Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

“Hoax” Kelas Cirit Ayam

“Hoax” Kelas Cirit Ayam

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Tragedi jatuhnya peswat Lion Air, penerbangan JT 610, rute Jakarta–Pangkalpinang, menabrak kesadaran kita semua tentang banyak hal, termasuk nasib.

Kecelakaan yang tak menyisakan penumpang dan kru ini menggumpalkan kesedihan yang menyesakkan. Bukan hanya bagi para korban, juga bukan bagi keluarga dekat atau jauh, bukan juga sekadar teman sekerja atau kerabat,

melainkan mereka yang masih bisa berempati, masih ikut berduka atas sesama. Berita dan harapan berkembang : u : semoga ada yang terselamatkan. Semoga ada mukjizat, ada keelokan.

Serentak dengan itu muncul kebersamaan untuk meringankan penderitaan, muncul persaudaraan, memunculkan pendoa bersama. Namun ada juga nyinyir, yang memberitakan kebohongan. Hoax itu tertulis, kira-kira sebagai berikuit:

“Kabar dari temen saya di Halim, Lion Air, sudah mendarat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Alhamdulillah.” Tulisan ini seorang yang memakai akun @AkunTofa, pemiliknya dikenal juga nama Mustofa Nahra.

Bukan sembarang nama, karena namanya juga menjadi calon wakil rakyat, yang akan berkantor di Senayan. Mustofa bukan sekali mencuitkan hal yang hoax dan ganjil. Juga bukan sekali ini meralat kembali, atau menghapus cuitannya.

Ganjil dan menyakitkan, sampai-sampai saya tak bisa menerka apa maksud dan tujuannya. Di saat bencana, di saat musibah, di saat ada korban manusia, kok tega-teganya membuat hoax.

Yang kalaupun nanti ditanya kenapa begitu, gaya ngeles, cara menolak tanggung jawab cukup dengan : “Lho itu kan kata teman saya. Saya hanya meneruskan. Lagi pula memang ada kan pesawat Lion yang mendarat di Halim dengan selamat.”

Cara mengelak tanggung jawab tanpa merasa bersalah, seperti halnya dengan menghapus cuitannya—yang tak ada artinya karena sempat sudah 241 like, 64 meretweet.

Jejak digital tak bisa dielakkan, andai karya hoax pun dipersoalkan penegak hukum. Yang mengherankan kenapa hoax semacam itu. Hoax jenis yang seumur cirit ayam. Panas sesaat, lalu lenyap. Tinggal bau busuknya, tinggal yang menjijikkan.

Menggelikan mana kala berbuat kebohongan hanya berusia beberapa saat—atau jam saja. Sama seperti bantahan gratis melewati jembatan Suramadu. Muncul cuitan @ jokoedy 6, yang menunjukkan karcis Tol Suramadu.

Lengkap dengan tanggal dan jam, yang justru menunjukkan kesalahan. Tiket tol itu bertanggal pagi, sementara gratisan berlaku sore. Lalu, kenapa mereka ngawur itu merasa melakukan tanpa malu-malu.

Umur kebohongannya hanya akan menampar balik muka sendiri. Mustofa segera menghapus cuitannya. Namun, apakah itu membuat pelakunya malu hati, membuat hina, atau malu. Mungkin iya, mungkin tidak.

Mungkin ada skenario besar lain yang pernah muncul ketika kasus kebohongan Ratna Sarumpaet. Dalam pengertian ini, kalau kabar Ratna Sarumpaet “dikeroyok preman” sempat beredar luas, dan menjadi ledakan demontrasi, kerusuhan, dan…. Segalanya bisa terjadi.

Termasuk kemungkinan kerusuhan yang berkepanjangan. Dan itu bisa berarti malapetaka. Begitulah hoax bekerja, dalam sekejap bisa mengubah keadaan. Sekejap inilah yang mungkin menentukan.

Karena sekejap yang sangat pendek waktunya— sepertti kisah pesawat terbang jatuh atau mendarat atau selamat, tarif tol yang dibantah karena beda waktu— tak sempat berkembang.

Itu yang saya istilahkan dengan durasi waktu cirit ayam. Ketika itu terjadi, yang tersebar hanya bau busuknya. Itu saja sudah mengganggu dan menjijikkan.

Dan mengganggu. Maka, barangkali yang cuitan hoax model “tragedi Lion”, atau “kartu tol”, diselesaikan dalam kepastian hukum. Dengan begitu ke depan, lebih tersaring lagi. Ada kepastian hukum, dan sejak awal yang merugikan ditiadakan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment