Koran Jakarta | June 23 2018
No Comments

Awas, Berlian Buatan Makin Merangsek Pasar Berlian Dunia

Awas, Berlian Buatan Makin Merangsek Pasar Berlian Dunia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Berlian sintetis (buatan) yang konon sangat sulit untuk dibedakan dengan berlian asli, sudah merambah pasar berlian dunia. Dibutuhkan perangkat khusus untuk mengidentifikasi mana yang asli dan mana yang palsu.

Menyebarnya berlian sintetis di Tiongkok yang awalnya didesain untuk keperluan industri seperti pengeboran minyak, menjadi ancaman untuk pasar berlian dunia yang memaksa De Beers untuk berinventasi sebesar 10 juta dolar. Investasi ini bertujuan untuk menciptakan sebuah metode guna mengidentifikasi berlian buatan manusia yang persis seperti aslinya.

Sebuah tim peneliti pada tambang raksasa mendedikasikan penelitiannya untuk menemukan perbedaan yang terdapat pada berlian sintesis dan alami. Sementara yang lainnya bekerja untuk mengembangkan teknologi mutakhir yang mampu menyaring berlian palsu, yang merupakan sebuah investasi yang populer di antara para pembuat berlian, yang umumnya terdapat di China dan India.

“Mereka ingin yakin dengan berlian yang mereka beli untuk keperluan bisnis mereka atau menjualnya ke pada para retailer,” kata Jonathan Kendall, Presiden dari De Beers International Institute of Diamond Grading and Research. Selama bertahun-tahun, Kendall memimpin tim peneliti di London yang menentang berlian sintesis yang dijual layaknya berlian asli.

Bahkan ahli berlian di dunia pun tidak bisa membedakan mana yang asli dengan mata telanjang, yang mana teknologi seperti ini sangat dibutuhkan. “Kehadiran laboratorium berlian merupakan sebuah tantangan yang mana banyak asumsi bahwa harga berlian meningkat hanya karena persediaan alami berlian yang meningkat dan permintaan pasar orang Asia yang kuat,” kata Georgette Boele, Koordinator Strategi Logam dari ABN Amro.

Menciptakan laboratorium seperti ini hanya butuh beberapa minggu, berlian sintetis pun secara senyawa sangat identik dengan berlian asli. Keduanya sama-sama terbuat dari bibit berlian yang tumbuh dari kristal baru berkat bantuan dari gas dari karbon yang bekerja dalam temperatur dan tekanan yang sangat tinggi.

Perusahaan-perusahaan yang mengonsumsi bebatuan langsung muncul dan berkembang dengan pesat di seluruh Tiongkok dengan estimasi 160 sampai 200 ribu karat kualitas berlian yang dihasilkan setiap bulannya. Hal ini tentunya cukup untuk mendorong negeri tersebut sebagai negara dengan produksi berlian sintetis teratas di dunia. “Separuh dari pendapatan berlian di Tiongkok didapatkan dari berlian sintetis,” kata Zu Endong, Deputi Direktur Institut Gemological di Yunan, yang notabene provinsi yang terkenal dengan transaksi berlian.

Selagi peneliti mewaspadai berlian sintetis yang berkemungkinan mengikis keberadaan tambang bebatuan alami yang disukai oleh kalangan atas, isu yang hadir ini merupakan sebuah gebrakan di mana adanya laboratorium berlian tidak banyak diberitakan dan diinterupsi oleh sirkulasi berlian yang ada diperjualbelikan di Asia.

Pada 2015 di Shanghai, pihak berwenang menemukan 14 persen dari berlian dan set perhiasan yang diberi label asli, merupakan buatan manusia. Kejadian serupa terjadi pula di Mumbai, India, yang merupakan negara nomor satu dalam ekspor berlian. Kejadian seperti ini tentunya menjadi perhatian bagi retailer-retailer yang memiliki prioritas untuk memberikan pelanggan mereka sesuai dengan apa yang dibayar.

Permintaan untuk memiliki mesin pendeteksi pun muncul dari negara-negara seperti Tiongkok dan Hong Kong. “Di Tiongkok, mereka membuat banyak perhiasan yang akan dipasarkan di seluruh dunia. Dan pembeli pasti tidak akan senang jika membeli perhiasan yang besar dan menemukan yang kecil di sekelilingnya bukanlah yang asli,” kata Kendall.

Zu dari Institut Gemological Yunan menambahkan adanya laboratorium berlian sangat penting untuk pemasaran dan penjual berlian asli yang terus meningkat. gma/R-1

Detektor Berteknologi Tinggi

Menurut laporan Morgan Stanley Capital International, berlian buatan laboratorium mencapai 1 persen dari penjualan berlian pasar global, namun pangsa mereka dapat berkembang menjadi 7,5 sampai 15 persen pada 2020.

Pertumbuhan tersebut kemungkinan akan meningkat seiring semakin banyaknya perusahaan global yang terjun dalam persaingan. Pada April, Swarovski adalah orang pertama yang mengungkap sebuah garis yang disebut “berlian buatan”, yang menargetkan milenium etis, yang tidak ingin mendukung apa yang disebut “berlian darah”.

Sementara para ahli memperingatkan bahwa berlian sintetis dapat mengikis daya pikat batu yang ditambang secara alami yang dipuja orang kaya di masyarakat.

Dalam kasus 2015 di Shanghai, pihak berwenang menemukan 14 persen berlian kasar dan perhiasan yang diberi label “alami” buatan manusia. Insiden serupa terjadi di Mumbai, India, yang merupakan negara pengekspor berlian nomor satu dunia.

Berlian buatan manusia, mulai menarik perhatian sekitar 1950an, ketika batu berwarna kuning sampai cokelat tersebut banyak digunakan dalam aplikasi industri karena kekerasannya.

Baru dalam setengah dasawarsa terakhir, teknologi telah maju ke tingkat yang oleh para ilmuwan di De Beers, di mana ditemukan detektor berteknologi tinggi yang dapat melacak berlian versi sintetis yang tidak berwarna.

Permintaan untuk mesin pendeteksi ini sangat kuat di Tiongkok, termasuk Hong Kong, dengan sekitar sepertiga dari penjualan global De Beers. Contoh, Chow Tai Fook, perusahaan pembuat perhiasan yang berbasis Hong Kong, adalah klien top De Beers.

Pada pameran dagang di Hong Kong, beberapa waktu lalu, De Beers meluncurkan teknologi verifikasi berlian terakhirnya, AMS2 seharga 45.000 dolar AS. Dalam beberapa jam pertama peluncurannya, lebih dari selusin pesanan telah masuk. gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment