Koran Jakarta | June 22 2018
No Comments

Bazar, Pasar Kebersamaan

Bazar, Pasar Kebersamaan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Bazar, atau masih banyak yang menuliskan sebagai bazaar, adalah pasar, atau pazar bahasa Turki, yang muncul di bulan Ramadan.

Pasar yang hadir dalam waktu tertentu untuk menjual barang kesenian, pakaian, juga makanan. Dalam bahasa Jawa yang lebih sederhana, dinamai Pasar Tiban, pasar dadakan, pasar yang ada begitu saja.

Nilai sejarahnya panjang, sehingga dimaklumi sebagai pasar amal, relatif murah, dan mempertemukan anggota kelompok masyarakat.

Pada waktu tertentu, pasar semacam ini ada dinamai thief market, di luar negeri sana, atau pasar pencuri, karena harganya miring.

Padanannya di sini nama pasar Spanyol—separuh nyolong, alias barang yang dijual belikan dari hasil curian, atau selundupan, dalam arti harganya murah.

Biasanya bazar berlangsung di lapangan terbuka, berlangsung hari Sabtu–Minggu, disertai dengan mainan untuk anak-anak.

Murah, meriah, ramah dengan kegiatan ekonomi setelah berbuka. Namun minggu lalu, di kediaman saya di Jakarta Selatan, tiba-tiba ada bazar yang ganjil. Mendadak jalan sepanjang 400 meter ditutup separuh.

Arus kendaraan dua arah menjadi satu arah. Ratusan tenda berjajar, dan dagangan digelar di pagi Sabtu. Menurut warga pinggir jalan, sejak malam diadakan kegiatan pemasangan tenda-tenda.

Dan keributan terjadi, karena mereka yang tinggal masuk ke jalan lebih kecil tak punya akses masuk atau keluar.

Masyarakat setempat merasa tak mendapat pemberitahuan, tak ada sosialsasi. Satu-satunya penjelasan adalah jalan ditutup karena ada bazar Ramadan selama dua hari. Penyelenggaranya dari OK-OC.

Itu pun melalui spanduk yang dibentang menutup jalan. Semakin siang semakin panas. Bahkan meninggi karena masyarakat menolak, dan melapor ke kelurahan, ke polisi setempat, sebagian menyuarakan agar dibongkar, sebagian sudah memutuskan untuk memboikot, jangan ada yang beli.

Kontra-pro makin meruncing. Kedua belah pihak, masyarakat setempat dan pengorganisir pedagang bazar, merasa sama-sama mempunyai hak—menolak dan mengadakan.

Puncak ketegangan makin runcing ketika sopir angkutan ikut terlibat karena tak bisa lewat. Ada yang menakutkan, karena suasana bisa berubah. Ketegangan terus meninggi, dan tindak kekerasan bisa terjadi setiap saat.

Untunglah kemudian ada penyelesaian. Konon izin diberikan di tanah lapang, bukan di jalan umum. Salah paham diluruskan. Tenda diangkat, walau sampai sore belum sepenuhnya selesai.

Ingatan jam-jam saling ngotot, sekali lagi, menakutkan. Karena tak terasakan sepenuhnya adalah kecemasan yang berkembang liar:

kalau dibiarkan, nanti tiap Sabtu–Minggu akan ditutup seperti di…. Karena, karena, karena yang bernuansa politis, bernuansa identitas, dan curiga bahwa alat setempat sudah bekerja sama sejak awal.

Buktinya, mereka mendapat tenda gratis, dan sebagainya, dan seterusnya. Maka sungguh membahagiakan ketika akhirnya kompromi damai menyelamatkan dan menjadi jalan keluar.

Saya ingin mengingat sebagai penyelesaian baik tingkat kampung. Dan cepat. Dengan demikian tidak menjadi liar, tidak mengotakkotakkan, tidak menghadapkan satu kelompok dengan kelompok utuh yang lain.

Saya ingin mengingat kembali bahwa bazar adalah rumusan menciptakan pasar yang murah, damai, dan memberi ruang nyaman pada kebersamaan. Juga bahwa maksud baik kadang bisa berproses buruk. Ini pelajaran berharga—bagi semuanya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment