8.100 Warga Desa Cileuksa, Bogor Siap Eksodus | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Bencana Alam | Tanggap Darurat Berakhir, Bupati Bogor Pastikan Stok Pangan Cukup

8.100 Warga Desa Cileuksa, Bogor Siap Eksodus

8.100 Warga Desa Cileuksa, Bogor Siap Eksodus

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Status tanggap darurat bencana hanya urusan administrasi, sedangkan penanganan di lapangan akan terus dilakukan dan masih di bawah kendali komandan tim tanggap darurat bencana.

 

BOGOR – Sekitar 8.100 warga Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, siap meninggalkan kampung halamannya atau eksodus setelah 11 dari total 14 kampung di Desa Cileuksa hancur karena bencana longsor awal tahun 2020.

“Jumlah 8.100 warga Cileuksa. Warga siap direlokasi, tapi dalam kondisi tanah itu aman. Warga yang penting ditempatkan di posisi yang dinyatakan ahli geologi itu aman,” ujar Kepala Desa Cileuksa, Ujang Ruhyadi, di Bogor, Kamis (30/1).

Desa Cileuksa merupakan desa terdampak longsor paling parah di Kecamatan Sukajaya. Total pengungsi di desa tersebut mencapai 4.174 jiwa dari 1.696 Kepala Keluarga (KK). Dari total jumlah pengungsi, 148 di antaranya merupakan ibu menyusui dan 39 ibu hamil.

Di Desa Cileuksa, Kampung Cileuksa Utara, merupakan wilayah paling parah terdampak bencana. Di kampung itu, 291 KK mengungsi yang terdiri dari 893 jiwa. Pengungsian berupa hunian sementara (huntara) itu masih berlokasi di desa yang sama, yaitu tepatnya di lapangan Kantor Desa Cileuksa.

Huntara buatan warga ini dihuni 1.152 jiwa, berasal dari Kampung Cileuksa Utara 893 jiwa dan 81 jiwa dari Kampung Pasir Eurih.

Sementara itu, Bupati Bogor, Ade Yasin, mengajukan sebanyak 15 titik tempat untuk keperluan relokasi korban bencana di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“15 titik itu opsi, kita ajukan untuk tindak lanjut. Kita harus cepat menetapkan lokasi, karena apa, ketika belum meng-SKkan lokasi itu bantuan engga akan turun-turun,” ujarnya.

Ia menerangkan, 15 titik opsi lahan untuk relokasi itu tersebar di tiga kecamatan Kabupaten Bogor, yaitu Cigudeg, Sukajaya, dan Nanggung. Sedangkan status kepemilikannya terbagi menjadi tiga kategori yaitu tanah PTPN VIII Cikasungka, tanah perusahaan bukan milik PTPN VIII, dan tanah milik masyarakat.

Ade Yasin memperkirakan, total kebutuhan lahan sesuai dengan jumlah warga yang akan direlokasi yaitu seluas 81,7 hektar, dengan rincian 20,48 hektar tanah PTPN VIII Cikasungka, 59,5 hektar tanah perusahaan bukan milik PTPN VIII, dan 1,72 hektar tanah milik masyarakat.

Sedikitnya ada 19.821 pengungsi korban bencana dari empat kecamatan di wilayah Barat Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Belasan ribu pengungsi itu berasal dari Kecamatan Sukajaya sebanyak 14.233 pengungsi, Kecamatan Nanggung 4.217 pengungsi, Kecamatan Cigudeg 1.212 pengungsi, dan Kecamatan Jasinga sebanyak 159 pengungsi.

Tanggap Darurat

Ade Yasin memastikan stok pangan di lokasi terdampak bencana di Kabupaten Bogor Jawa Barat cukup dan aman, meski Kamis (31/1) ini masa tanggap darurat bencana dinyatakan berakhir.

“Ketersediaan makanan itu minimal harus aman sampai tiga bulan. Kalaupun tidak aman kita keluarkan Biaya Tak Terduga atau BTT,” ujar Ade Yasin

Ia menjelaskan salah satu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ditunjuk untuk menyediakan pangan yaitu Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor. Khusus dari dinas tersebut, tersedia 130 ton beras. Sementara pasokan lainnya yaitu dari para relawan.

“Di bulan Januari 2020 saja, semua ASN kita jatah berasnya, beras Carita Makmur yang kita produksi untuk ASN Kabupaten Bogor, menyumbangkan satu bulan jatah berasnya,” beber mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor itu.

Menurutnya, status tanggap darurat bencana hanya berupa urusan administrasi, sedangkan penanganan di lapangan akan terus dilakukan dan masih di bawah kendali komandan tim tanggap darurat bencana, yaitu Letkol Inf Harry Eko Sutrisno. Ant/P-5

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment