Koran Jakarta | January 17 2018
No Comments
Pengelolaan Anggaran - Kenaikan “Rating” Harus Bisa Turunkan Biaya Utang

APBN Kredibel jika Utang Turun dan Penerimaan Negara Naik

APBN Kredibel jika Utang Turun dan Penerimaan Negara Naik

Foto : Sumber: Kemenkeu – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font
Bergantung utang membuat upaya menjaga defisit fiskal pada level aman semakin sulit. Pembiayaan defisit lewat SBN akan menyebabkan goncangan likuiditas pada perbankan.

JAKARTA - Kredibilitas APBN akan terjaga apabila penerimaan negara meningkat dan utang berkurang. Namun, permasalahan Indonesia saat ini, penerimaan negara (perpajakan) masih di bawah target, tidak mampu mengikuti kebutuhan belanja negara. Kondisi tersebut menyebabkan akumulasi defisit anggaran semakin tinggi.

Untuk menambal defisit, pemerintah secara reguler menarik utang melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). “Menurut saya kalau kita berfokus pada utang justru tidak menambah perbaikan kredibilitas APBN, tapi justru akan memberikan persepsi lain pada investor bahwa kita gali lubang tutup lubang,” kata ekonom Indef, Abdul Manap Pulungan, di Jakarta, Kamis (11/1).

Selain itu, lanjut dia, tantangan menjaga defisit fiskal pada level aman semakin sulit karena defisit telah bersifat struktural. Implikasinya, pemerintah terus menarik utang baru untuk menutup bunga dan pokok utang lama. “Keseimbangan primer terus menunjukkan persoalan serupa. Keseimbangan primer juga telah defisit sejak 2012,” ungkap Manap.

Keseimbangan primer merupakan selisih antara pendapatan negara dikurangi belanja negara tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang. Bila neraca tersebut defisit maka pemerintah sesungguhnya membayar bunga utang dengan utang baru, karena pendapatan tidak mampu lagi menutup belanja. Akibatnya, kata Manap, beban fiskal semakin berat.

Pada September 2017, utang pemerintah mencapai 3.866 triliun rupiah. Pada saat menumpuk utang sebenarnya beban negara meningkat, terutama pada pemerintah berikutnya. Hal ini akan berdampak pada pemangkasan sejumlah anggaran prioritas. “Artinya, jika kita berfokus pada utang sebagai penambal defisit, akan ada risiko makroekonomi maupun risiko politik yang akan muncul,” tukas dia.

Menurut Manap, pembiayaan defisit lewat lelang SBN akan menyebabkan goncangan likuiditas pada sektor perbankan. Sebab, akan ada migrasi dana dari perbankan ke rekening pemerintah karena menawarkan yield lebih tinggi. Selain itu, pemerintah biasanya akan melakukan prefunding pada akhir tahun untuk pembiayaan tahun berikutnya.

Padahal, pada saat yang sama perbankan akan melakukan tutup buku, sehingga akan ada goncangan pada beberapa indikator likuiditas di bank. “Implikasi lebih jauh adalah akan sulit mencapai suku bunga single digit jika pemerintah terus mengeruk dana dari masyarakat,” papar dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan pengelolaan APBN yang kredibel mendorong perbaikan peringkat utang Indonesia. “Saya bicara dari struktur ekonomi dan APBN yang makin sehat. Pengelolaan keseluruhan APBN yang mencakup penerimaan, belanja, dan pembiayaan yang kuat akan menimbulkan confidence,” ujar dia.

Hal ini tecermin dari lembaga pemeringkat utang yang memberikan outlook positif pada perekonomian Indonesia. Menkeu menjelaskan perbaikan peringkat utang akan memberi dampak positif dalam pengelolaan keuangan, seperti penurunan biaya pinjaman.

 

Nafsu Berutang

 

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Suroso Imam Zadjuli, mengingatkan kenaikan peringkat utang Indonesia hendaknya jangan diiringi naiknya nafsu berutang pemerintah. Meski utang bisa menghasilkan pertumbuhan, namun selama ini terbukti capaian itu tidak disertai pemerataan ekonomi.

“Untuk apa pertumbuhan bila tanpa disertai pemerataan, yang ada sekarang daya beli masyarakat turun,” tukas dia. Manap menambahkan, faktanya antara sektor keuangan dan sektor riil tidak ada kesinambungan. Artinya, pada saat ada perbaikan di sektor keuangan, seperti perbaikan rating utang, tidak ada kaitan langsung dengan aktivitas di sektor riil.

“Jadi, iklim investasi di sektor riil dan sektor keuangan itu sangat jauh berbeda. Karena pada saat bicara sektor riil akan berhadapan dengan masyarakat langsung, makanya walaupun ada perbaikan rating utang itu hanya perbaikan pada persepsi investor asing terhadap risiko yang ada di Indonesia, misalnya risiko fiskal dan pembayaran utang. Itu saja yang terpengaruh,” kata dia.

 

ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment