Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments

22-5

22-5

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Kalau tanggal ini dicatat—pastilah dicatat, barang kali karena jarak yang ma­kin dekat dengan tanggal 22 Mei. Dengan segala ingar bingar pemilu yang serentak, peta keg­iatan berbeda. Biasanya permulaan puasa, masa mudik musim petama, dengan segala kegiatannya menem­pati acara dan kegiatan humanisme. Juga jalanan, juga kemacetan—yang lebih tidak menjadi beban derita dari tahun ke tahun.

Kali ini beda, 17 April kema­rin, pemilu serentak berlangsung aman, selamat, dan membang­gakan. Sesuai tata krama, hasil akan diumumkan KPU dan kawa­lan Bawaslu. Tapi praktis sebena­rnya diikuti semua peserta, semua partai. Apalagi sejak awal, salah satu pasangan calon presiden/wakil menganggap KPU curang dan minta digugurkan. Ketegangan membadai, karena para juru kampanye—kampanye tidak selalu berarti ribut, tapi itu yang terlihat. Dari yang memakai argumen untuk menolak atau menerima, sampai dengan asal menolak. Puncak yang terus mendaki adalah tanggal 22–5. Hari itu seolah—atau sebenarnya negeri ini sedang membuktikan dan mengukir sejarah demokrasi yang “belum ada taranya dalam se­jarah dunia”. Atau juga kenyinyiran yang paling konyol. Mungkin sekali duanya, dan tak apa asal aman, selamat berlangsung damai.

Aura 22–5 sudah terasa jauh se­belumnya. Beberapa teman di kam­pus minta acara tidak dilangsung­kan di tanggal itu, termasuk acara eating, dringking, partying. Tanggal ini telah menjadi kebutuhan bersama dan dikhususkan. Yang menjadikan tanda tanya adalah ternyata masih banyak kekha­watiran besar jika hal-hal di luar tuntutan hukum terjadi. Kerusuhan umum—amit-amit --misalnya. Atau bentrok massal. Atau, saya tak ingin membayangkan walau menasihati diri untuk superwaspada.

Akankah muncul paranormal seperti biasanya? Mungkin saja masih ada, namun menurut saya, animo masyarakat kepada alat yang bernama kalkulator, mesin penghi­tung yang bisa diikuti dan bukti-bukti yang bisa diperbandingkan satu dengan yang lain. Untuk kali pertama kita mempunyai rasa per­caya penuh pada alat, tetapi juga percaya total pada alat manual.

Di luar segala perubahan yang telah diperhitungkan dengan sangat cermat, perubahan total pada alat dan manual sepenuh­nya mungkin pantas dicatat. Dan menandai penuh perubahan yang terjadi juga atas upaya yang dis­adari atau sangat disadari.

22-05. Ini yang akan terjadi dan masih terus menggelombangkan perubahan –termasuk perubahan komunikasi dan peri laku. 22-05 yang datang itu telah mengubah banyak hal, dan tak bisa kem­bali lagi. 22-05 , dan tak pernah sepenuhnya sama.

22-05, mungkin ada yang menawar, sehingga tanggal itu tak ter­jadi? Mungkin saja, setidaknya dalam cerita wayang. Untuk menghindari “hari H”, yang perlu adalah hari itu tak terjadi. Setelah tanggal 21-05, wlap ke hari lain. Anoman tokoh wayang, menghilangkah hari yang tak dikehendaki dengan cara sederhana: matahari ditelan. Waktu berhenti.

Siapa yang menghendaki tak ada tanggal 22-05? Mereka yang tanggal itu capresnya tak ingin dinyatakan kalah. Bisa ramai karena jumlahnya masih jutaan, belasan, puluhan juta, seratus juta... yang pastilah meriuh rendahan 22-05.

Namun, masyarakat secara bersama-sama—walau tidak sama-sama, makin menemukan apa yang tidak membahayakan diri, ma­syarakat atau keluarga, dan tak bisa menghindarkan 22-05, dengan se­gala yang pernah dibayangkan akan terjadi. 22-05 tiba sebagaimana hari sebelumnya, juga sesudahnya.

22-05. Di lembar berikutnya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment