Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments

23 Tetes Kejujuran Tokoh Bangsa

23 Tetes Kejujuran Tokoh Bangsa

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Untuk Republik: Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa.
Penulis : Faisal Basri dan Haris Munandar
Penerbit : IRSA Press, Jakarta
Cetakan : 2019

Seiring dengan berbagai kema­juan ekonomi yang dicapai In­donesia, nilai-nilai materialisme kian mengemuka. Kelimpahan materi menjadi tujuan terpenting dalam hi­dup, yang acapkali hendak dijangkau dengan segala cara. Kalau pandangan ini juga dianut oleh kalangan elite penyelenggara negara, maka menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan ber­bangsa dan bernegara secara keselu­ruhan. Seolah-olah tanpa uang yang banyak mereka takkan dapat menjadi politisi atau penyelenggara negara yang handal.

Buku ini menyajikan 23 contoh nyata betapa kesederhanaan ti­dak menghalangi seseorang untuk berbakti bagi bangsa dan negaranya. Pilihan hidup sederhana memang tidak mudah, tapi kalau kita menghen­daki kemajuan, maka tiap pemimpin sedikit banyak harus berkaca dan me­nyerap pelajaran berharga dari ke-23 tokoh bangsa yang sudah membuk­tikan kemuliaan seorang pemimpin seharusnya bertumpu pada kejujuran dan kesederhanaan, bukan pada timbunan uang haram dan gaya hidup hedonis yang jelas-jelas bertentang­an dengan niat untuk mengabdi. Bagi yang merasa tidak sanggup, sebaiknya meninjau kembali cita-citanya untuk menjadi pejabat publik.

Imbalan bagi penyelenggara ne­gara sudah jauh lebih baik saat ini, tetapi tetap saja takkan cukup buat mereka yang menginginkan ke­mewahan. Sampai batas tertentu tiap calon pemimpin harus sanggup dan mampu hidup sederhana. Jika ingin hidup mewah, silakan saja, tapi jangan dari jabatan-jabatan publik. Silakan terjun ke gelanggang bisnis atau dunia keartisan. Jabatan publik sesungguh­nya identik dengan pengorbanan, dan hanya melalui pengorbanan seseorang bisa meraih kemuliaan. Kejujuran dan kesanggupan hdup sederhana sesung­guhnya merupakan syarat yang tak bileh ditawar kalau kita semua negara dan bangsa ini maju dan sejahtera.

Inggit Garnasih Soekarno mislanya, bercucur peluh membuat bedak dan lulur tiap hari dan malam untuk mengasapi dapur keluarga serta mem­biayai kuliah dan perjuangan kemer­dekaan sang suami tercinta. Bu Inggit sangat senang suaminya itu menjadi Sang Pendiri Republik, meskipun di gerbang kemerdekaan ia tersisih ke pinggir, kembali membanting tulang membuat bedak dan lulur untuk me­nyambung hidup.

Lain lagi Bung Hatta, hidup prihatin sepanjang usia. Ia Proklama­tor, Wakil Presiden RI, dan tiga kali menjabat Perdana Menteri. Tapi ketika menginginkan sepasang sepatu Bally, ia gagal mewujudkannya dan keinginan itu tetap hanya menjadi ke­inginan sampai akhir hayat.

Begitu juga Haji Agus Salim ada­lah salah seorang Bapak Bangsa dan diplomat ulung. Ia berjasa meraih pengakuan internasional pertama bagi Republik Indonesia. Ia wafat di rumah kontrakan dalam gang becek.

Selain itu, WR Supratman tidak pernah sejahtera sepanjang usianya. Dalam kondisi kesehatan dan keuang­an yang serba suram, ia terpanggil mengerahkan tenaga dan semangat untuk memberikan sumbangan bagi bangsanya berupa Lagu Indonesia Raya.

Tahukan Anda bahwa Pak Dirman (Jenderal Soedirman), sejak revo­lusi punya gudang senjata terbesar, lalu memimpin seluruh kekuatan bersenjata Indonesia untuk mengusir Belanda. Ia adalah pemimpin militer yang paling dicintai, sehingga ia bisa saja hidup senang kalau ia mau. Tapi ketika wafat dalam usia muda ia tidak meninggalkan materi apa-apa bagi is­tri dan anak-anaknya yang masih kecil.

Yang juga patut dicontoh, Syafrud­din Prawiranegara berkali-kali men­jadi menteri keuangan dan gubernur bank sentral. Tapi ia tidak punya tabungan berarti sehingga keluarga­nya berkali-kali harus bertahan hidup hanya dari santunan para sahabat dan handai-taulan.

Buku ini baik dibaca untuk menge­nal para tokoh dan tentunya menela­daninya. Halida Hatta, putri proklama­tor kita Bung Hatta, yang hadir di peluncuran buku ini di Jakarta mem­berikan kesaksian tentang keseder­hanaan. Belajar dari ayahnya, Halida menyebutkan pentingnya memba­ngun jatidiri kita dengan merencana­kan hidup tidak harus dengan atribut kemewahan. Kesederhanaan tidak membuat diri kita berkurang namun pikiran harus tetap luas, demikian re­fleksi Halida Hatta tentang ayahnya. Peresensi, Agustian B. Prasetya, Dosen Magister Management BINUS University

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment