Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments
Indikator Ekonomi I Pendapatan Sejumlah Perusahaan Ritel Mulai Turun

Angka Konsumsi Indonesia Dinilai Janggal

Angka Konsumsi Indonesia Dinilai Janggal

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Semua faktor pendukung konsumsi yang diperlukan ada, namun angka konsumsi malah stagnan sehingga memengaruhi target pertumbuhan.

SINGAPURA — Sejumlah kalangan menilai angka konsumsi Indonesia terkesan janggal dan membingungkan. Hal itu karena sejumlah indikator penopang menunjukkan perbaikan, tetapi faktanya angka konsumsi malah stagnan. Indikator itu adalah lapangan kerja baru yang hampir mencapai empat juta orang, adanya kenaikan upah minimum, dan penurunan suku bunga acuan.

Indikator ini seharusnya cukup untuk mendorong konsumen meningkatkan daya beli. Namun, sebagai kompensasinya, orang semakin mencengkeram ketat dana dan menyimpannya di bank sehingga para pembuat kebijakan dan ekonom bingung. Bahkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, juga bingung dengan kondisi ini.

“Semua faktor pendukung konsumsi yang diperlukan ada di sana. Ini adalah sesuatu yang membingungkan,” ungkap Menkeu, beberapa hari lalu. Kondisi tersebut juga menyebabkan Bank Indonesia (BI) dilematis karena sudah melakukan pelonggaran moneter dengan agresif sejak tahun lalu, tapi juga tidak mengangkat pertumbuhan konsumsi pribadi di atas 5 persen.

Di sisi lain, ruang untuk pemotongan suku bunga lebih lanjut makin kecil karena BI harus menghadapi pelemahan mata uang seiring dengan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Disebutkan, pengeluaran oleh konsumen dan bisnis merupakan setengah dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia dan pertumbuhan yang lamban mengerem ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu.

Goldman Sachs Group Inc melihat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen untuk tahun ini didorong oleh pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi, sementara pertumbuhan konsumsi swasta dan penjualan ritel akan tetap datar. Presiden Joko Widodo telah berjanji untuk meningkatkan pertumbuhan menjadi 7 persen saat ia menjabat tiga tahun lalu.

“Masalahnya bukan daya beli, tapi kepercayaan diri untuk membeli barang tahan lama seperti mobil dan motor,” kata ekonom David Sumual seperti dikutip Bloomberg, kemarin. “Mereka punya uang, tapi mereka tidak mau belanja, terutama berpenghasilan menengah ke atas,” imbun David.

 

Ritel Rugi

 

Data sementara menyebutkan jumlah pekerja meningkat sebesar 3,9 juta pada tahun ini dan upah bulanan rata-rata naik 24 persen, namunpenjualan ritel tetap jauh di bawah tingkat pertumbuhan dua digit tahun lalu. Padahal, inflasi juga relatif terkendali dan mereda menjadi 3,7 persen pada September 2017.

Sedangkan BI melaporkan penjualan peralatan rumah tangga, seperti barang elektronik dan furnitur pada lima bulan berturut-turut hingga Agustus, turun 8 persen dari tahun lalu. Meskipun kepercayaan konsumen mendekati level tertinggi pada tahun ini di bulan September, namun perusahaan retail terbesar PT Matahari Putra Prima Tbkjustru membukukan kerugian sebesar 170 miliar rupiah atau 12,6 juta dollar AS pada semester pertama tahun ini.

Hal serupa juga dirasakan perusahaan ritel PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk yang mengaku pada Juli tahun ini mengalami penurunan penjualan 0,5 persen, dibandingkan dengan pertumbuhan 6,9 persen pada periode yang sama tahun lalu. Asisten Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, mengatakan pemotongan suku bunga akan memakan waktu untuk diterapkan.

“Sinyalnya cukup jelas, kami ingin ekonomi berjalan lebih cepat,” kata Dody. Bingung dengan minimnya belanja, Menteri Keuangan memerintahkan jajarannya untuk memeriksa konsumsi di antara berbagai kelompok pendapatan dan menemukan masalahnya terletak pada kalangan menengah dan berpenghasilan tinggi.

Salah satu alasannya, yang menurut beberapa ekonom, adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak. Melalui program tax amnesty berhasil terkumpul 11 miliar dollar AS. Namun, sejak program ini dimulai sampai berakhir justru mempengaruhi pola belanja konsumen masyarakat. 

 

SB/bud/ahm/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment