Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makro Prudential BI, Filianingsih Hendarta, tentang Pelonggaran Kredit Properti

Agar Kredit Tidak Mahal, Bank Dituntut Efisien

Agar Kredit Tidak Mahal, Bank Dituntut Efisien

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) awal bulan ini mengeluarkan kebijakan pelonggaran makroprudensial dalam bentuk ketentuan Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Ratio dari fasilitas kredit/pembiayaan perumahan dengan memperhatikan aspek prudensial.

 

Melalui kebijakan ini, Bank lndonesia akan memberikan kewenangan kepada industri perbankan untuk mengatur sendiri jumlah LTV/FTV dari fasilitas kredit/pembiayaan pertama sesuai dengan analisis bank terhadap debiturnya dan kebijakan manajemen risiko masing-masing bank. G una mengetahui kebijakan BI tersebut, Koran Jakarta mewancarai Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makro Prudential BI, Filianingsih Hendarta, di Jakarta, Kamis (12/7). Berikut petikannya.

Apa kriteria bank mendapatkan fasilitas pelonggaran LTV?

Perlu diketahui, bank yang boleh menikmati kebijakan pelonggaran LTV adalah bank yang bisa mengelola non performing loan (NPL/kredit bermasalah) dengan baik.

Jadi, NPL-nya harus di bawah 5 persen dan pertumbuhan kredit propertinya di bawah 5 persen.

Jadi, itu yang bisa menikmati pelonggaran LTV. Namun, bank-bank ini sudah mewakili 95 persen dari pangsa KPR itu sendiri. Jadi sudah bisa untuk jalan.

Potensi kredit macet dari kebijakan pelonggaran LTV?

Bank tahu kemampuan dia (nasabah). Jadi bisa berbeda-beda juga. Ya, maksudnya saya sudah tahu track record-nya sudah bagus.

Jadi, bank harus menilai kemampuan membayar debitur. Misalnya, dia gajinya 50 juta, untuk bayar ini, bayar itu bisa. Jadi kita bisa katakan, dia bonafid, layak dapat kredit.

Tapi, uang muka kepemilikan properti kalau kecil semakin berat cicilannya?

Memang ada orang yang mengatakan uang muka semakin kecil, semakin berat. Terserah debiturnya, mampu bayar atau tidak.

Kalau kita, bisa kok DP-nya segini, cicilannya segini, banknya juga melihat bonafiditas developernya dari debitur. Jadi, nggak akan semua bank sama.

Tren sekarang, bunga kredit makin tinggi sehingga mempersulit dapat kredit?

Bank memang dituntut efisien. Nah, untuk menentukan suku bunga kredit itu tergantung dari suku bunga dasar kredit dan premi. Suku bungsa dasar itu sendiri ada tiga komponen. Pertama, dari mana mendapatkan dana.

Kedua, over head cost, dan ketiga, profit margin. Jadi, itu tergantung dari bank untuk menyesusaikan bunga kredit. Artinya, kalau dia mau menyalurkan kredit kan supaya menarik. Ini kan masalah pemasaran.

Tapi, kalau melihat suku bunga rata-rata KPR per Maret 2018 sebesar 9,82 persen, itu jauh lebih rendah dari 2015 yang 11 persen.

Berapa besar total pembiayaan properti?

Kredit properti hingga Mei 2018 mencapai 741,7 triliun rupiah. Pertumbuhan sumber pembiayaan di sektor properti menunjukkan tren yang meningkat selama setahun terakhir, terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit properti yang berasal dari dalam negeri.

Pada Mei 2018, KPR terangkat 12,75 persen (yoy), atau naik dua kali lipat pertumbuhannya dalam dua tahun terakhir ketika pada Mei 2016, KPR hanya tumbuh moderat di 6,21 persen (yoy).

KPR juga melampaui pertmbuhan kredit rata-rata perbankan yang di Mei 2018 baru tumbuh 10,26 persen (yoy).

Pertumbuhan KPR tertinggi disalurkan untuk pembiayaan hunian flat/apartemen tipe 22–70 meter persegi dan lebih dari 70 meter persegi, serta rumah tapak tipe 22–70 meter persegi dan lebih dari 70 meter persegi.

Kemampuan bayar dari debitur juga masih sangat baik, sehingga KPR masih bisa terus terangkat di pertengahan tahun ini.

Target pertumbuhan kredit perumahan hingga akhir tahun?

Kami optimistis pertumbuhan KPR dapat tumbuh hingga 13,46 persen (yoy) di akhir 2018 karena stimulus dari pembebasan LTV untuk rumah pertama semua tipe.

Ini kan sasarannya kaum milineal, kalau mereka tidak tertarik untuk membeli rumah?

Mau lah. Kalau mau kawin pasti beli rumah. Masak di rumah mertua. Maka itu, down payment-nya diturunkan biar bisa beli rumah. ahmad/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment