Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Bahagia setelah Membaca Puisi

Bahagia setelah Membaca Puisi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Puisi tidak hanya milik sastrawan. Sebagai karya seni, puisi dapat dinikmati semua kalangan. Komunitas Malam Puisi Jakarta memberikan ruang untuk membaca dan mendengarkan puisi. Karena, puisi dapat menjadi release atau pelepasan.

Rasa bahagia. Itulah hal tersebut yang diinginkan komunitas Malam Puisi Jakarta. Setelah orang membaca puisi, mereka pulang ke rumah dengan rasa bahagia. Segala kerumitan hidup seolah terurai hanya dengan membaca puisi sepenuh hati.

“Semangatnya, Malam Puisi untuk berekspresi tanpa ada penghakiman dan batasan,” ujar Bentara Bumi, 33, penggagas Malam Puisi yang ditemui dibilangan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (27/9).

Dalam pertemuan hampir setiap bulan sekali para hadirin dapat berpartisipasi membaca puisi. Mereka dapat membaca puisi karya sendiri maupun karya orang lain.

Dalam setiap pertemuan, penggerak komunitas akan membawa satu tas buku puisi yang bisa dipilih untuk sekedar dinikmati maupun dibaca di depan hadirin. Namun jika masih malu-malu, mereka cukup dapat menjadi pendengar.

“Berawal dari malu-malu berakhir malu-maluin,” ujar Bumi tentang para hadirin dalam pertemuan bulanan. Maksudnya, banyak kalangan newbie atau pendatang baru yang baru menikmati puisi dalam setiap pertemuan.

Awalnya, mereka malu-malu untuk membaca puisi bahkan sebagian sampai gugup saat membaca puisi. Namun setelah mencoba, keberanian mulai muncul, lama kelamaan mereka menjadi ketagihan.

Malam Puisi menjadi ruang ekspresi untuk mengungkapkan segala yang ada di dalam pikiran maupun benak. Semua kalangan dapat menghadiri pertemuan tersebut dan membaca puisi secara spontan.

Bumi mengatakan tidak ada seleksi terkait dengan puisi yang akan dibacakan. Masing-masing penikmat dan hadirin dapat memilih puisi sesuka hati bahkan dalam beragam bahasa, baik Inggris, Indonesia, Jawa, Sunda, dan lain sebagainya.

Komunitas Malam Puisi Jakarta dengan tegas tidak mencampur adukkan pembacaan puisi dengan diskusi lainnya. “Malam Puisi hanya boleh diisi dengan puisi dan musik yang berpuisi,” ujar wanita yang telah menulis puisi sejak usia 13 tahun. Karena, suasana yang akan dibangun akan berubah ketika puisi dicampurkan dengan diskusi.

Untuk penikmat yang mengikuti acara dari awal sampai akhir akan dapat menikmati suasana pemanasan sampai inti pembacaan puisi yang saling mendukung. Hal tersebut tidak lain karena, semua orang yang hadir bebas mengeluarkan ekspresinya.

“Semua senang, lepas dan membuat bahagia. Diharapkan di akhir membaca puisi, semua orang yang pulang dengan euforia bahagia, istilahnya mabuk kata,” ujar dia. Kalau terpotong dengan diskusi, suasana yang terbangun dapat patah ditengah jalan.

Sampai-sampai dalam pertemuan, tidak ada obrolan yang terlalu panjang karena semua waktu hanyut untuk membaca puisi. Ruang mengobrol hanya dilakukan oleh moderator disaat pergantian pembaca puisi.

Moderator yang biasanya berasal dari para penggerak atau anggota inti memiliki peranan untuk membangun suasana. Maka dalam setiap pertemuan, Bumi hanya membatasi waktu pembacaan puisi selama dua jam. Karena lebih dari dua jam, orang akan mulai bosan dan hilang konsentrasi. “Malam Puisi Jakarta dibawa untuk release, saya baru sadar,” ujar dia tentang kegiatannya tersebut.

Komunitas Malam Puisi Jakarta merupakan perlebaran dari Komunitas Malam Puisi yang didirikan di Bali di Kedai Kopi Kultur pada 2013. Komunitas bertujuan untuk menyediakan ruang bagi pecinta puisi, baik pendengar, penulis maupun pembaca puisi. Melalui akun twitter, Malam Puisi telah berkembang ke sejumlah kota di Indonesia. din/E-6

Ruang Aman dalam Berekspresi

Dalam suatu malam, seorang hadirin yang berasal dari Betawi tampak gugup di depan panggung. Ini adalah kali pertama, ia membaca puisi di depan khalayak umum, puisinya tentang Kue Apem Sayur Asem.

Ia membaca puisi dengan suara sedikit bergetar. Karena, puisinya dianggap memiliki nilai yang berbobot, dia diminta membacakan kembali. Semangat pun berkobar, dia membaca lebih tenang dan hadirin memberikan applause sesudahnya.

Berdiri di atas panggung lalu berekspresi menampilkan karya bukan perkara gampang. Ada memori negatif setiap diminta maju ke depan atau di atas panggung.

“Kita diajarkan kalau diminta ke depan berarti melakukan kesalahan, dipermalukan,” ujar Bumi tentang memori yang tertanam kuat sejak kanak-kanak. Bahkan ketika ada yang membaca puisi dengan gaya jaman dahulu yang identik dengan pergerakkan kerap ditertawakan. “Kondisi tersebut tidak nyaman sama sekali,” ujar dia.

Dalam malam puisi, ia tidak ingin menjadikan komunitas sebagai ruang penghakiman yang kadang terkesan lumrah di masyarakat. Stimuls-stimulus negatif yang mudah ditemukan di masyarakat menjadi sebuah refleksi bahwa manusia membutuhkan ruang aman. Bumi dan kawan-kawannya ingin menjadikan komunitas Malam Puisi sebagai ruang aman.

Ruang aman yang dimaksud merupakan ruang bebas berekspresi. Setiap, orang tidak akan pernah mendapatkan penghakiman tentang penampilannya membacakan puisi, baik berupa dengusan maupun celaan.

“Karena, saya percaya setiap hal positif akan meaningful (berarti),” ujar dia Hal tersebutlah yang membuat komunitas tidak pernah kehilangan sepi peminat. Komunitas yang dibentuk tanpa struktur mampu memancing orang untuk hadir.

“Karena, hasilnya bahagia nggak ada yang BT,” ujar dia. Dengan membaca puisi, semuanya ingin berekspresi bersama-sama tanpa memberikan penghakiman satu dengan lainnya. din/E-6

Apresiasi setelah Menampilkan Karya

Melalui puisi, sejumlah kalangan dapat mengeluarkan ekspresi dirinya sampai uneg-uneg dalam hatinya. Puisi memberikan ruang intim untuk menyampaikan segala hal secara jujur.

Ada kenyamanan saat membaca puisi. Hal tersebut yang dirasakan, Daud Zakaria,22, yang mengibaratkan puisi sebagai bagian kebutuhan hidup sehari-hari. Saat membaca pusi, ia mengibaratkan orang yang tengah menyatakan cinta.

“Yaitu mungkin, perasaan yang mungkin sama dirasakan ketika seorang menyatakan cinta,” ujar dia melalui layanan jejaingan sosial, Kamis (5/10). Puisi merupakan sarana membebaskan dari kepenatan dan hal-hal yang tidak bisa dikatakan Maka, laki-laki yang biasa disapa Zak sangat menikmati ruang untuk menyalurkan “haknya” tersebut.

Hal serupa dirasakan, MM Al Muhtadi MD, 32, karyawan di salah satu digital agency, ia merasakan kelegaan luar biasa saat membaca puisi. Karena, puisi menjadi ruang untuk menyampaikan segala hal yang ada dalam hati maupun pikirannya.

“Persaannya lega karena berkesempatan untuk mengekspresikan diri,” ujar laki-laki yang biasa disapa Al. Ada kerinduan tersendiri setiap menulis maupun membacakan puisi.

Baik Zak maupun Al mengatakan puisi yang dibacakan tidak selalu puisi hasil karya sendiri. Terkadang, mereka membacakan puisi karya orang lain. Seperti Zak, ia lebih senang membaca puisi katya penyair terkenal. Puisi karya Sapardi Joko Damoni, Chairil Anwar atau Amir Hamzah menjadi puisi yang kerap dibacakan di depan khalayak umum.

Laki-laki yang mulai membaca puisi pada 2014 ini ingin mengingatkan bahwa bangsa yang besar ini memiliki sastrawan yang karyanya luar biasa. “Karena itu, aku ingin para pendengar yang hadir merasakan bahwa Indonesia memiliki sastrawan yang tidak kalah dengan produk luar,” ujar dia.

Kalau Al lebih memilih menggabungkan antara keduanya, yaitu membaca puisi karya sendiri maupun karya orang lain. Bahkan terkadang, dia baru mempersiapkan puisi sebelum acara dimulai.

Dalam membaca puisi, dia selalu berupaya menghidupkan suasana pendengarnya. Maka tak jarang, laki-laki yang menggondol sejumlah penghargaan membaca maupun menulis puisi ini membaca puisi dengan sangat dramatis meskipun temanya mengenai aforisma atau ungkapan mengenai doktrin.

Melalui komunitas, keduanya menemukan ruang untuk mengekspresikan diri. Tidak sekadar, perasaan yang ditulis dalam selembar kertas namun perasaan yang diungkapkan di depan khalayak hadirin para penonton. Apresiasi menjadi penghargaan setelah selesai mengungkapkan karya. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment