Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments

#Tagar#2019#

#Tagar#2019#

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Sapardi Djoko Damono, penyair besar berbadan kurus, kurang lebih pernah mengatakan “puisi itu seperti lebah tanpa sengat”. Dalam pengertian puisi “tidak menggerakkan, tidak memaksa pembacanya berdemo.”

Saya lanjutkan dengan perumpamaan untuk tagar. “Tagar itu seperti lebah tanpa sengat, tanpa madu. Hanya mengeluarkan suara.”

Saya katakan itu saat membicarakan masalah tagar yang sekarang jadi pembicaraan, bersama penggagas tagar #2019gantipresiden, dan penggagas #2019tetepjokowi, yang secara tematis berseberangan.

Dua kelompok berbeda yang mengomunikasikan dalam suatu acara “Q&A”, di televisi. Saya tak terlalu percaya kekuatan tagar atau hashtag, kecuali memang memancing dan “melipat gandakan” perhatian.

Tagar, atau tanda pagar, atau hastag, atau hash character, adalah tanda di dunia jejaring sosial. Simbolnya (#) yang diletakkan di awal kata, atau beberapa kata tanpa spasi, yang berguna untuk mengelompokkan, menyatukan kata tersebut dalam suatu urutan.

Memudahkan beberapa orang, atau komunitas, menemukan tema postingan tertentu. Jadi dengan mengetik #2019gantipresiden, akan menemukan tulisan atau postingan apa saja yang jejaring sosial.

Juga misalnya #2017tetepjokowi. Saya juga kemukakan bahwa kata dalam tagar, yang menjadi tag line, bisa menampilkan beberapa tafsiran. Kata “ganti”, juga tak banyak arti mengganti pada “kamar ganti”, di toko pakaian.

Kita masuk, bawa pakaian, mencoba, dan keluar dengan pakaian sebelumnya. Istilah “ganti rugi”, juga tetap saja menunjukkan unsur rugi. Termasuk “operasi ganti kelamin”, orangnya juga itu-itu saja.

Dalam tagar “tetep” pun bisa dimaknai dengan stagnan, macet, tak berkembang. Dan sesungguhnya kata apa pun, kata kerja atau kata benda atau kata sifat, tetap bisa dimaknai berbeda, apalagi dari “kubu” yang berbeda.

Jawab-menjawab dengan bahan kaos, seru, dan bisa lucu. Selama, tentu saja tidak dilanjutkan dengan tindakan persekusi, penistaan, atau ujaran kebencian.

Ini juga saya sampaikan, terutama karena tahun politik ini sampai tahun depan masih akan ada ratusan tagar, ratusan tulisan di kaos, di spanduk, di poster, di coretan yang bisa memanaskan suasana, juga sebenarnya bisa menghibur.

Namun, apa bila dibarengi dengan kata hinaan, makian, kebencian, langkah selanjutnya bisa mengkhawatirkan. Dan ketika perpecahan terjadi, kita semua dirugikan.

Tak ada pemenang. Kalau menimbulkan kerusuhan, membuat permusuhan makin membara. Kemungkinan ke arah itu ada. Karena tagar di kaos bisa dimaknai sebagai permulaan.

Media bisa apa saja: kaos, poster, buku, lagu, sembako, atau kegiatan apa saja, di lokasi bisa mana saja, dan kegiatan apa pun. Kemungkinan ke arah yang aman, damai, rukun, juga terbuka.

Karena memang kekeluargaan dan harmonisasi tak semata ditentukan oleh tagar—apa pun bunyinya. Dan tulisan ini bagian dari mengingatkan bahwa kebersamaan juga sama pentingnya dalam menyampaikan –dan mendengarkan, pendapat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment