Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Kecerdasan Buatan

AI Bisa Tekan Kredit Macet

AI Bisa Tekan Kredit Macet

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Industri keuangan saat ini mutlak membutuhkan kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI) untuk meningkatkan daya saing. Teknologi AI mampu menganalisa untuk meminimalkan kredit macet.

Perusahaan yang bergerak dalam industri keuangan perlu memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) jika ingin maju. Hasil studi oleh Microsoft bertajuk Future Ready Business: Assessing Asia-Pacific’s Growth with AI menyebutkan, AI diprediksi meningkatkan daya saingnya sebesar 41 persen bagi perusahaan dalam tiga tahun mendatang.

Bersama dengan cloud, big data analytics, AI menjadi pilihan wajib pemain industri keuangan dalam bertransformasi digital. Tujuannya tentu saja agar dapat mendorong daya saing perusahaan pada ekosistem digital saat ini.

Presiden Direktur, Microsoft Indonesia Haris Izmee, mengungkapkan, “Ekonomi digital telah menghasilkan tuntutan bagi organisasi untuk mengubah diri agar tetap relevan bagi pelanggan,” ujar Haris.

Di Indonesia AI sudah dipakai, terutama mereka yang bergerak di layanan non perbankan seperti tekfin (teknologi finansial). Mereka memanfaatkan AI untuk tiga kunci utama yaitu operasional, membangun dan menjaga kepercayaan pelanggan, serta kolaborasi untuk mendorong inovasi.

Organisasi keuangan yang telah memulai perjalanan AI mereka melihat peningkatan dalam beberapa area seperti Keterlibatan Pelanggan, Daya Saing, Inovasi, Margin, Inteligensi Bisnis, dengan rentang peningkatan antara 17 persen hingga 26 persen. Pada 2021, peningkatan di area tersebut diprediksi mencapai 35 persen hingga 45 persen.

Haris menyontohkan di Australia, Moula, sebuah perusahaan rintisan menerapkan AI untuk layanan pengambilan keputusan kredit secara realtime dan memanfaatkan Azure AI dan machine learning. Teknologi ini mampu memprediksi probabilitas pengembalian kredit untuk mencegah kredit macet.

“Kami melihat adanya potensi penerapan hal yang sama di Indonesia. Di Indonesia, penerapan AI dapat dilakukan pada perusahaan rintisan yang bergerak di bidang keuangan, seperti tekfin yang menyediakan pinjaman produktif secara online pada masyarakat, terutama pelaku bisnis kecil menengah,” jelas dia.

Di Indonesia salah satu tekfin seperti Moula yang menggunakan AI dan Big Data dan Cloud dalam operasional bisnisnya adalah Kredit Pintar. Perusahaan peer to peer (P2P) lending ini memanfaatkan teknologi tersebut untuk memproses permohonan pinjaman dari calon nasabah.

Seinor Business Development Randy Santoso, mengatakan pemanfaatan teknologi AI dalam penilaian Kredit Pintar menciptakan kecepatan dalam layanan mereka. Dengan demikian, proses pengajuan kredit dapat dilakukan dengan cepat, baik melalui aplikasi maupun website.

“Dalam waktu 30 menit dana bisa cair. Bayangkan kalau kita pinjam melalui bank prosesnya bisa berhari-hari,” kata Santoso, dalam kunjungan ke Koran Jakarta beberapa waktu lalu.

AI di Kredit Pintar bekerja dengan menganalisa data calon kreditur, seperti KTP, jenis pekerjaan, dan tujuan pinjaman akan diproses oleh sistem berbasis AI milik Kredit Pintar. Kemudian, dengan sistem Big Data, data publik tentang calon kreditur juga dianalisis oleh sistem ini.

Selanjutnya AI akan memutuskan, pengajuan kredit itu akan diterima atau ditolak. “Kalau hasilnya kurang bagus tentu akan kami tolak. Sampai sekarang yang berhasil memperoleh pinjaman jumlahnya mencapai sekitar 40 persen dari yang mengajukan pinjaman,” lanjut Randy.

AI memangkas proses konvensional yang harus dilalui seperti menganalisa calon nasabah dengan melihat 5C (Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral). Dengan AI Kredit Pintar hanya perlu menganalisa skor kredit calon nasabah, dengan sumber data foto, alamat, pusat data fintech lending (Pusdafil), dan lainnya untuk menciptakan skor.

Aplikasi Kredit Pintar yang bisa diundah di perangkat PlayStore dan Appstore, telah memberikan pinjaman kepada 3 juta nasabah. Sementara jumlah pengajuan pinjaman setiap harinya mencapai 8.000 hingga 9.000. Dari April 2018 hingga Oktober 2018 Kredit Pintar telah berhasil menyalurkan pinjaman sebesar 5 triliun rupiah.

Kredit Pintar membatasi jumlah pinjaman antara 600 ribu hingga 2,3 juta rupiah dengan tenor 28 hingga 90 hari dengan bunga per hari 0,3 persen sampa 0,79 per hari. Tingkat bunga harian tersebut menurut Randy kecil dibandingkan dengan bunga dari perbankan atau tekfin ilegal yang mencapai 1 persen per hari.

Para peminjam rata-rata berada pada umur produktif antara 20-40 tahun. Dari hasil analisa para peminjam umumnya menggunakan uangnya untuk dipakai membiayai usaha sebsar 30 persen, pendidikan 12 persen, biaya hidup 16,7 persen, kesehatan 8,7 persen, dan sisanya 27 persen untuk keperluan lain-lain.

Sama seperti perbankan, Kredit Pintar juga mengalami kredit macet dari nasabah yang gagal membayar. Meski demikian ia tidak bersedia mengungkapkan berapa persen nasabah yang gagal bayar.

“Tapi kalau secara industri jumlah nasabah yang gagal bayar mencapai 1,57 persen. Kira-kira kami di sekitar situ. Kami sebenarnya tidak mengenal non performing loan (NPL). Kita menilainya dengan menghitung tingkat keberhasilan,” ujar Randy.

Potensi tekfin dalam memberikan layanan pinjaman kepada masyarakat, kata Rendy, masih cukup tinggi. Saat ini pihak perbankan baru menggarap 7 persen dari total populasi apalagi banyak masyarakat yang dikategorikan bankable, mereka ini menjadi ladang garapan dari tekfin.

Tefin melayani pinjaman di bawah 10 juta rupiah dimana bank biasanya malah menggarap pasar ini. Kredit Pintar mau melayani jumlah pinjaman kecil meskipun tenornya tidak begitu lama, kerana potensinya cukup besar. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment