Koran Jakarta | February 22 2018
No Comments

api Koruptor dan Bandar Narkoba Selalu Jadi VIP

api Koruptor dan Bandar Narkoba Selalu Jadi VIP
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Surat-Surat dari Balik Jeruji

Penulis : Zeng Wei Jian

Tebal : XX + 187 halaman

Cetakan : 2017

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-04-1371-6

Kerusuhan terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Banda Aceh pada awal Januari ini. Kejadian tersebut menambah panjang daftar masalah yang harus diselesaikan Kemenhumkam. Sebelumnya, kerusuhan di lapas juga pernah terjadi di Bali, Bandung, Bengkulu, Jakarta, Jambi, Medan, dan Pekanbaru.

Lantas, kenapa lapas belum berhasil menjadi tempat mendidik dan membimbing narapidana (napi)? Salah satu yang paling klasik dan belum selesai, seperti dibisiki Zeng Wei Jian melalui Surat-Surat dari Balik Jeruji, adalah kelebihan kapasitas. Beberapa penjara bisa kelebihan 600 persen. Tidur tak mungkin nyaman. Napi penghuni kamar cenderung temperamental (hal 103).

Penjara yang kelebihan kapasitas makin menyulitkan kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan air. Menurut Ken-Ken, begitu penulis buku ini biasa dipanggil, cita rasa makanan penjara selalu tawar. Kualitas makanan diperparah dengan sering ditemukannya “alien object” seperti cecak, kelabang, kecoa, serpihan plastik, kerikil, sampai gigi manusia.

Pasokan air juga tak selalu memadai. Bila persediaan air menipis, sel pesing. Toilet menjadi licin karena dilapisi lumut menghitam. Belum lagi sisa-sisa kotoran yang tak tersiram. Kalau sudah begitu, para napi harus berbagi kamar dengan kecoa.

Kehidupan penjara selalu keras. Secara umum, tradisi bagi napi baru digunduli, diisolasi di sel mapeling (masa pengenalan lingkungan), dan “dilunturin.” Istilah terakhir itu berarti dipukuli. Tradisi lainnya “jalan bebek” alias jalan jongkok dengan kedua tangan ditekuk di kepala. Tradisi yang lebih keras adalah “jalan lumba-lumba,” berjalan menggunakan perut dan tangan ditekuk di atas kepala.

Dengan kondisi serba-tak enak, “moto” di penjara “uruslah dirimu sendiri.” Semua sudah memikul beban di pundak masing-masing (hal 37). Tindakan ceroboh bisa memicu bencana. Seorang napi bisa tiba-tiba ditikam, tanpa alasan jelas (hal 102). Maka sikap, tutur kata, tata krama, bahkan sorot mata, harus dijaga. Betrok fisik kerap pecah hanya karena saling menatap (hal 130). Tentu tidak semua penjara dan napi seperti itu. Ada napi kelas Very Important Person (VIP) yang kasus korupsi atau narkoba. Mereka bisa tetap nyaman karena mampu membayar petugas.

Tulisan mantan napi yang pernah mendekam di empat penjara ini layak dibaca. Masyarakat awam seolah diajak mengintip kehidupan di balik jeruji. Sekurang-kurangnya, pembaca bisa merenungi kalimat di halaman akhir buku ini, “Sebelum seseorang masuk penjara, aku kira dia mungkin akan sulit menyadari bahwa bumi ini indah. Bahwa kehidupannya dan kehidupan manusia lain sangat berharga. Kebebasan itu tak ternilai. So, use it before you loose it. Trust me, sesulit apa pun masalahmu, sesengsara apa pun duniamu, tak akan sepedih di dalam neraka yang dinamakan penjara. Maka, bersyukur dan bersuka-citalah, selalu dan setiap saat.” 
Diresensi Dedi Setiawan, Alumnus Telkom University, Bandung

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment