Koran Jakarta | August 21 2019
No Comments
Kelompok Radikal

Abu Huda, Pelaku Bom Bunuh Diri di Jolo

Abu Huda, Pelaku Bom Bunuh Diri di Jolo

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

MANILA - Otoritas Filipina mengungkap identitas salah satu dari dua pengebom bunuh diri di Katedral Jolo, Provinsi Sulu, yang menewas­kan 22 orang. Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, mengidentifikasi salah satu pengebom bunuh diri itu ber­nama Abu Huda. Abu Huda diketahui sudah lama berada di Pronvisi Sulu, Filipina ba­gian selatan.

Laporan media Filipina menyebut nama Abu Huda hanyalah salah satu dari sekian banyak nama samaran yang dipakai si pengebom bunuh diri. Satu pengebom bunuh diri lainnya diidentifikasi otoritas Flipina sebagai istri dari Abu Huda. Ano mengatakan wanita yang menjadi istri Abu Huda baru tiba di Sulu beberapa hari sebelum pengeboman di Our Lady of Mt Carmel Cathedral di Jolo terjadi, 27 Januari lalu.

“Mereka warga Indone­sia. Saya yakin bahwa mereka warga Indonesia,” tegas Ano dalam pernyataannya meru­juk pada kewarganegaraan dua pengebom bunuh diri itu.

Dalam aksinya, sebut Ano, dua pengebom bunuh diri asal Indonesia itu dibantu teroris-teroris lokal dari kelompok Abu Sayyaf yang bertindak sebagai “pemandu”. “Mungkin melaku­kan pengamatan awal sebelum pengeboman,” sebutnya.

Dua nama teroris lokal yang dimaksud Ano adalah Alias Kamah dan Hatib Hajan Saw­adjaan. Kamah berasal dari ke­lompok Ajang Ajang, dan Hat­ib adalah orang yang ditunjuk sebagai mengganti pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang telah tewas.

Masih Diidentifikasi

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan dirinya terus berkomunikasi dengan otori­tas Filipina untuk memastikan dugaan keterlibatan dua WNI dalam pengeboman di Jolo itu.

“Informasi yang kita peroleh sampai hari ini, iden­tifikasi pelaku tidak dapat dikonfirmasikan. Proses in­vestigasi dan identifikasi ma­sih terus dijalankan. Ini saya masih akan terus lakukan ko­munikasi dengan otoritas Fili­pina,” kata Retno.

Retno tidak mau berandai-andai jika pelaku bom bunuh diri itu benar meru­pakan WNI. Dia mengatakan saat ini yang menjadi prioritas ialah mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri.

“Kita masih hipotesis, apakah betul dia adalah WNI. Itu yang perlu kita ketahui lebih dahulu,” ucap dia.

Sebelumnya, Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Kemlu, Lalu Muham­mad Iqbal, menyesalkan pernyataan Menteri Dalam Negeri Filipina itu yang me­nyebut pelaku peledakan gereja di Pulau Jolo adalah pasangan asal Indonesia. Menurut Kemlu, pernyataan tersebut disampaikan tanpa verifikasi sebelumnya.

“Kita sangat menyesalkan pihak Filipina untuk kesekian kalinya membuat pernyataan tentang WNI terlibat tindakan terorisme di Filipina tanpa proses verifikasi terlebih da­hulu,” kata Iqbal.

Duta Besar RI untuk Filipi­na, Sinyo Harry Sarundajang, menegaskan hingga saat ini belum ada rilis dari pemerin­tah Filipina mengenai identi­tas pelaku bom di Jolo. Sinyo mengatakan kabar bahwa pelaku adalah warga negara Indonesia belum valid. “Be­lum ada rilis resmi dari pemerintah Filipina ten­tang pelaku pengebo­man di Jolo,” kata Sinyo. AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment