Koran Jakarta | June 22 2018
No Comments
Ketua PBN U KH Marsudi Syuhud tentang Makna dan Implementasi Idul Fitri

Bangun Kedamaian dan Jaga Persatuan Bangsa

Bangun Kedamaian dan Jaga Persatuan Bangsa

Foto : koran jakarta /m fachri
A   A   A   Pengaturan Font

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 Hijriyah sebentar lagi akan tiba. Seluruh umat islam di Indonesia maupun yang tersebar di seluruh dunia akan bersama-sama menyambut dan mengumandangkan alunan takbir, tasbih, tahmid dan tahlil. Bahkan, ada sebagaian masyarakat, pada malam hari raya melakukan takbir keliling yang sudah menjadi budaya.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa ramadhan selama satu bulan penuh. Lalu, apa sebenarnya makna dari Hari Raya Idul Fitri ini, Koran Jakarta mewawancarai Ketua PBNUNU KH Marsudi Syuhud. Berikut petikannya.

Apa makna dari Idul Fitri ini? Idul Fitri ini artinya kembali fitrah (suci). Kenapa kembali? Karena sudah mampu menjalankan ubah puasa selama satu bulan. Dan, didalam puasa Ramadhan itu adalah bulan maghfiroh (ampunan). Jadi, umat Islam yang berpuasa selama Ramadan kalau meminta ampunan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sehingga manusia yang memperoleh kembali status kesucian. Tapi, ada syarat yang harus dilakukan agar mendapatkan ampunan Allah.

Lalu, syarat-syaratnya apa? Pertama, berhenti tidak melakukan perbuatan dosa, menyesal dan berjanji tidak akan melakukan lagi, memperbaiki diri agar kedepan lebih baik lagi serta terakhir meminta maaf kepada sesama yang pernah disakiti.

Kalau cara mengimplementasikan Idul Fitri menurut NU sendiri seperti apa? Ya itu tadi, setelah orang kembali suci dari dosa-dosa usai menjalankan puasa, biasanya diakhir itu ada lebaran dengan melakukan silaturrahmi untuk meminta maaf jikalau punya kesalahan. Kegiatan silaturahmi ini biasanya lumrah disebut ‘halal bi halal’, ini adalah tradisi yang dilakukan oleh Wali Songo dan NUNU, biasa kita sebut Islam Nusantara.

Harapan NU di Idul Fitri untuk bangsa Indonesia seperti apa? Meneruskan apa yang telah dilakukan pendahulu kita, yakni setelah ini kita diminta saling memberikan maaf. Di Idul Fitri ini harus saling memberikan kelonggaran hati agar damai, lalu menjaga persatuan dan kesatuan. Jadi, melakukan kritik boleh-boleh saja, tapi yang membangun dan positif dan tidak memecah belah. Itu harus diperhatikan.

Setelah Idul Fitri ada pesta politik di Indonesia, tanggapan kiai seperti apa? Ada capres, cawapres, caleg siapa saja boleh umumkan termasuk pak Amin Rais, intinya fastabiqul khoirot (berlomba-lomba untuk kebaikan). muhammad umar fadloli/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment