Koran Jakarta | January 17 2018
No Comments
Ibadah Haji

Bank Penerima Setoran Tabungan Haji Dikaji Ulang

Bank Penerima Setoran Tabungan Haji Dikaji Ulang

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melakukan seleksi ulang terhadap bank penerima setoran tabungan haji. Nantinya, hanya bank-bank berkategori sehat yang layak untuk menerima setoran haji.

“Selain berkonsentrasi dalam penerimaan pengalihan pengelolaan haji yang diperkirakan berjumlah hampir 100 triliun rupiah, saat ini BPKH juga fokus menyeleksi ulang bank-bank yang menjadi penerima setoran, selain karena telah habis masa perjanjian kerja sama, juga disesuaikan dengan syarat dan ketentuan UU yang baru berlaku,” kata anggota Badan Pelaksana BPKH, A Iskandar Zulkarnain, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan bank yang dianggap layak untuk menerima setoran haji adalah bank yang sehat, mempunyai kemampuan teknologi informasi terbaru, mempunyai jaringan nasabah dan calon jemaah yang banyak, serta memiliki produk perbankan program haji dan umrah.

Pada musim haji tahun 2017 ini, terdapat 17 bank yang ditetapkan sebagai Bank Penerima Setoran Haji-Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH) itu, terdiri dari enam bank umum syariah dan sebelas bank nasional yang mempunyai layanan Syariah.

Keenam bank umum syariah adalah Bank Mandiri Syariah, Bank Muamalat, Bank Mega Syariah, Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, dan Bank Panin Syariah.

Adapun sebelas bank umum nasional yang mempunyai layanan Syariah dan ditetapkan sebagai BPS-BPIH adalah, Bank BTN, Bank Permata, Bank CIMB-Niaga, Bank Sumut, Bank DKI, Bank Jateng, Bank Jatim, Bank Kepri, Bank Sumselbabel, Bank Nagari, dan Bank Aceh.

Sebelumnya, BPKH melakukan pertemuan yang membahas penyusunan kriteria dan syarat bank yang berhak menjadi Bank Penerima Setoran Haji (BPS) yang disesuaikan dengan kehadiran UU dan badan baru. Selain karena perjanjian kerja sama yang telah berakhir dengan Kemenag, BPS perlu memahami tugas pokok dan fungsi BPKH.

Salah satu poin penting dari amanat UU Pengelolaan Keuangan Haji adalah pembuatan virtual account sehingga calon jemaah haji yang telah menyetorkan dananya dapat mengetahui perolehan manfaat selama masa tunggu. Selama masa tunggu itu pula, calon jemaah yang mempunyai akun dapat mengetahui mutasi dan penambahan nilai manfaat.

Poin penting lainnya adalah pembaruan akad wakalah, akad transaksi pengelolaan, yang semula antara calon jemaah dengan Kemenag, sekarang calon jemaah haji mengalihkan amanat pengelolaan dana haji ke BPKH. cit/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment