Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Kesehatan

Ancaman Penyakit TBC Makin Meningkat

Ancaman Penyakit TBC Makin Meningkat

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA -Indonesia se­dang mengalami peningkatan ancaman penyakit tuberkulo­sis (TBC) akibat bakteri jenis Mycobacterium Tuberculosis yang kian kebal terhadap vak­sin. Sebagai negara dengan jumlah kasus TBC terbesar ke­tiga di dunia, pemerintah telah menyediakan vaksin gratis un­tuk semua jenis TBC. Tetapi, banyak pasien yang hanya menjalani sebagian proses pengobatan yang membuat bakteri itu kebal dan pemuli­han menjadi lebih sulit.

Pengobatan untuk tuber­kulosis jenis DR-TB lebih su­lit daripada TBC biasa karena memerlukan obat yang ber­beda-beda dan lebih mahal, serta memiliki efek samping yang lebih kuat. Pengobatan DR-TB juga memakan waktu lebih lama karena pasien ha­rus minum obat hingga dua tahun, sementara kasus TBC biasa hanya butuh waktu enam bulan.

“Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan, di­perkirakan kita memiliki seki­tar 12.000 kasus DR-TB per ta­hun. Tetapi hanya sekitar 8.800 yang dapat didiagnosis. Dan hanya 75 persen dari pasien yang didiagnosis sepenuh­nya dirawat,” dokter ahli pe­nyakit paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Erlina Burhan, akhir pekan lalu.

Sebagian besar pasien DR-TB adalah pasien TBC yang tidak menyelesaikan program pengobatan enam bulan, atau tidak disiplin dalam minum obat harian selama pengobatan. Bakteri TBC menjadi lebih kuat dan kebal terhadap obat.

DR-TB adalah satu-satunya epidemi yang resistan terha­dap obat di dunia, dan telah menyebabkan kematian sep­ertiga dari semua kasus re­sistensi antimikroba secara global. Indonesia berada di urutan ketiga dengan kasus TBC terbanyak, setelah India dan Tiongkok.

Pengobatan DR-TB sangat mahal. Erlina mengatakan seorang pasien TBC biasa harus mengeluarkan biaya sekitar 1,2 juta rupiah untuk pengobatan sampai sembuh. Sedangkan pasien DR-TB membutuhkan lebih banyak jenis obat, dengan harga lebih mahal, dan harus disuntik se­tiap hari.

“Pasien DR-TB mungkin memerlukan biaya puluhan juta rupiah untuk perawatan intensif selama dua tahun,” tambahnya. SB/Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment