Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments
JENAK

“Wow” Gendruwo Sudah Muncul

“Wow” Gendruwo Sudah Muncul

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CACATAN ARSWENDO

Gendruwo atau Genderowo, kini sudah dimunculkan dalam wacana poliitik. Aslinya, kalau benar ada aslinya, gendruwo adalah nama makhluk halus yang lebih banyak bersemayam di tempat gelap, di pohon, di rumah kosong. Sosoknya mudah dikenali, karena besar dan tinggi, jauh lebih besar dari rata-rata kita.

Suka berada di pinggir jalan—untunglah begitu, sebab kalau di tengah jalan pasti tersambar kendaraan. Sebagai makhluk halus, Gendruwo tidak terlalu seram. Ia hadir untuk menaku-nakuti anak kecil. Yang jika malam masih suka keluyuran, akan ketemu Gendruwo. Mahkluk halus dalam kisah di Jawa, punya target dan tujuan tertentu.

Misalnya yang dinamai memedi usus, atau Hantu Usus. Bentuknya persis usus, bisa menjerat dan mengikat anak-anak yang suka mencuri buah. Atau jenis pocong, mayat hidup yang dibikin ribet sendiri gerakannya dengan meloncat melalui gerakan kaki lurus, tangan lurus. Dengan gerak itu kalau ingin mengejar buruan yang ketakutan, pastilah susah sekali.

Ada juga jenis yang isinya hanya tulang-tulang tubuh, berklotekkan. Saya pernah mengumpulkan dan memunculkan dalam lakon monolog, betapa banyak ragam makhluk halus dan menggelikan— bagi yang tidak takut. Khusus Gendruwo, ia ini bisa menjelma sebagai manusia biasa. Sasaran korban adalah istri yang ditinggal suami.

Nah, Gendruwo ini berubah menjadi suami, dan berkelakuan sebagai suami atas istri yang kesepian. Sampai di sini saya berkesimpulan Gendruwo berjenis kelamin lelaki. Karena jarang suami yang ditinggal istri—misalnya menjadi TKW, didatangi Gendruwo yang menyamar sebagai perempuan atau istri.

Gendruwo ada untuk menakut-nakuti, terutama anak kecil. Setelah si anak beranjak dewasa, mungkin tak terlalu takut-takut amat. Gendruwo dicipta untuk menakuti, utnuk berbohong, untuk didengar, untuk mengatakan kepastian dari sesuatu yang tak pasti. Secara teori, keberadaan dan tokoh ini tercipta, karena dark side of the moon, sisi gelap dari bulan.

Konon bagian gelap dari bulan, inilah yang terlihat hitam itulah muncul banyak dongeng, banyak legenda. Termasuk di sini ada dongeng nenek-nenek menenun. Atau kisah seorang raksasa yang hanya leher, tapi tak punya perut, tapi bisa hidup, menelan bulan. Terjadilah gerhana. Karena leher pendek, bulan muncul kembali.

Begitulah proses yang belum bisa diterangkan dengan akal sehat, menimbulkan dongengan tersendiri. Ketika ditarik dalam kaitan politik, Gendruwo adalah monster, adalah pembohong, adalah penyebar hoaks, adalah apa saja yang belum benar-benar jelas. Pemunculan jenis Gendruwo ini memberi gambaran barang kali situasi dusta sedang mekar.

Sebagaimana dulu, jenis hantu gentayangan yang tak punya kepala, tak punya kaki, tangan, karena banyaknya kasus pembunuhan. Dalam proses kampanye yang masih berbenturan langsung, agaknya idiom Gendruwo akan ditingkatkan lagi. Masih ada jenis yang lebih ganas dan meneror dan bahkan mematikan, seperti glundung pringis, yang hanya berwujud kepala yang siap menerkam sekaligus menakutnakuti lawan dengan meringis.

Tentu menakutkan bentuknya hanya kepala, masih meringis sekaligus. Atau jenis iluilu banaspati, hantu aneh yang berjalan terbalik, kepala di bawah dan mengeluarkan api sebelum memangsa lawan. Tingkat panas api menentukan apakah lawannya akan dimakan well done, matang, atau raw, setengah matang.

Serentak dengan itu, hantu yang selama ini tersembunyi dan kalah popular dengan hantu “modern”, akan muncul lagi. Hantu muka rata, di mana wajah datar tanpa ada lekukan, atau model yang tangannya kiri lebih panjang dari yang kanan, model lutut saja, dan segala keunikan yang tujuannya menakutkan.

Semua akan dimunculkan, dipertarungkan. Kebohongan, atau bukan kebohongan pun masih didustakan, dipamerkan, dilawan. Bagian gelap dari bulan, belum sepenuhnya tersibak. Atau sengaja tidak disibak karena gelap sempurna menyembunyikan dusta dan permusuhan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment