Bangunan untuk “Rumah Sakit Darurat” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments

Bangunan untuk “Rumah Sakit Darurat”

Bangunan untuk “Rumah Sakit Darurat”

Foto : ANTARA/GALIH PRADIPTATA
A   A   A   Pengaturan Font

Seiring dengan merebaknya wabah virus Korona atau Covid-19, banyak bangunan yang berubah fungsi menjadi “rumah sakit dadakan”. Perubahan fungsi ini tentu harus memenuhi standar rumah sakit agar modifikasi yang dilakukan benar-benar aman bagi pasien maupun tenaga medisnya.

Untuk mengatasi membeludaknya pasien yang terpapar virus Covid-19 di sejumlah rumah sakit, pemerintah Indonesia telah menyiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai “Rumah Sakit Darurat”. “Rumah Sakit” yang disiapkan untuk menampung 3000 pasien tersebut kini telah menampung 387 pasien hingga Minggu (29/3).

Kemudian Pemprov DKI juga menyiapkan dua hotel yaitu Grand Cempaka Bisnis dan hotel D’Arcici untuk menampung tenaga medis. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Tanah Air, melainkan juga di sejumlah negara seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Italia, dan Brasil. Di Amerika Serikat, sejumlah hotel dan bangunan kosong telah berubah fungsi menjadi pusat penanganan sementara, seperti Javits Center di New York.

Di tempat tersebut sedianya akan diadakan Pameran Perabotan Kontemporer Internasional, namun karena tempat digunakan sebagai pusat bantuan sementara, penyelenggaraan pameran dibatalkan.

Di sisi lain, American Institute of Architects (AIA), sebuah organisasi profesi arsitek di Amerika Serikat telah meluncurkan satuan tugas (satgas) untuk berkonsultasi tentang cara mengadaptasi bangunan menjadi fasilitas kesehatan selama pandemi virus korona.

Satgas tersebut ditugaskan untuk memberikan informasi tentang cara mengubah bangunan yang ada menjadi fasilitas perawatan kesehatan, terutama untuk merawat pasien virus korona.

“Setiap hari, saya mendengar dari asitek kami yang merasakan rasa kewajiban moral yang mendalam untuk mendukung penyedia layanan kesehatan kami di garis depan pandemi ini,” ujar Jane Frederick, Presiden AIA seperti yang dilansir dari portal dezeen.

Memastikan Kesesuaian Frederick berpendapat pihaknya perlu memberikan informasi mengenai bangunan yang sesuai untuk para pasien. Hal tersebut lantaran, sejumlah bangunan mulai digunakan untuk menampung pasien yang terus mengalami lonjakan.

“Kami berharap gugus tugas ini menjadi sumber daya untuk memastikan bangunan disesuaikan dan aman untuk dokter dan perawat kamu,” ujar dia. Kirsten Waltz, Direktur Fasilitas,

Perencanaan dan Desain Layanan Kesehatan, Baystate Health, Massachesetts, sebuah lembaga nirlaba yang bekerja sama dengan gugus satuan tugas akan memberikan saran dalam memodifikasi bangunan menjadi sebuah rumah sakit. Untuk memenuhi pasien yang melonjak, fasilitas rumah sakit dapat lebih kecil. “Ini adalah perlombaan melawan waktu untuk fasilitas kesehatan untuk memenuhi kapasitas lonjakan tempat tidur,” ujar Waltz.

Selain itu, gugus tugas ini akan membantu menginformasikan tempat praktik terbaik untuk menilai dan menginventaris bangunan serta mengidentifikasi lokasi yang paling tepat untuk dapat digunakan dalam krisis ini. Molly Scanlon, ilmuwan dan arsitek kesehatan lingkungan, Ketua Gugus AIA mengatakan diperlukan tempat untuk merawat orang yang terpengaruh.

Penggunaan bangunan untuk menampung pasien yang terpapar virus korona merupakan pengalaman pertama penggunaan bangunan untuk pasien dengan virus yang tergolong sangat membahayakan tersebut.

Sebelumnya, belum ada penggunaan bangunan untuk kasus semacam ini. “Arsitek dan profesional desain serta konstruksi dalam posisi unik untuk membantu meningkatkan keterampilan pemecahan permasalaan.

Kami memunculkan ide untuk implementasi di masyarakat,” ujar dia. AIA juga mengembangkan laporan Covid-19 yang disebut Rapid Space Safety Assessment untuk mempertimbangkan kesesuaian bangunan dan ruangan untuk perawatan yang relavan.

Penyediaan Tempat Tinggal “Khusus”

Di tengah wabah virus korona, tempat tinggal menjadi kebutuhan utama bagi para pasien maupun tenaga medis. Masalahnya, orang yang telah terpapar Covid-19 tidak dapat sembarangan tinggal, sedangkan tenaga medis menjadi garis terdepan dalam penangan virus.

Dengan kondisi itu, mereka pun membutuhkan tempat tinggal “khusus” supaya virus tidak semakin menyebar. Persoalannya, ketika rumah sakit dibanjiri pasien virus korona hingga melebihi kapasitas, ruang istirahat menjadi tempat yang sangat dibutuhkan.

Pengusaha Jeff Wilson dan banker investasi Cameron Blizzard menyediakan perumahan untuk orang-orang-orang yang membutuhkan tempat tinggal di tengah wabah Korona di Amerika Serikat. Kedua pengusaha itu bekerja sama dengan Esther Choo, dokter, dan desainer kemanusiaan, Cameron Sinclair, mengembangkan tempat tinggal yang disebut Jupe Health.

Tempat tinggal Jupe Health tersebut menyediakan tiga fasilitas yang dapat digunakan secara cepat khususnya oleh rumah sakit di Amerika Serikat yang tengah mengalami lonjakan pasien Korona.

Tiga fasilitas tersebut terdiri Jupe Care yang dirancang untuk pasien yang tidak kritis, Jupe Plus sebagai unit perawatan intensif “ringan” serta area istirahat yang menyediakan tempat tidur untuk para tenaga profesional medis.

“Memiliki unit pemulihan yang dapat digunakan memberikan peluang untuk memerangi Covid-19 dan untuk mendukung para profesional medis di garis depan,” ujar Sinclair, seperti yang dilansir dari dezeen.

Cegah Penyebaran Label yang berada di bawah naungan Jupe ini telah membuat prototipe Unit Perawatan dan Istirahat. Unit ruang istirahat dirancang untuk menyediakan tempat istirahat bagi profesional medis yang ingin beristirahat. Langkah ini dilakukan agar mereka tidak perlu pulang ke rumahnya masing-masing untuk menghindari penyebaran virus korona.

Masing-masing dilengkapi tempat tidur dan Internet of Things untuk berbagi data serta kontrol terhadap udara, iklim, maupun kebisingan. Untuk Jupe Care yang digunakan untuk pasien yang tidak kritis dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur, toilet, wastafel, dan shower.

Ruangan ini juga terdapat ventilator dan ruang terpisah untuk para professional medis yang akan melepas dan mengenakan pelindung. Unit-unit tertutup dengan lingkungan luar.

Selain itu, unit dilengkapi tenaga surya dan tenaga baterai serta pembuangan air. Wilson mengatakan proyek ini telah mempertemukan para profesional dari berbagai bidang, termasuk film, desain dan percetakan 3D.

“Belum pernah ada tim insinyur roket, perancang mobil, arsitek, kemanusiaan, dokter, ahli IoT, dan pelaku bisnis perhotelan berkumpul dalam proyek seperti ini,” ujar dia.

Bantuan Gedung BNN untuk Tangani Covid-19

Pemerintah Kota Bogor mempertimbangkan tawaran dari Badan Nasional Narkotika (BNN) untuk menggunakan ruangan di Pusat Rehabilitasi Narkoba di Lido Kabupaten Bogor, sebagai tempat penampungan pasien positif Covid-19 jika jumlahnya terus bertambah.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, mengatakan hal itu kepada pers melalui dialog secara daring, di Kota Bogor, Rabu, terkait dengan upaya pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19.

Menurut Dedie A Rachim, Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko menawarkan kepada Pemerintah Kota Bogor untuk menggunakan ruangan di Pusat Rehabilitasi Narkoba BNN di Lido, jika pasien positif Covid-19 jumlahnya terus bertambah dan tidak tertampung di rumah sakit di Kota Bogor.

Tawaran dari Komjen Pol Heru Winarko, menurut Dedie, bahwa Gedung Pusat Rehabilitasi di Narkoba di Lido, Cigombong, Kabupaten Bogor, dapat dimanfaatkan sebagai rumah sakit pendukung, jika pasien positif Covid-19 tidak tertampung lagi di rumah sakit di Kota Bogor.

“Tawaran dari BNN ini menjadi pertimbangan dan sedang dibicarakan dengan Tim Crisis Center Covid-19 Kota Bogor. Karena, memanfaatkan ruangan Pusat Rehabilitasi Narkoba ini perlu modifikasi, menyiapkan alat-alat pendukung, serta membangun ruang isolasi kompresi negatif,” katanya.

Dedie menambahkan, Pemerintah Kota Bogor juga mendapat tawaran untuk memanfaatkan gedung milik sebuah perusahaan properti yakni Grup Elang Properti di Jalan Cifor, Bogor Barat, Kota Bogor, untuk dimanfaatkan menjadi rumah sakit sementara guna menampung pasien positif Covid-19.

“Baik tawaran dari BNN maupun dari Elang Properti, kami apresiasi. Ini menunjukkan kepedulian berbagai pihak pada penanganan pandemi corona di Indonesia, khususnya di Kota Bogor,” katanya.

Selain bantuan gedung untuk rumah sakit sementara, menurut Dedie, Pemerintah Kota Bogor juga mendapatkan bantuan lainnya dari berbagai pihak yang terkait dengan penanganan pandemi Covid-19 di Kota Bogor, seperti google medis, masker, pembersih tangan dan cairan disinfektan.  Ant/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment