Koran Jakarta | April 20 2019
No Comments
Pelestarian Lingkungan - Jepang Dukung Indonesia Atasi Sampah di Laut

80% Pencemaran Laut dari Daratan

80% Pencemaran Laut dari Daratan

Foto : Istimewa
Kurangi Sampah - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar (kedua dari kanan) pada acara High Level Dialog on the Integrative Global Agenda to Protect the Marine Environment from Land-Based Activities, di Paviliun Indonesia, Katowice, Polandia, Rabu (12/12). Indonesia berinisiatif mengurangi sampah, khususnya yang berasal dari bahan plastik.
A   A   A   Pengaturan Font
Aneka keunikan dan kekayaan sumber daya genetika di laut terancam tercemar. Sekitar 80 persen pencemaran laut berasal dari berbagai kegiatan di daratan.

 

JAKARTA – Lingkungan pesisir dan laut dengan keka­yaan jenis serta keunikan sum­ber daya genetika yang sangat tinggi, menghadapi ancaman pencemaran dan kerusakan lingkungan. Ancaman itu ber­sumber sekitar 80 persen dari aktivitas di daratan menimbul­kan masalah nutrient, air lim­bah, sampah laut, micro-plastics, dan emerging issues lain.

“Berbagai aktivitas di darat­an tersebut memberikan kontri­busi yang sangat besar terhadap terjadinya pencemaran dan ke­rusakan lingkungan laut. Pada akhirnya telah menurunkan kualitas serta fungsi ekosistem laut,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, dalam per­nyataan tertulis yang diterima Koran Jakarta, Jumat (14/12).

Menurut Menteri Siti, In­donesia telah berinisiatif me­ngurangi sampah, khususnya yang berasal dari bahan plastik hingga 70 persen pada tahun 2025. Untuk itu, diluncurkan Rencana Aksi Nasional guna mengurangi limbah plastik me­lalui berbagai kegiatan yang di­lakukan oleh semua pemangku kepentingan.

“Indonesia juga melakukan inisiatif melalui komitmen 156 perusahaan besar untuk me­ngurangi sampah plastik,” kata Menteri Siti Nurbaya.

Jumlah Signifikan

Indonesia, tambah Siti, te­lah menerapkan program pe­nilaian kinerja lingkungan oleh perusahaan (Proper) yang telah menghasilkan pengurangan be­ban pencemaran dalam jumlah yang signifikan. Sebanyak 437 perusahaan hijau telah mela­porkan 8.474 kegiatan yang did­edikasikan untuk pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) target ke-14.

Penyelenggaraan “High Level Dialog on the Integrative Global Agenda to Protect the Marine En­vironment from Land-Based Ac­tivities” pada tanggal 12 Desem­ber 2018 di Paviliun Indonesia, Katowice, Polandia, bertepatan dengan pertemuan ke-24 para pihak Konvensi Perubahan Iklim (COP 24 UNFCCC). Ini merupa­kan dialog tingkat menteri dalam upaya inisiatif Indonesia melak­sanakan langkah konkret mena­ngani pencemaran dan kerusak­an lingkungan laut.

High Level Dialogue merupa­kan tindak lanjut pertemuan “The Fourth Intergovernmental Re­view Meeting on the Implemen­tation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-based Activities” (IGR-4), di Bali, tanggal 31 Oktober sampai 1 No­vember 2018, yang telah meng­hasilkan Bali Declaration.

Pada acara High Level Dialog tersebut, Siti Nurbaya menyam­paikan bahwa Bali Declaration merupakan solusi negara-ne­gara anggota dalam menangani masalah pencemaran dan keru­sakan pesisir dan laut yang ber­asal dari berbagai kegiatan yang berasal dari daratan. Kegiatan ini bersifat lintas negara sehingga perlu didukung kerja sama antar negara melalui peningkatan ka­pasitas, pengetahuan dan kete­rampilan serta alih teknologi.

Dalam kesempatan tersebut, UN Assistant Secretary-General, Satya S Tripadi, mengapresiasi kinerja dan kepemimpinan In­donesia di bidang perlindungan lingkungan laut. “Kami berteri­ma kasih kepada Indonesia yang telah menyelenggarakan per­temuan penanganan sampah di laut dan menghasilkan Bali Dec­laration,” ucap Satya.

Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Yoshiaki Harada, sa­ngat mendukung Indonesia dan negara-negara Asia lain untuk mengatasi sampah, termasuk sampah di laut. Jepang akan men­dukung dari segi pengetahun dan teknologi penanganan sampah.

Menteri Harada mengapre­siasipresi inisiatif Indonesia da­lam penanganan permasalahan lingkungan laut. Hal serupa juga disampaikan Nino Tkhilav, Direk­tur Lingkungan Hidup dan Iklim Kementerian Lingkungan dan Pertanian Georgia. sur/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment