini menceritakan seorang mahasiswa aktivis dari Yogyakarta bernama Biru Laut. Orang tua Laut tak tahu bahwa anak mereka telah bersemayam di dasar perairan ditemani karang dan ikan-ikan. Laut adalah salah satu dari 13 aktivis mahasiswa yang hilang pada masa Orde Baru. Ia sendiri diculik sejak 13 Maret 1998, kemudian dibunuh setelah hampir tiga bulan disekap dan disiksa. Laut menceritakan kisahnya.

Asmara Jati, adik perempuan Laut, menuturkan kesedihannya akan dampak buruk yang menggerogoti kehidupan Ibu dan Bapak setelah hilangnya anak sulung mereka. Orang tuanya terjebak dalam penyangkalan bahwa suatu hari Laut akan mengetuk pintu rumah dan bergabung di meja makan, sebagaimana ritual keluarga di hari Minggu. Keluarga dan sahabat dari 12 orang hilang lainnya juga belum mampu menerima kenyataan pahit tersebut.

Novel ini menarasikan pertanyaan hak asasi manusia yang belum terjawab dan tentang cinta yang tidak pernah luntur. Laut menceritakan alur perjuangan aktivis lainnya yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena. Kisah panjang meliputi pertemuan para anggota, aksi pemberontakan di Blangguan, sampai kematian Laut.

Asmara menggambarkan kegelisahan tak berkesudahan mereka yang ditinggalkan 13 aktivis. Mereka tidak punya pilihan, selain bersama-sama berjuang mencari jawaban.

Lazimnya perjalanan hidup manusia, kisah ini juga memasukkan unsur romantisme khas anak muda. Laut dan Anjani bertemu di Rumah Seyegan, markas baru Winatra dan Wirasena. Keduanya perlahan menjalin hubungan di tengah geliat pemberontakan. Lain lagi dengan Asmara dan Alex yang bertemu ketika Laut mengundang Alex berkunjung ke rumahnya. Dua sejoli ini seketika larut dalam hubungan cepat. Kisah percintaan ini menjadi pokok kedua yang ditampilkan sepanjang buku.

Ada juga sisi feminisme. Tiga tokoh utama wanita: Asmara, Anjani, dan Kinan digambarkan sebagai perempuan mandiri dan tangguh. Penceritaan dengan alur waktu yang berubah-ubah kembali digunakan seperti halnya dalam buku Pulang (2013).

Tahun 1998 adalah sebuah titik balik. Salah satu periode yang mengukir sejarah kelam Indonesia. Desaparasidos - penghilangan orang secara paksa–dialami 13 aktivis mahasiswa. Bahkan hingga hampir 20 tahun kemudian, keberadaan tubuh mereka belum diketahui.

Mereka berjuang demi mewujudkan mimpi meraih Indonesia yang demokratis, lepas dari bayang-bayang kediktatoran. Namun, mereka tidak pernah merasakan buah perjuangan.

Buku ini disertai riset agar faktualitas cerita benar-benar merefleksikan sejarah. Ide menulis buku ini sendiri datang dari korban penculikan Nezar Patria ditambah riset tahun 2013.

Buku ini sukses mengontruksi jagat baru sejarah kelam 1998. Maka, tak heran bahwa pada peluncuran pertama Laut Bercerita di Ubud Writers and Readers Festival 2017, buku ini sedang diterjemahkan ke bahasa Inggris agar dapat dibaca kalangan lebih luas. Peristiwa yang menggores penegakan hak asasi manusia Indonesia ini bukan hanya menorehkan luka pada kerabat yang ditinggalkan, melainkan permasalahan bersama di berbagai belahan dunia bagi mereka yang menjunjung tinggi kemanusiaan. 
Diresensi Sausan Atika Maesara, Lulusan Wageningen University

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment