Koran Jakarta | September 21 2018
No Comments

Bangun Toleransi melalui Bersih-bersih Tempat Ibadah

Bangun Toleransi melalui Bersih-bersih Tempat Ibadah

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Setelah bersih-bersih di dua tempat ibadah, PANDAI akan membuat kegiatan bersih- bersih tempat ibadah di tempat ibadah lainnya, antara lain Pura, Wihara maupun Gereja Katolik.

Perbedaan agama kerap dimanfaatkan segelintir kelompok masyarakat untuk memicu konflik. Realita ini masih terjadi di masyarakat. Konflik-konflik di Tanah Air kerap membawa label agama sebagai salah satu pemicunya.

Tak pelak, eksklusifitas kelompok makin menganga. Lalu perpecahan mudah timbul untuk mencari kebenarannya masing-masing. Untuk mencairkan suasana agar terasa damai, diperlukan kegiatan-kegiatan bersama lintas iman dan keyakinan. Salah satunya adalah bersih-bersih tempat ibadah lintas iman.

Kegiatan ini dilakukan oleh komunitas PANDAI (Pendidikan Damai Indonesia). Bersih-bersih tempat ibadah lintas iman menjadi pencair intoleransi. Kegiatan ini menjadikan keberagaman agama dan keyakinan di Tanah Air akan kian terasa sejuk. Di ajang ini, PANDAI mampu meruntuhkan sekat perbedaan yang kerap membelenggu di masyarakat. Padahal yang terjadi di masyarakat tak sepenuhnya demikian, ada keinginan dari masyarakat untuk hidup selaras berdampingan.

Hanya saja, perbedaan yang kadung berakar membuat mereka lebih memilih menarik diri daripada menimbulkan konflik. “Seperti saya muslim, teman saya, Jessica, Katolik. Sebelumnya kami tidak pernah ngobrol dan ada rasa negative thinking,” ujar Isti Toq’ah, pendiri PANDAI yang ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Tetapi kemudian, setelah saling terlibat dalam bersih-bersih rumah ibadah yang disebut sebagai program Bersih- Bersih Quy (BBQ), perbedaan menjadi lebur. “Pas ketemu di bersih-bersih, jadi ngobrol. Kamu suka nggak film The Give Mas Hanung, kapan-kapan kita nonton yuk, jadi ketemu human interestnya,” ujar wanita yang meraih gelar master dari University For Peace, Costa Rica, tentang konflik yang bisa ditransformasikan ini.

Kagiatan bersih-bersih yang merupakan kegiatan umum semua lapisan masyarakat mampu mencarikan sekat perbedaan diantaranya masyarakat. Isti menggunakan kearifan lokal gotong royong untuk menggalang kegiatan ini. Wanita yang pernah memahami imannya secara radikal tersebut berpandangan gotong royong sebagai kearifan lokal mulai memudar, terlebih di kota besar semacam Jakarta.

Melalui PANDAI, dia ingin menghidupkan kembali kearifan lokal yang telah dikenal masyarakat karena terbukti mampu merekatkan hubungan antar anggota masyarakat. Sampai saat ini, PANDAI telah membersihkan sebanyak dua rumah ibadah lintas iman. Yang pertama, Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta Pusat dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kayu Putih, Jakarta Timur yang dimulai sejak Mei lalu. Niat baik membersihkan tempat ibadah disambut baik oleh pengelola.

Dengan tangan terbuka, mereka memberikan ijin rumah ibadahnya dibersihkan oleh PANDAI. Bahkan di GKI Kayu Putih, mereka menyediakan hidangan buka puasa berupa kurma dan beberapa hidangan lainnya. “Mereka cukup antusias karena selama ini beluma ada teman muslim yang mengajak berkolaborasi,” ujar dia ketika mengadakan BBQ di GKI.

Tanpa disangka, jumlah beserta yang terlibat menjadi relawan terus bertambah. Katika membersihkan Masjid Cut Nyak Dien sebagai kegiatan pertama, Pandai mampu mengumpulkan relawan sekitar 25 peserta. Sedangkan saat membersihkan GKI Kayu Putih, PANDAI mampu mengumpulkan relawan sebanyak 60 orang. Jumlah yang cukup besar mengingat awal membuat kegiatan, Isti tidak mentargetkan terlalu banyak. Ia hanya bergerak bersama seorang teman.

Peserta lain diperoleh setelah dia membuka relawan melalui Komunitas Indorelawan. PANDAI mulai berdiri sejak 2016, saat itu Isti melakukan proyek perdamaian sebagai tugas S2 di Balikpapan, Kalimantan. Ia membuat training selama seminggu tentang pemahaman konflik maupun perdamaian di SMA 1 Balikpapan, bersama temanya dari Jepang.

Setelah proyeknya selesai, dia baru memulai kegiatan kembali pada Mei 2018 dengan kegiatan BBQ. Setelah berjalan di dua tempat ibadah, dia akan membuat kegiatan di tempat ibadah lainnya, antara lain pura, wihara maupun Gereja Katolik. Beberapa kegiatan lain seperti anti genosida telah direncanakan PANDAI, komunitas pendidikan untuk perdamaian Indonesia (terutama muda mudi) dengan memanfaatkan kearifan lokal. din/E-6

Perlunya Edukasi Menghargai Perbedaan

Perbedaan bukan hal mudah untuk diterima di masyarakat. Karena terkadang, pelakunya dikucilkan dari lingkungan masyarakat bahkan keluarga. Butuh keberanian supaya mereka dapat bergaul berdampingan antara satu dengan yang lainnya. Hal tersebutlah dialami Meilani Sasmita, 23, karyawan swasta. Sebagai muslim, gadis yang terlahir dari warga keturunan menjadi minoritas dalam keluarga besarnya.

Sindiran-sindiran yang terkait dengan agama kerap diterimanya. “Itu agama lo suka ngebom-ngebom, entah bercanda atau serius kita nanggepinnya sensitif,” ujar dia.

Sejak sekolah, pengelompokkan berdasarkan agama telah dirasakannya. Seperti ketika di sekolah, dia kerap diajak bergaul dengan agama tertentu saja.

Bahkan saat duduk dibangku sekolah dasar, dia bersekolah di sekolah Kristen, karena lebih banyak tinggal di keluarga ayahnya yang kebanyakan beragama Kristen. “Sorenya, saya dijemput mama untuk mengaji di madrasah, itu pengalaman yang lucu,” ujar dia.

Meilani telah merasakan multikutural sejak kanakkanak. Keluarga besar dari ayahnya menganut agama yang berbeda-beda, mulai Kristen, Katolik, Budha maupun Islam. Sampai saat ini, Meilani masih merayakan imlek sesuai kebiasaan kakek nenek dari keluarga ayahnya yang merayakan peringatan hari besar tersebut. Kerapkali, perbedaan agama dirasakan menjadi bukan persoalan sederhana termasuk di lingkungan keluarga.

“Aku minoritas, tapi lingkungan keluarga nggak sepenuhnya mendukung. Mereka saling membela agamanya masing-masing,” ujar dia. Sehingga, Meilani merasakan kurangnya rasa saling menghargai karena adanya perbedaan agama. Umamah Nisaul Janna, 24, Koordinator BBQ (Bersih- Bersih Quy) tidak memiliki pengalaman seperti Meilani.

Namun, upayanya untuk mengadakan bersih-bersih tempat ibadah lintas iman tak urung membuat nyalinya ciut. “Awalnya, kami agak takut karena isunya sensitif, belum lagi isunya suka digoreng-goreng” ujar dia. Maka sebagai kegiatan awal, Umamah dan Isti Taq’ah melakukan kegiatan bersih-bersih di masjid, terlebih mendekati ramadan.

Ternyata niat bersih-bersih tempat ibadah mendapat sambutan hangat dari pengelola tempat ibadah. Bahkan di gereja, mereka mendapatkan sambutan baik. Yang terpenting, dengan kegiatan tersebut, antar umat beragama bisa saling menjaga kerukunan bahkan menghilangkan stigma negatif satu sama lain. din/E-6

Mentransformasi Konflik untuk Perdamaian

Rasa prihatin bahkan was-was langsung muncul begitu mendengar konflik di suatu wilayah. Konflik hampir tak pernah berkesudahan, selesai satu konflik akan muncul konflik lainnya. Misalnya saja penyerangan teroris di sebuah gereja di Surabaya. Sebuah penyerangan yang menewaskan beberapa jemaat gereja dan masyarakat. Yang menyedihkan, pelaku menggunakan atribut agama tertentu dan memicu sentimen negatif di masyarakat. Isti Toq’ah, pendiri PANDAI mengatakan bahwa konflik bisa saja akan selalu ada.

”Konflik itu sudah lumrah, dimanamana ada. Tergantung, kita mau menghadapi atau enggak, menyelesaikan atau enggak,” ujar dia. Sehingga, langkah yang diperlukan bukan menghindari konflik namun menyelesaikan konflik. Cara menangani konflik dapat dilakukan dengan mengenal diri sendiri maupun mengenal lingkungan sekitar. Melalui kegiatan PANDAI, Isti mengumpulkan sejumlah relawan dari latar belakang beragam satu kegiatan yang dilakukan bersama-sama.

“Mungkin cara sederhananya adalah dengan kerja bakti bersih-bersih,” ujar dia. Cara tersebut menjadi langkah awal untuk mengenal maupun menangani konflik.

Jika mengacu pada konflik yang terjadi di dalam negeri, konflik banyak pecah menjadi keributan, rusuh bahkan radikal karena tidak dapat tertangani. Di dalam negeri konflik tidak hanya dipicu masalah agama namun berbagai perbedaan.

“Terutama jika konflik tidak dapat tertangani dengan baik,” ujar Isti. Konflik makin meruncing karena dipolitisasi. “Biasanya ke agama dulu lalu dicampur adukkan dengan berbagai hal, jadinya repot,” ujar dia. Isti yang mengambil master dalam bidang perdamaian di University For Peace, Kampus Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan bahwa konflik perlu ditransformasikan ke perdamaian. Tujuannya supaya konflik tidak menimbulkan perang di kemudian hari.

Poso maupun Ambon menjadi daerah yang pernah mengalami konflik beberapa tahun yang lalu. Saat ini bersama Manado, daerah ini menjadi tiga daerah yang paling toleran di Indonesia.

Berbeda dengan Yogyakarta dan Jakarta yang menjadi kota intoleran di Indonesia. “Karena, Ambon, Poso dan Manado mau mengakui bahwa konflik bisa diselesaikan,” ujar dia. din/E-6

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment