Koran Jakarta | July 17 2018
No Comments
Perdagangan Global - Pemerintah Siapkan Insentif Fiskal agar Investor Bertahan

Bangun Kemandirian untuk Antisipasi Perang Dagang

Bangun Kemandirian untuk Antisipasi Perang Dagang

Foto : koran jakarta
A   A   A   Pengaturan Font

>>Penguatan ekonomi nasional dilakukan dengan memacu ekspor dan substitusi impor.

>>Perang dagang berpotensi memicu kenaikan tinggi bunga acuan AS, Fed Fund Rate.

 

JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dinilai bakal menyusutkan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global.

Oleh karena itu, sebelum dampak perang dagang meluas ke Indonesia, pemerintah harus fokus membenahi perekonomian dalam negeri, terutama mendorong kemandirian pada berbagai sektor.

Ekonom Indef, Eko Listiyanto, menambahkan solusi untuk mengantisipasi perang dagang adalah dengan meningkatkan daya saing, diversifikasi pasar ekspor, mengendalikan impor, dan mengundang investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI).

“Meskipun cara-cara ini tidak mudah untuk segera diterapkan, namun harus dilakukan.

Di sinilah peran hubungan bilateral dan kemampuan tim ekonomi membuka pasar ekspor. Sebelumnya, tentu saja kita harus memiliki produk andalan ekspor yang akan ditawarkan,” ujar dia, di Jakarta, Senin (9/7).

Sedangkan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengemukakan strategi tepat bagi Indonesia untuk menjaga perekonomian di tengah kondisi saat ini adalah dengan memperkuat permintaan domestik, mengendalikan defisit transaksi berjalan, dan mendorong arus masuk dana asing.

“Itu yang kami lakukan,” kata dia, Senin. Gubernur BI pun menyinggung langkah BI menaikkan bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate total sebesar satu persen sepanjang Mei–Juni lalu sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik pasar Surat Berharga Negara (SBN) bagi investor,

termasuk investor asing. Perry juga mengungkapkan perang dagang antara Tiongkok dan AS bakal memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dunia.

Selain itu, ada juga dampak ke pasar keuangan negara berkembang bila Bank Sentral AS merespons kondisi terkini dengan kenaikan tinggi bunga AS.

Dia menjelaskan perang dagang bakal menurunkan ekspor-impor Tiongkok dan AS sehingga mengganggu pertumbuhan ekonomi kedua negara, dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

“Akan merambat juga ke negara-negara lain,” kata Perry. Dia menambahkan perang dagang berpotensi memicu kenaikan tinggi bunga acuan AS, Fed Fund Rate (FFR).

Hal ini bakal meningkatkan risiko arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar keuangan negara berkembang. Sepanjang tahun ini, FFR telah naik 0,5 persen seiring perkembangan inflasi dan ketenagakerjaan di AS yang sesuai target.

“Dalam beberapa hal adanya ketegangan kedua negara itu akan menimbulkan respons kebijakan moneter Amerika dengan suku bunga lebih tinggi, risiko di pasar keuangan juga tinggi, dan itu membuat penarikan modal dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia,” papar dia.

Selanjutnya, arus keluar dana asing dari negara berkembang membuat mata uang negara- negara tersebut melemah terhadap dollar AS. Bahkan, beberapa negara mengalami pelemahan tajam, tak terkecuali Indonesia.

Strategi Pemerintah

Sementara itu, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan langkah pemerintah untuk mengantisipasi ketidakpastian global seperti kondisi perang dagang hingga fluktuasi nilai tukar adalah memperkuat ekonomi nasional dan memberikan rasa aman bagi pelaku usaha.

“Jadi yang pertama tentu, menyikapi kondisi ekonomi makro maupun mikro di dunia dan dalam negeri.

Pokok bahasan utamanya adalah bagaimana kita memperkuat ekonomi nasional, juga memberi ketenteraman kepada industri nasional atau para pengusaha agar iklim investasi bisa dijaga,” kata Airlangga, usai rapat terbatas membahas strategi dan kebijakan menghadapi dampak ketidakpastian global, di Istana Bogor, Senin.

Dia menjelaskan penguatan ekonomi nasional dilakukan dengan meningkatkan ekspor dan melakukan optimalisasi terhadap impor, serta mengembangkan substitusi impor.

Hal pertama yang akan dilakukan pemerintah agar ekonomi nasional tetap kuat dan tidak ditinggal oleh para investor yakni dengan memberikan banyak insentif fiskal.

“Bapak Presiden sudah menyampaikan, kita melakukan optimalisasi full fiskal. Jadi, itu baik berbentuk bea keluar, bea masuk, maupun harmonisasi daripada bea masuk itu sendiri, agar industri punya daya saing dan mampu melakukan ekspor,” jelas dia.

Selain dari sisi insentif, pemerintah juga akan memberikan jaminan atas ketersediaan bahan baku, sehingga industri dalam negeri tetap berproduksi normal bahak bisa meningkatkan kegiatan ekspor. ahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment