Koran Jakarta | January 18 2018
No Comments

2018: Tahun Tak Perlu Ramalan

2018: Tahun Tak Perlu Ramalan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Akhir tahun ini agak berbeda. Biasanya media— terutama televisi, menampilkan tokoh paranormal, atau dukun, atau peramal yang dianggap bisa menerawang kejadian tahun depan. Biasanya pula penuh kejutan.

Misalnya ramalan; ada bencana besar, ada artis besar terlibat selingkuh, tokoh politik diseret kasus korupsi, gunung meletus—bisa lebih satu, dan atau tokoh dengan nama besar meninggal dunia. Akhir tahun ini ramal-meramal model begini tak terlalu diperkenalkan.

Memang tak terlalu perlu, karena hal-hal seperti datangnya bencana alam, sudah ada lembaga yang secara resmi mengurusi, juga menyampaikan secara cepat. Soal ada tokoh meninggal, rasanya setiap tahun memang ada, dengan perhitungan demikian banyak tokoh, demikian tua umur.

Bukan hanya tahun depan saja, melainkan tahun depan dan depannya lagi, dan setiap tahun. Kalau soal artis atau seleb yang tertangkap berselingkuh, atau kawin, atau cerai, atau bahkan terseret kasus narkoba, ya memang begitulah dunia yang melingkupi. Yang agaknya tak terpisahkan untuk sebagian nama.

Akhir tahun lebih menenteramkan dengan meninggikan sikap optimistis, tanpa mengingkari realitas yang ada. Akan lebih pas kalau sikap optimistis ini ditujukkan untuk diri sendiri, dan bukan menggantungkan keadaan di luar dirinya.

Untuk diri sendiri, misalnya menentukan tekad akan berolahraga. Atau bahkan dengan target tertentu untuk berat badan. Ini berhubungan langsung dengan perubahan dalam diri. Seperti halnya akan berhemat tidak belanja pakaian yang sudah banyak—atau sebaliknya bisa juga, atau hanya sebulan sekali makanmakan besar.

Ini lebih dituntutkan pada diri sendiri dibandingkan, misalnya, menetapkan tahun depan tak menemukan kemacetan. Hal terakhir ini lebih tergantung pada kuasa disiplin lain, dan tak bisa diselesaikan seoarang diri.

Jalan yang lebih pas dalam menentukan target adalah: kalau kena macet tak akan uringuringan, tak akan kehilangan akal, tak akan marah dan berantem dengan orang lain. Atau hal-hal buruk yang pernah dialami.

Akhir tahun adalah kegembiraan dalam menghadapi kehidupan, seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Teman saya menyarankan banyak makan buah. Makan buah stroberi— maksudnya selalu intropeksi, belajar rendah hati.

Juga jeruk— maksudnya jangan berbuat buruk. Juga melon— maksudnya menolong orang lain. Dan 10 nama lain yang kurang lebih sama. Mengingatkan sesuatu yang baik, dan atau mengemohi yang kurang baik.

Dalam bahasa pergaulan kata atau kalimat itu menjadi sesuatu yang menyegarkan, sesuatu yang bisa membuat tersenyum— juga pada orang lain. Akhir tahun tak punya alasan untuk bersedih—atau memperlihatkan kesedihan, betapa pun berat masalah yang belum bisa diatasi.

Barang kali karena itulah akhir tahun dirayakan dengan “pesta”, dengan kilauan kembang api yang makin warna-warni, dan atau teriakan terompet, atau bersamasama berseru “hip-hip hura”.

Kita bisa larut di dalamnya secara bersama, melewati detik-detik terakhir, bersalaman, berpelukan, saling berucap met tahun baru dalam optimisme, dalam kegembiraan yang mengalahkan kantuk. Akhir tahun disikapi dengan gembira.

Kecuali teman yang merasa kurang nyaman, karena menjelang Tahun Baru selalu terjadi di saat tanggal tua—atau paling tua. Teman itu sedang membuat orang lain menjadi gembira.

Dan tak perlu dikurangi dengan ramalan-ramalan yang tidak perlu karena memperlambat waktu untuk bersemangat. Selamat Tahun Baru, 2018 lebih menggembirakan karena kebersamaan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment