Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, tentang Kebohongan Akademis

“Kebohongan Akademis Tidak Dapat Diterima”

“Kebohongan Akademis Tidak Dapat Diterima”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Program Visiting World Class Professor terpaksa terseret sejak seorang mahasiswa doktoral Technische Universiteit (TU) Delft Belanda, Dwi H artanto mengakui kebohongan akademisnya yang selama ini diklaimnya kepada publik.

 

Di mana pada program Visiting World Class Professor 2016 lalu, Dwi Hartanto menjadi salah satu peserta yang terpilih berdasarkan atas riwayat hidup, capaian, dan prestasi akademis.

Kasus kebohongan akademis Dwi mengaku sebagai assistant professor dan post doctoral di universitas yang sama ini akhirnya juga kembali mengusik krisis integritas di dunia pendidikan.

Untuk mengupas masalah ini, Koran Jakarta mewawancarai Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti. Berikut petikannya:

Apakah betul, Dwi Hartanto salah satu peserta Visiting World Class 2016 lalu?

Ya betul, Dwi bagian dari Visiting World Class Professor tahun 2016. Saat itu, yang bersangkutan mengaku assistant professor di TU Delft Belanda dan siap berkolaborasi dengan akademisi dalam negeri.

Bahkan, bila merujuk ke berbagai pemberitaan di media massa sebelum penyelenggaraan acara Visiting World Class Professor tahun lalu, saudara Dwi sudah disorot atas prestasinya.

Program apakah Visiting World Class Professor itu?

Visiting World Class merupakan salah satu program yang digagas oleh Ditjen SDID Kemristekdikti, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, yakni dengan menggandeng para diaspora Indonesia.

Program ini selain bertujuan menguatkan riset inovasi dan pengembangan keilmuan, juga menjadi upaya pemerintah membangun jembatan kolaborasi antara ilmuwan Indonesia di luar negeri dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri.

Bagaimana proses seleksinya sehingga Dwi bisa masuk menjadi peserta?

Screening awalnya kita terima masukan dari yang bersangkutan, berupa curriculum vitae (CV), dan data informasi lainnya. Ia juga memiliki banyak data media massa yang mampu mengonfirmasi hal tersebut.

Diperkuat dengan pernyataan Dwi melalui surat elektronik bahwa dia merupakan assistant professor yang tengah dipersiapkan dan diproyeksikan menjadi profesor penuh di TU Delft, di Belanda.

Respons Anda sebagai akademisi terkait kebohongan akademis yang dilakukan Dwi?

Tentu saja sangat disayangkan. Saat ini, Dwi melakukan sebuah kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan atau akademisi. Kebohongan akademis tidak bisa diterima, apalagi kebohongan akademis di publik.

Sikap Kemenristekdikti terkait pelanggaran etika akademisi ini seperti apa?

Saya berharap, ke depan Dwi mampu memperbaiki diri dan kembali mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, serta memperbaiki dan menjaga integritasnya. Kami juga mengimbau para ilmuwan Indonesia di luar negeri untuk membantu Dwi memperbaiki dirinya.

Janganlah kita kemudian menghakimi, tetapi kita arahkan dan berikan kesempatan. Jalan karier Dwi masih panjang, mari kita tegur, kita ingatkan, dan kita bantu ke arah yang baik.

Bagaimana kelanjutan program VWCP ke depannya?

Kegiatan Visiting World Class Professor 2016 tetap merupakan acara yang berlangsung secara baik dan bermanfaat bagi ilmuwan diaspora serta akademisi dalam negeri.

Peserta lainnya adalah mereka yang memiliki dedikasi dan integritas yang baik dalam dunia ilmu pengetahuan. Bagi kami, Dwi Hartanto pun sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang.

Kasus Dwi Hartanto ini menjadi bahan evaluasi Kemenristekdikti dalam menyelenggarakan program serupa di kemudian hari. Kasus saudara Dwi ini menjadi pembelajaran bagi kami agar ke depannya, program serupa dapat berjalan dengan lebih baik lagi.

Kasus ini kembali menyorot krisis integritas yang terjadi di dunia pendidikan kita, tanggapan Anda?

Persoalan krisis integritas akademisi ini perlu segera dicarikan solusinya. Ini tantangan, permasalahan akademis kita ini di dalamnya termasuk integritas, bahkan kunci pembangunannya adalah integritas.

Beberapa bulan belakangan ini pun bisa kita dapati contoh atau praktik di perguruan tinggi yang tidak sama sekali mengindahkan integritas. Ini persoalan besar. Kita selalu ingin mencapai pendidikan tinggi berkualitas dunia,

namun nyatanya kita masih sibuk dengan tindak-tanduk akademisi yang jauh dari integritas. citra larasati/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment