Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso, tentang Hukuman Terhadap Pengedar Narkoba

“Otak Pengedar seperti Binatang, Jadi Harus Dihabisi”

“Otak Pengedar seperti Binatang, Jadi Harus Dihabisi”

Foto : KORAN JAKARTA/Muhaimin A. Untung
A   A   A   Pengaturan Font
Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap empat kasus penyelundupan sabu yang dikendalikan narapidana (Napi) dari balik sel penjara dan menyita sabu seberat 37,25 kilogram 26.005 butir ekstasi.

Terungkapnya kasus penyelundupan sabu ini membuat Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso, geram. Budi, yang akrab dipanggil Buwas tersebut, berjanji akan “mencincang” napi yang masih berani mengatur peredaran narkoba.

Tidak hanya itu, Buwas juga mengharapkan oknum lapas yang masih memfasilitasi Napi pengatur sabu itu, untuk turut “dicincang”. Apa yang membuat Buwas geram? Dan bagaimana cara BNN menghabisi sindikat narkoba tersebut? Untuk mengupas masalah tersebut, Koran Jakarta mewawancarai Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso.

Napi mengatur peredaran sabu dari penjara. Oknum lapas yang memfasilitasi harus ditindak tegas?

Sebenarnya (hal itu) sudah terbuka dan (sudah diketahui), kepala lapas sudah tahu (adanya) komunikasi itu, sudah tahu no, nonya, sudah tahu siapa oknum lapas yang bermain.

Mereka (oknum) memunggut bayaran (dari penggunaan fasilitas tersebut), tapi itu kan bukan ranahnya BNN dan Polri. (Kalau diperhatikan) mereka-mereka itulah pengkhianat institusi dan harusnya dihukum lebih berat dari pelaku. Buat pelaku dan pengedarnya harusnya digantung, harus “dicincang”, jangan malah dibela (pengedar dan bandar).

Tapi, oknum lapas yang terbukti terlibat dapat turut serta ditangkap?

Pasti yang terbukti akan ditangkap dan diperiksa, oknum ini akan menulari pegawai yang lain. Memang sudah banyak yang dipecat, namun itu tidak menyelesaikan masalah. Begitu dipecat akan bekerja lagi dengan jaringannya. Karena itu, hukuman mati harus dilaksanakan, demikian juga terhadap oknum petugas lapas juga.

Kenapa Anda sangat geram dengan bandar dan pengedar narkoba?

Karena otak mereka sudah error. Mereka itu sudah seperti binatang. Wujudnya saja yang manusia, tetapi perasaannya sudah lebih dari binatang. Kalaupun ada korbannya yang anak bayi, mereka itu sudah tidak peduli karena sudah tidak ada perasaannya. Komnas HAM harus melihat utuh persoalannya karena sebenarnya mereka tidak pernah tahu soal korban ini.

Bagimana mengatasi oknum-oknum lapas yang memberikan fasilitas pada Napi?

Semenjak saya jadi Kepala BNN, saya sudah mengusulkan agar lapas tidak lagi dijaga manusia, tetapi buaya. Karena selama dijaga manusia akan terkontaminasi, dan kalaupun ada perbaikan sistem, para oknum ini tidak mau diperbaiki. Saya ini hanya Kepala BNN, tidak punya kewengan untuk masuk. Dirjen lapas dan timnya sudah datang ke saya dan minta masukan. Saya lihat di beberapa negara, lapasnya dan sistemnya sudah dibangun baik dan bagus hasilnya. Persoalannya mau nggak belajar, karena ada yang tidak mau memperbaiki.

Apakah perlu dipergencar pergantian oknum lapas?

Tidak ada gunanya karena ketika dipecat, malah mereka main langsung dengan jaringannya.

Apa tidak mau minta bantuan Presiden?

Saya tidak mau membebani Presiden. Saya pikir perlu dilibatkan TNI, kecuali kalau diketahui jelas oknum lapas bermain, langsung saja “dicincang” biar saja dibilang melanggar HAM. Atau biar kapok, digantung kepala di bawah, kaki di atas.

Untuk pusat hiburan malam yang ketahuan mengedarkan narkoba?

Kalau itu berhubungan dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Kalau ditutup, akan berhubungan dengan penerima PAD. Kalau itu yang terjadi, berarti cara berpikirnya tentang uang. Mereka tidak berpikir tentang jiwa-jiwa para korban narkoba.

Bagaimana dengan tembak mati pengedar seperti di Filipina?

Beberapa LSM yang protes itu kenapa tidak lihat dari korbannya? Kenapa tidak pernah bahas akibat narkoba. Selalu dibahas apa yang dilakukan BNN? Padahal dari empat kasus ini, ada 212 ribu manusia yang kita amankan dan terselamatkan.

Saya mau tanya, apa ada harga nyawa? Kenapa anggap remeh nyawa manusia? Karena memang mereka para bandar itu binatang. Itu wujudnya manusia, tapi perasaan binatang. Itu hantu. 

 

eko nugroho/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment