Koran Jakarta | October 22 2017
No Comments
Komandan Korps Brimob Polri, Irjen Pol Murad Ismail, tentang Senjata yang Diimpor dari Bulgaria

“Senjata Ini Hanya untuk Membuat Kejut”

“Senjata Ini Hanya untuk Membuat Kejut”

Foto : ANTARA/Wahyu Putro A
A   A   A   Pengaturan Font
Senjata-jenis Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46 mm, yang diimpor Brimob dari Bulgaria, tertahan di pabean Bandara Soekarno-Hatta. Komandan Korps Brimob, Polri Irjen Pol Murad Ismail, memastikan bahwa senjata Stand Alone Grenade Launcher tidak dimaksudkan sebagai senjata antitank atau untuk membunuh.

 

Senjata itu hanya dimaksudkan sebagai senjata kejut dan kalaupun diarahkan ke rumah, juga tidak berdampak pada kerusakan. Sebenarnya, bagaimana cara kerja senjata tersebut? Lalu, sudah berapa kali Brimob mengimpor senjata tersebut?

Berikut wawancara wartawan dengan Komandan Korps Brimob Polri, Irjen Pol Murad Ismail, di Mabes Polri, Jakarta, akhir pekan lalu. Berikut petikannya:


Untuk kepentingan apa senjata itu?


Saya pastikan ini bukan buat antitank atau apa. Ini digunakan juga untuk di daerah operasi. Memang kalau mendengar nama Arsenal Stand Alone Grenade Launcher itu luar biasa dan kita mendengar nama itu seakan-akan Grenade Launcher yang luar biasa. Padahal pelurunya itu bulat dan ada banyak.


Lalu, pelurunya apa saja?


Senjata tersebut dapat menggunakan peluru karet, peluru hampa, peluru gas air mata, peluru asap, dan ada juga peluru yang menimbulkan ledakan, namun berupa kabut.


Jadi, bukan untuk membunuh?


Saya tegaskan lagi, senjata ini bukan untuk membunuh, tetapi untik membuat kejut.


Sudah pernah impor senjata itu sebelumnya?


Senjata sejenis sudah pernah masuk pada 2015 dan 2016. Senjata yang dibeli sampai saat ini selalu mendapat persetujuan dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.


Untuk senjata yang sekarang?


Jadi (untuk senjata sekarang), barang masuk dulu ke kami. Kami karantina di airport, nanti dicek sama BAIS sesuai enggak.


Akan disalurkan ke mana senjata itu?


Saya ada 34 Dansat Brimob dan semuanya minimal ada satu. Selama ini digunakan apabila terjadi huru-hara. Kita pakai yang gas air mata, asap.

Kalau nggak dipakai di daerah, minimal pengenalan anggota kita. SAGL sendiri sudah pernah digunakan Polri sejak 1998 untuk menangani kerusuhan. Untuk senjata ini rencananya akan disebar ke sejumlah daerah rawan konflik, seperti Poso, Sulawesi Tengah, dan Papua.


Jadi, untuk senjata yang sekarang belum pernah dipergunakan di Jakarta?


Sampai hari ini, senjata itu kami oper ke Poso dan Papua. Di Jakarta, kami belum pernah menggunakan.


Produk mana senjata itu?


Produk Bulgaria. eko nugroho/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment