Koran Jakarta | June 22 2018
11 Comments
Penerimaan Mahasiswa Baru | Seleksi Model “Test Center” Mulai Dirintis

2019, SBMPTN Akan Dihapus

2019, SBMPTN Akan Dihapus

Foto : ISTIMEWA
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir.
A   A   A   Pengaturan Font
Ke depan, proses seleksi akan lebih melihat potensi akademik dan kemampuan seseorang.

 

JAKARTA – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mewacanakan model penerimaan mahasiswa baru melalui Pusat Layanan Tes (“Test Center”) di 2019. Model baru ini akan menggantikan penerimaan mahasiswa baru melalui jalur tulis atau Seleksi Bersama Mahasiswa Perguruaan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, menyatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan jumlah peserta SBMPTN dengan metode Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di 2018.

Menurut Nasir, UTBK ini akan menjadi embrio model penerimaan mahasiswa baru melalui “Test Center” yang akan diterapkan mulai tahun depan.

Pusat Layanan Tes ini merupakan salah satu terobosan yang akam menitikberatkan pada penggalian potensi akademik calon mahasiswa. “Selama ini kan model SBMPTN selalu ujian tulis, dan sangat tinggi risiko kebocoran soal, dan mata uji yang diujikan belum tentu pas,” kata Nasir, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ke depan, kata Nasir, proses seleksi akan lebih melihat potensi akademik dan kemampuan seseorang. “Kadang saat anak di sekolah SMA, dia anaknya kurang rajin karena terbatas oleh fasilitas sekolahnya, ada anak SMA fasilitasnya lengkap tersedia semuanya. Ini kan hasil SBMPTN-nya pasti akan beda,” jelasnya.

Padahal, menurut Nasir, kemampuan akademiknya sangat mungkin sama. “Nah, ‘Test Center’ inilah yang akan menggantikam agar sistem tes seleksinya tidak seperti SBMPTN ini lagi,” terangnya.

Dengan begitu, Nasir berharap seleksi masuk PTN tahun depan hanya ada SNMPTN dan menghapus model SBMPTN. Model seleksi di “Test Center” ini tidak hanya dibuka satu kali dalam setahun, namun sepanjang tahun. “Ya dengan diterapkan ya sistem ini, maka SBMPTN rencananya dihapus tahun depan, harapan saya jadi hanya ada SNMPTN saja,” tambahnya.

Ketua Panitia SNMPTN /SBMPTN 2018, Ravik Karsidi mengatakan dengan model “Test Center” memungkinkan siswa untuk mengikuti tes PTN lebih dari satu kali. “Penyelenggaraannya bisa lebih dari dua kali, mulai semester 5 ketika siswa sudah yakin maka boleh masuk test center ini,” papar dia.

“Pada prinsipnya, kata Ravik, keberadaan “Test Center” akan memberi kemudahan kepada masyarakat untuk melakukan tes seleksi,” katanya.

Secara terpisah, pemerhati pendidikan, Totok Amin Soefijanto, berpendapat seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebaiknya dilakukan oleh lembaga independen.

“Melalui lembaga yang independen lebih adil bagi calon mahasiswa. Mereka tes beberapa kali, sementara dari sisi perguruan tinggi dapat mengukur kompetensi dengan lebih akurat,” ujar Totok Amin Soefijanto yang pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina.

Menurut Totok, dengan lembaga independen yang melakukan tes maka sama seperti seleksi calon mahasiswa di Amerika Serikat, yang menggunakan skema SAT Reasoning Test atau SAT yang dilakukan lembaga independen.

Totok mengatakan selama ini penerimaan mahasiswa baru di Tanah Air, belum berdasarkan tes minat dan bakat, serta kompetensi dasar untuk bidang studi yang dituju.

Kegiatan SNMPTN

Dalam kesempatan tersebut, Menristekdikti meluncurkan secara resmi dimulainya kegiatan SNMPTN) dan SBMPTN) tahun 2018. Mulai hari ini, Sabtu (13/1) sekolah sudah mulai dapat mengisi Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) untuk mengikuti seleksi di jalur SNMPTN. Tahun ini jalur penerimaan mahasiswa baru masih dilakukan melalui SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri.

Jalur SNMPTN, yaitu seleksi berdasarkan hasil penelusuran prestasi dan portofolio akademik siswa yang bersumber dari Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Sedangkan SBMPTN, seleksi berdasarkan hasil ujian tertulis dengan metode Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), atau kombinasi hasil ujian tulis dan ujian keterampilan calon mahasiswa.

Sementara, Seleksi Mandiri, yaitu seleksi yang diatur dan ditetapkan oleh masing-masing PTN dan dapat memanfaatkan nilai hasil SBMPTN. “Jumlah komposisi daya tampung pada setiap program studi PTN untuk ketiga jalur tersebut masih sama dengan tahun lalu. Di mana distribusi untuk SNMPTN paling sedikit 30 persen, SBMPTN paling sedikit 30 persen, dan seleksi Mandiri paling banyak 30 persen,” pungkas Nasir. cit/E-3

View Comments

Meira Sahda
Rabu 20/6/2018 | 13:25
Menurut saya hal tersebut tidak efektif, kenapa bukan sistem SNMPTN yang dihapus? Dilihat dari progress anak anak yg belajar di sekolah sebagian besar dari mereka banyak yg bertindak licik hanya untuk mendapatkan nilai yg besar. Contohnya ketika menghadapi ulangan harian, saya dan teman yang lain bersusah payah belajar sementara anak lainnya justru dengan senang hati mencotek ya dari temennya atau dari ponsel. Saya kurang setuju kalau nilai rapot sekolah dijadikan titik acuan sebagain penilaian untuk masuk ke universitas. Saya sendiri yang sekarang baru naik ke kelas 12 merasa hal ini cukup membebani saya dan mungkin siswa siswa lain. Dan juga angkatan kakak kelas saya yg sekarang lulus sangat terbebani. Jadi, tolong pertimbangkan segala sesuatu dengan matang jangan jadikan para siswa sebagai kelinci percobaan. Apakah pihak pemerintah tidak memikirkan resiko yg harus ditanggung para siswa demi terwujudnya rencana kalian yg bahkan belum pasti dan tidak bisa dipertanggungjawabkan 100%. Sebagai pemerintah harusnya bisa memikirkan sesuatu matang matang, bagaimana caranya membuat satu rencana berhasil tanpa harus menghadirkan resiko yg besar.
Ron
Kamis 14/6/2018 | 05:47
pak. saya kurang setuju kalau yang dihapus sbmptn. karena budaya mencontek di kalangan murid masih kuat apalagi jika nilai raport tersebut akan berpengaruh dalam perguruan tinggi nanti dan nilai snmptn itu dari raport sma yang nilainya ia dapatkan dari belajar di sma dengan soal ujian yang setara dengan sma bukan perguruan tinggi sedangkan soal sbmptn itu lebih sulit dari soal ulangan sma.
Ica
Rabu 13/6/2018 | 19:41
Saya kira yg akan dihapuskan justru snmptn, seperti yg diketahui praktek katrol nilai dan praktek les guru yg mengakibatkan guru lebih memperhatikan murid yg les kepadanya masih sering terjadi, lalu ketidak jujuran murid pd saat ulangan dan tugas demi nilai justru membuat kita meragukan kemurnian nilai tersebut dan itu mengakibatkan ketidakadilan bagi para pejuang snmptn lainnya.
Hendra
Selasa 15/5/2018 | 20:32
Until yang ada yes keterampilan sistemnya Di usah juga kah??
Raissa Azzahra
Kamis 10/5/2018 | 20:50
Apa angkatan tahun 2018 cuma kelinci percobaan saja? Hahaha
Saya pikir yang akan di hapus justru SNMPTN karena dapat dilihat dgn jelas ada bbrp sekolah yang dapat dibayar untuk menaikkan nilai siswa.

Sistem pendidikan di Indonesia sudah kacau pak. Jangan makin di aduk-aduk seperti ini. Kalo bapak ingin sistem yang bagus adaptasi saja sistem pendidikan luar negeri (dengan catatan pemberitahuannya JELAS dan TIDAK TIBA-TIBA. Minimal 4 tahun sebelum dilaksanakan agar semua pihak siap).
Neni Nur
Kamis 10/5/2018 | 07:10
Bagaimana sistem untuk kita yang tidak lolos tahun2018?
Gilang
Rabu 9/5/2018 | 05:46
Sistem taun ini baru diganti, taun depan SBMPTN dihapus, angkatan 2018 cuma jadi kelinci percobaan nih ?
Rivan Purwanegara
Selasa 10/4/2018 | 00:40
Pa bagaimana dengan peserta yang misalkan tak lulus SBMPTN tahun 2018 ini, lalu ingin mengulang tahun depan (2019).
Senjani
Sabtu 31/3/2018 | 19:45
kalau alumni sistemnya sama saja?
Aqil Arinal Haq
Jumat 16/3/2018 | 06:34
Pa saya mau nanya , itu tes center materi yang diujikan apa saja ? apa materi seperti SBMPTN? soalnya saya sudah bljr sbmptn dari kls x , dan saya pejuang 2019 ,masa saya sia sia belajarnya ? terimakasih pa :) saya harap matero tes center mirp seprti materi sbmptn :) cuma tahapnya yang berbeda
julianto
Kamis 25/1/2018 | 13:40
indonesia jaya.

Submit a Comment