Ajang Unjuk Ekspresi Pegiat Budaya Indonesia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments
Asia Afrika Festival 2019

Ajang Unjuk Ekspresi Pegiat Budaya Indonesia

Ajang Unjuk Ekspresi Pegiat Budaya Indonesia

Foto : FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO
A   A   A   Pengaturan Font

Kebudayaan nasional dalam bentuk seni tari dan musik tradisi mendapatkan sambutan antusias di even karnaval Asia Afrika Festival (AAF) 2019. Puluhan jenis tarian tampil di sepanjang karnaval yang dimulai pukul 10.00 WIB, Sabtu pekan lalu di Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar)

Di sela-sela para penampil seniman, turut berjalan beriringan di area karna­val, delegasi dari 19 negara. Sembari melambaikan bendera, para delegasi yang melempar senyum ramah itu dibalas sambutan hangat dan riuh tepuk tangan dari warga yang meny­emut di sepanjang jalan Asia Afrika Kota Bandung.

Karnaval dibuka rampak perkusi, penampil demi penampil bergiliran memeriahkan karnaval yang rutin dis­elenggarakan setahun sekali itu.

Selain tarian, musik tradisi dengan berbagai unsur alat ditampilkan. Mis­alnya Ulin Barong dari Bandung yang menampilkan tarian diiringi alat musik bonang, tarompet tradisional Sunda serta bedug. Ada pula angklung buncis yang menampilkan kesenian angklung dari Kampung Adat Cireundeu.

Selain kesenian khas Jabar, hadir juga penampil dari kota lain. Tak kalah atrak­tif, penampilan Drumblack, kelompok drumband tamu dari Salatiga. Penampil ini memainkan format drumband de­ngan didominasi alat musik dari barang bekas. Kendati demikian, penampilan mereka sangat memukau.

Mayoritas penampil dalam karna­val AAF 2019 menyajikan pertunjukan seni tari dan musik tradisional dengan penampil yang berasal dari kalangan pegiat seni usia anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Mereka tergabung dalam rumpun kegiatan seni di Uni­versitas dan Sanggar Seni di berbagai wilayah Tanah Air.

Kendati demikian, karnaval ini di­meriahkan juga oleh penampilan jaja­ran TNI. Sebut saja Detasemen Kavaleri Berkuda yang memadukan kreasi tarian dan kebolehan dalam berkuda.

Di luar seni tari dan musik tradis­ional Jabar, para penampil dari per­wakilan Kota Bandung menampilkan pula benjang dan pencak silat, seperti dilakukan Prajurit Gagak Lumayung Jabar, Pencak Silat Panghegar dari Ci­baduyut dan Ben­jang Pancakomala dari Komunitas Seni Sapunyere di Bandung.

Silat adalah beladiri yang ber­asal dari kepulauan Nusantara dan sa­ngat mendunia hari ini. Sementara itu, benjang adalah jenis kesenian tradis­ional yang memadukan seni dan be­ladiri yang berkembang di Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung. Benjang sudah berkembang sejak akhir abad 19. Benjang hampir mengarah kepada permainan gulat, hanya saja beladiri ini diiringi lagu, yang cukup berperan pen­ting dalam menampilkan seni Benjang.

Benjang sapunyere membawa mak­na kekuatan yang terbentuk dari keber­samaan sapunyere. Sapunyere sendiri dalam Bahasa Indonesia adalah sapu lidi, di mana bersatunya helai lidi akan membuat sapu tersebut menjadi kokoh dan kuat.

Sementara itu, kebudayaan Nasional yang memukau para delegasi dan pen­gunjung antara lain penampilan Sir­awing Kudarenggong dari Kabupaten Bandung, Sisingaan Mekar Depok dari Kabupaten Bandung Barat, Kawasarang Minahasa dari Sulawesi, Tari Serampang 12 dari Medan, Tari Sahda Birawa dari Blitar, Bebegig Sukamantri dari Kabupat­en Ciamis, dan Tari Merak hasil persem­bahan Disbudpar Kabupaten Bogor.

Tak kalah spektakuler adalah Pawai Kesenian Bontang yang langsung di­dampingi Walikota Bontang saat unjuk kebolehan dalam karnaval. tgh/R-1

Gelorakan Solidaritas Negara Asia Afrika

Tahun ini KAA memper­ingati HUT yang ke-64. AAF 2019 adalah rang­kaian acara dalam peringatan KAA yang berlangsung di Bandung pada 1955.

Konferensi ini menggaris­bawahi perlunya negara-neg­ara berkembang untuk mel­onggarkan ketergantungan ekonomi mereka pada nega­ra-negara industri terkemuka serta sebagai bentuk penguat­an kerjasama antar bangsa di Asia-Afrika untuk menikmati kedaulatan bernegara.

Karnaval AAF 2019 dihelat di depan Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika, Bandung ini dihadiri 19 delegasi dari negara sahabat di antaranya Jepang, Irak, Palestina, Su­dan, Libia, Laos, Zimbabwe, Maroko, Kuwait, Mesir, Afri­ka Selatan, Tunisia, Uganda, Sierra Leone, Kenya.

Salah satu negara Asia-Afrika yang sampai hari ini belum menikmati ke­merdekaannya adalah Pales­tina. Oleh karenanya, sebagai wujud kepedulian Kota Band­ung terhadap Palestina, ser­emoni pembuka dalam gelar­an AAF 2019 ditandai dengan kegiatan menyusuri koridor Palestine Walk yang terletak di Timur Alun-alun Bandung yang diikuti para delegasi dan sejumlah kepala daerah.

Di dalam Gedung Merde­ka, para delegasi beserta ke­pala daerah menyusuri ko­ridor demi koridor museum dengan dipandu oleh peman­du wisata. Pengunjung nam­pak begitu takjub akan sejarah dunia yang pernah ditoreh­kan di Kota Bandung. Sejarah yang mempersatukan bangsa-bangsa di Asia Afrika.

Acara tersebut dihadiri pula oleh perwakilan dari Ke­menparbud, yang diwakili Staf Ahli Menparbud bidang Multi-Kultural, Esthy Reko Astuti.

Esthy menyebutkan, AAF 2019 adalah agenda Nasional yang keberadaannya sangat penting. Asia Africa Festival juga masuk ke dalam Top 10 CoE (Calendar of Event) Na­sional Kementerian Pariwisa­ta dan Kebudayaan RI.

“Acara ini dapat menstim­ulan para turis untuk datang, khususnya ke Kota Bandung,” ujar Esthy.

Selain menjadi pengingat pesan damai di negara Asia-Afrika, Esthy berharap, AAF 2019 menjadi ajang unjuk ekspresi bagi seluruh pegiat seni budaya di Indonesia, khususnya di Kota Bandung. tgh/R-1

Partisipasi Komunitas Bandung

Selain gelaran seni dan budaya, beberapa komunitas yang ada di Kota Bandung juga ikut unjuk kebolehan.

Seperti komunitas ojek online (ojol) dengan menampilkan parade skuter dihadapan para delegasi dan kepala daerah. Dengan kompak, para driver ojol ini menyuguhkan formasi atraktif dan mengundang apresiasi dari pen­gunjung. Perasaan ngeri penonton ditutup de­ngan tepukan kagum atas keberhasilan atraksi motoris driver ojol itu.

Di samping itu, ada sajian parade sepeda antik dari Paguyuban Sapeda Baheula. Komu­nitas ini menampilkan formasi dengan kostum pejuang sembari mengendarai sepeda. Sua­sana antik dengan sepeda kuno dan baju vin­tage ikut menambah kemeriahan suasana. Se­bagian anggota sudah berumur namun tidak sedikit pula anak-anak muda yang ikut ambil bagian dengan sepeda kunonya.

Bandung Korea Community ikut me­nampilkan kebolehannya di AAF 2019. Komu­nitas pecinta Korea yang sudah bediri sejak 2006 dan memiliki 23 generasi ini tampil de­ngan kostum Korea dan memukau para tamu beserta para pengunjung.

Sajian atraktif dari puluhan kelompok seni dalam karnaval AAF 2019 tersebut semakin meriah dengan dua sajian kesenian lengser ambu dan kreasi seni Kabupaten Tasikmalaya. Sebanyak 100 orang anggota KLA (Komunitas Lengser Ambu) Jabar dari berbagai korwil se-Jabar ikut dalam kemeriahan acara tersebut. Komunitas ini biasa tampil di berbagai prosesi mapag pernikahan dalam budaya Jabar.

Sebagai penutup rangkaian karnaval, Kreasi Seni Tasikmalaya yakni Sanggar Seni Memble Cikatomas menampilkan tarian dengan prop­erti pulau-pulau yang merupakan gambaran dari Indonesia. Selain itu tampil pula garuda raksasa yang merupakan kreasi penampil de­ngan menjadikan daun sebagai bahan proper­tinya. tgh/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment