Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Plt Kepala Badan Geologi, Rida Mulyana, tentang Perkembangan Aktivitas Gunung Agung

“Gejala Gunung Agung Akan Meletus Cukup Kuat”

“Gejala Gunung Agung Akan Meletus Cukup Kuat”

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Hingga Rabu (11/10), status Gunung Agung Provinsi Bali masih merah atau berstatus Awas. Status Awas ini sudah ditetapkan sejak 22 September lalu. Karena tidak ada tanda-tanda penurunan aktivitas, statusnya masih belum berubah.

Berikut wawancara dengan Plt Kepala Badan Geologi, Rida Mulyana, terkait kondisi terkini Gunung Agung di Kantor Badan Geologi, kemarin.

Status Gunung Agung sampai hari ini bagaimana?

Masih berstatus awas. Aktivitas kegempaan Gunung Agung (3.142 m dpl) masih tetap tinggi dan fluktuatif pasca-dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunung api terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 50–100 m di atas puncak. 11 Oktober 2017 pagi, terekam 40 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 117 kali gempa vulkanik dalam (VA).

Kondisi fisik lainnya yang teramati bagaimana?

Itu berdasarkan data, dan memang statusnya awas, masih tetap. Di sisi lain juga pengamatan kami muka gunung itu sudah terlihat menggembung. Artinya, ada dorongan kuat magma dari dalam gunung. Ini adalah tandatanda gunung akan meletus. Soal kapan waktunya, ya belum ada yang tahu, tapi ini kewaspadaan tinggi tetap dilakukan. Selain itu ada lubang-lubang baru yang mengeluarkan asap dan suara mendesis disertai gemuruh yang juga sudah sangat kencang.

Artinya masyarakat belum diperbolehkan mendekati?

Iya. Jarak amannya, ya 12 kilometer. Kalau dampak jika meletus ini sangat luas. Ada abunya yang akan terbawa awan. Abunya bahkan bisa saja menutupi Jawa, bukan hanya Bali. Bisa ke sana kemari. Ingat dulu, Tambora meletus kan luas jangkauannya. Napoleon kalah perang juga karena Tambora kan.

Tetapi, kemarin ada turis Prancis yang masuk, bahkan sempat buat video?

Kalau turis yang bikin video kita semua tahu. Tapi untuk diketahui, kami sudah mengeluarkan imbauan agar tidak naik dengan jarak maksimal 12 kilometer. Kita imbau sebab sudah banyak yang bocor, suara desisnya sudah kencang sekali. Kalau statusnya awas, ya harus tidak boleh masuk. Harus dipatuhi. Masyarakat di sekitar dan pendaki atau wisatawan agar tidak berada atau tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apa pun di zona perkiraan bahaya itu.

Kabarnya ada menteri yang juga naik gunung?

Kalau ada menteri atau pejabat yang naik belum ada laporan.

Memasuki musim penghujan, antisipasi ke depan?

Indonesia saat ini sudah memasuki musim penghujan. Kewaspadaan bencana alam seperti banjir dan longosor harus sedikit dinaikan. Untuk diketahui, selama Januari hingga Oktober 2017, Badan Geologi mencatat telah terjadi bencana longsor sebanyak 1887 kejadian. Kami sudah membuat peta rawan bencana gerakan tanah dan sudah memberitahukannya ke pada Gubernur dan kepala BPBD seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan.

Wilayah mana yang paling rawan bencana longsor?

Semua wilayah memiliki daerah rawan. Melihat data yang ada, sampai Oktober ini Jabar menjadi daerah terbanyak peristiwa pergeseran tanah yang menyebabkan longsor, sebanyak 154 kejadian dengan korban jiwa sebanyak 41 orang. Kalau di Pulau Jawa, Jabar daerah paling rawan, disusul Jawa Timur.

Apa yang harus dilakukan?

Untuk antisipasi, tentunya sebelum membuat tata ruang dan wilayah, pemerintah harus mengacu pada peta Badan Geologi terkait daerah rawan gerakan tanah, peta bisa diminta, gratis, tujuannya untuk keselamatan masyarakat.

Sementara dengan kondisi saat ini, peningkatan kewaspadaan harus dilakukan. Sehingga kami mengundang pada kepala BPBD seluruh Indonesia untuk menyosialisasikan kerawanan bencana gerakan tanah ini. Kami setiap bulan selalu memperbaharui data. Silakan unduh aplikasi MAGMA Indonesia di Play Store untuk melihat peta rawan bencana dan lainnya.

 

teguh raharjo/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment